Oleh: Candra Aritonang
Pertumbuhan, depot air minum dewasa ini sangatlah pesat. Berbagai alasan menjadikan bisnis air ini selalu naik dan tetap ada. Mulai dari kebutuhan air oleh manusia yang semakin banyak, buruknya kualitas air minum yang di suguhkan oleh PDAM, serta alasan lebih praktis dan cepat saji. Air yang digunakan oleh pemilik depot juga beragam. Ada dari air tanah da nada dari air pegunungan.
Untuk memperoleh air pegunungan, pelaku bisnis depot air minum ini akan mengambil air dari Sibolangit. Jika kita (penulis dan pembaca) melintasi jalan ke arah Berastagi, di sana akan banyak mobil jenis tangki yang parkir dan melakukan pengisian air.
Menurut pantauan penulis, kegiatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Sekilas jika diperhatikan, air akan dimasukkan ke mobil tangki dengan pipa yang “katanya” airnya langsung dari pegunungan. Jika diperhatikan dengan teliti, air tersebut hanya akan disaring dengan kain dan penyedia air juga perlu dipertanyakan. Mengapa tidak, penyedia air pada umumnya hanya sekedar rumah kecil dan sepertinya tidak sesuai dengan standard operation untuk jadi penyedia air.
Sumber Kehidupan Medan
Sibolangit dan Berastagi merupakan daerah resapan untuk Kotamadya Medan, daerah tersebut tepatnya Daerah Medan Area yang mana terdapatnya cekungan yang menyediakan kebutuhan air untuk masyarakat Kota Medan (yang menggunakan sumur gali atau air tanah lapisan pertama) dan sebagian besar juga digunakan oleh pengusaha hotel dan industri dengan cara pengeboran (air tanah dalam atau air tanah lapisan ke dua atau ke tiga).
Menurut data Dinas Pertambangan dan Energi, pada tahun 1930, masih dijumpainya air artesis di daerah Belawan dengan indeks +5 meter dari permukaan tanah dan pada tahun 2004-2005 indeks tersebut menurun sampai -17 dalam artian -12 dari permukaan tanah. Dengan pemakai air cadangan/air tanah di Kotamadya Medan 40% per tahun, dengan perhitungan bahwa cadangan Air Tanah yang ada dengan prediksi daya serapan tanpa ada bangunan (tutupan lahan alami) sebesar 180.000.000 m3/tahun dengan demikian pemakaian 40% adalah 80.000.000 m3/tahun.
Sebagai penyedia air untuk lebih dari dua juta jiwa penduduk kota Medan, seharusnya masyarakat kota Medan menjaga debit air supaya tetap stabil. Stabilnya ketersediaan air tidak akan mengkhawatirkan banyak pihak. Kekhawatiran yang dimaksud bisa berupa kekhawatiran di antara masyarakat dan pihak pengelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tentang turunnya debit air di beberapa sumber air baku pada daerah tangkapan air (watercatchment area) yang dikelola PDAM yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah seperti tidak mencukupinya suplay air kepada konsumen dan turunnya kuantitas dan kualitas air pada saat musim kemarau atau non PDAM yang diusahakan sendiri oleh masyarakat (individu).
Secara singkat, sibolangit telah memberi kehidupan bagi masyarakat kota medan. Baik itu melalui depot air minum maupun melalui air tanah yang diambil dengan sumur bor. Namun untuk depot, air minum, tentunya harus banyak pertimbangan lagi.
