Medan, (Analisa). Rudi Wanto (37), seorang guru SD Metodist 3 Medan merasa sangat bersyukur. Dia kini merasa hidup lebih baik setelah menjalani operasi tumor otak di RS Siloam Jakarta.
Padahal, tumor tersebut sebelumnya sangat mengganggu aktivitas kerjanya sehari-hari terutama sebagai guru kelas V SD di Jalan Perintis Kemerdekaan itu.
Ditemui saat santap malam bersama para Rotarian di Restoran Ria Medan, Jumat (21/8), Rudi tak kuasa menahan haru kebahagiaan. “Saya menderita tumor jinak. Kondisi ini berefek menghalangi saraf mata. Kondisi terparah sejak enam bulan terakhir,” sebut suami Yunita (32) yang juga guru TK Metodist 2 Medan ini.
Sebelumnya, dia sama sekali tidak menduga akan menderita tumor otak. Dia merasa keluhan pandangan merupakan hal biasa seperti kebanyakan orang yang mengalami minus.
“Belakangan, selain sering sakit kepala, dan demam, pandangan mata saya juga tidak bisa 360 derajat. Selain minus, saya hanya bisa melihat lurus ke depan. Tentu ini sangat mengganggu saya sebagai seorang guru. Kalau naik sepeda motor, badan terasa oyong,” ungkapnya.
Karena kondisi yang kian parah, akhirnya dia menemui dr Sujan di RS Columbia Asia Medan. Hasil CT Scan, ternyata ada tumor jinak bersarang di kepalanya.
Mendengar hal itu, dia dan istrinya sempat terkejut. Karena selain merasa penyakit itu bersarang di otak, dan kalaupun operasi tentu memakan biaya yang tidak sedikit.
Sementara, kehidupan ekonomi dia dan istrinya yang sudah berumah tangga selama tujuh tahun ini masih belum stabil. Sampai sekarang mereka masih mengontrak rumah di Sei Kera Gang Pribadi Medan.
Tidak Putus Asa
Begitupun, Ruti mengaku tidak putus asa. Dia harus tetap bertahan dan semangat untuk sembuh. Akhirnya, istrinya bercerita kepada temannya hingga terdengar ke telinga Past President Rotary Club Medan Deli, Kentjana Salim alias Bie Bie.
Kasus yang dialami Rudi ini ditanggapi. Tim Rotary Club Medan Deli berupaya mencari solusi dengan mengirimkan pasien ke RS Siloam Jakarta. Dia diantar Rtn Effendi Syafii.
Di Jakarta, dia disambut beberapa Rotarian Timan, Rtn David dan Rtn Amri. Tim Rotarian Jakarta juga berkoordinasi dengan seorang ahli bedah syaraf, Prof Dr Eka di RS Siloam.
Operasi dilakukan tanggal 6 Agustus pukul 11.30 WIB oleh Prof Eka dan tim selama lebih kurang dua jam. Setelah itu, Rudi dimasukkan ke ruang rawat inap.
“Setelah operasi, saya melihat jelas flashback seluruh kejadian masa kecil. Bagaimana saya tinggal bersama nenek dan masa kecil yang sangat bahagia. Bahkan waktu tidur, mata saya terus bergerak-gerak. Kondisi ini terjadi dua hari,” ungkapnya.
360 Derajat
Kemudian, tanggal 9 Agustus lalu, dia sudah bisa keluar. Hasilnya sangat memuaskan. Dia sudah bisa melihat 360 derajat. Tidak sakit kepala lagi. Bahkan sudah bisa naik sepeda motor. “Ini benar-benar kuasa Tuhan. Terimakasih Tuhan Yesus. Terimakasih kepada Pak Bie Bie dan para Rotarian dan donatur yang telah membantu. Ini sangat membahagiakan saya dan istri,” sebutnya.
Kini, setelah sembuh dari tumor otak, dia berharap akan bisa mendapat keturunan. Soalnya, selama tujuh tahun menikah, dia belum mendapat momongan. “Kata dokter, ada indikasi kuat pengaruh dari tumor otak untuk keberhasilan mendapat anak,” tambahnya.
PP Kentjana Salim didampingi Rtn Alfian Salim turut merasa senang dengan keberhasilan operasi tumor otak yang dijalani Rudi Wanto. “Kita ucapkan terimakasih kepada para donatur. Terimakasih juga kepada para Rotarian di Jakarta yang aktif membantu. Semua ini berkat kerja bersama,” tambah Bie Bie.
District Governor Rotary G Hidayat Tjokrodjojo juga turut merasakan kebahagiaan tersebut. Menurutnya, dalam kerjanya organisasi sosial itu memegang prinsip FIDLS yakni, fellowship, integrity, diversity, leadership dan services.
“Kita bekerja lintas suku, agama, dan golongan. Kita bekerja ikhlas. Dengan satu alasan untuk kemanusiaan. Cukup menyebut Rotary, kita akan mendapat dukungan dan bantuan dari Rotarian di daerah lain walaupun tidak saling kenal. Termasuk Prof Eka itu adalah seorang rotarian,” sebut District Governor yang mewilayahi Rotary Club Jogya, Banyumas, Bandung, Cirebon, Jakarta, Batam, Palembang, Lampung dan Medan ini. (nai)