Antisipasi Longsor
Bebeberapa bulan lalu kita banyak melihat berita longsor di Banjar Negara. Tidak tertutup kemungkinan longsor tesebut diakibatkan oleh berkurangnya air di bawah permukaan tanah. Ketika kesetimbangan neraca air suatu daerah terganggu, maka terjadi pergeseran pada siklus hidrologi yang terdapat di daerah tersebut. Pergeseran tersebut dapat terjadi dalam bentuk peningkatan dan pengurangan pada salah satu subsistemnya. Air tanah merupakan subsitem dari siklus hidrologi yang terdapat di bawah permukaan bumi. Terganggunya subsistem air tanah di suatu daerah akan mengakibatkan menurunnya kuantitas dan kualitas air tanah di daerah tersebut, yang pada akhirnya akan mengakibatkan penurunan kualitas dam kesejahteraan hidup masyarakatnya. Pengambilan airtanah secara berlebihan mengakibatkan menurunnya permukaan tanah. Penurunan permukaan air tanah akan mengakibatkan pengurangan gaya angkat tanah sehingga terjadi peningkatan tegangan efektif tanah. Akibat meningkatnya tengangan efektif ini akan menyebabkan penyusutan butiran tanah kembali dan penurunan tanah . Disamping hal tersebut kemungkinan terjadi adanya erosi.
Pengambilan air yang berlebihan ini bisa jadi akan menyebabkan banjir. Logikanya saja, jika air dari sibolangit diambil dan langsung ke Medan kota, maka bagaimana kondisi air di daerah antara Medan dan Sibolangit. Tentunya kondisi tanahnya akan rapuh dan kopong. Akibatnya tanah bisa longsor.
Masalah Higenis
Setiap pelaku bisnis usaha depot air minum selalu percaya kalau air pegunungan intu bersih. Demikian juga dengan saya, saya juga percaya kalau air pegunungan itu bersih namun pengelolaannya yang kurang. Seperti saya sebutkan sebelumnya jika kita lihat dari prosesnya, jika dilihat secara lebih teliti lagi saluran pipa dari sumber air menuju mobil tanki pengangkut air itu sepertinya tidak dijaga kebersihannya, dibeberapa titik, untuk menyalurkan sumber air ke mobil tanki ada yang menggunakan saringan dari bahan kain dan tidak ada kemungkinan kain lama diganti.
Setelah air tersebut dimasukan kedalam mobil tanki, air tersebut akan dibawa ketempat penjualan air isi ulang, kemudian air tersebut disalurkan lagi kedalam suatu tempat penampungan, sebelum dijual, air yang telah dimasukan ke dalam penampungan itu kemudian disaring lagi dengan menggunakan mesin penyaring, hal ini dilakukan untuk mensterilkan air dari berbagai jenis bakteri. Namun itu saja tidak cukup.
Selain itu, sungguh disayangkan jika ada pengiriman air bersih yang seharusnya dari sumber air pengunungan tapi justru mengambil air dari perusahaan air minum. Kalau ditanya mengapa begitu alasan mereka cukup klasik guna menghemat biaya perjalanan dan waktu.
Solusi
Untuk mengatasi permasalahan tentang jaminan pengambilan air pegunungan, para pengusaha depot harus jeli dan tertib administrasi. Jeli di sini pengusaha depot air mampu membedakan air bersih dan air dari perusahaan air minum.
Bilamana air berasal dari sumber pegunungan pastilah tangki akan terasa dingin dan mengembun, jika hal ini tidak terdeteksi ada jalan yang lain yakni apakah air berbau klorin atau tidak, seandainya berbau klorin pastilah bukan air bersih yang di ambil dari sumber air pegunungan. Pengusaha depot air minum harus tertib administrasi diantaranya tentang jaminan pasokan pengambilan air bersih dari pegunungan dari pihak pengusaha pengiriman air baku air minum.
Untuk masalah di Sibolangit, diperlukan kerja sama antara Pemprop Sumut, Pemkab Deli Serdang dan Pemko Medan. Ketiga pemerintah ini harus mengontrol pendistribusian, penyediaan serta pengambilan air yang tiap hari semakin menjamur tanpa merusak dan menyebabkan adanya longsor kelak. Keterlibatan masyarakat serta kesadarannya juga diperlukan dalam mengatasi semuanya sebelum jadi masalah.***
Penulis adalah alumni FIK Unimed, PMKRI dan aktif di KDM st. Martinus Unimed serta anggota dari Teater Z.











