Komunitas Langit Medan Kenalkan Astronomi

Oleh: Syafitri Tambunan

ASTRONOMI dan ilmu falak bagi sebagian orang merupakan hal yang  rumit atau boleh jadi membosankan. Apa sih menariknya sekadar menghitung bintang atau ya cuma menganalisis cuaca di langit gelap?

Bagi Komunitas Langit Medan, hal tersebut hanya secuil dari ‘keseksian’ astronomi dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Hanya saja, belum banyak yang memahami penting dan mena­riknya astronomi ini bagi manusia. Karena itu, jika masyarakat ingin tahu lebih banyak, maka perlu membawa astronomi itu sendiri ke dalam kehi­dupan.

Komunitas yang akrab disebut  MSC (Medan Sky Community) ini punya kalimat kunci, "Bringing Astronomy to the People" (memasyarakatkan astrono­mi kepada orang banyak). Termasuk bagi kalangan pelajar dan juga masya­rakat luas.

Berdirinya Komunitas Langit Medan merupakan inisiatif 10 anak muda yang semuanya merupakan Tim Obser­vatorium Ilmu Falak UMSU (OIF UMSU). “Tapi kita melihat anak muda kurang meminati bidang astronomi, terutama di Kota Medan. Hal ini berbeda sekali dengan anak-anak muda di Pulau Jawa. Di sana, banyak dari mereka yang hobi dan minat astronomi, walaupun masih amatir ( pemula). Hampir di setiap sekolah SMP/SMA juga mem­punyai klub astronomi sebagai ekstra­kulikuler,” ucap Ketua Komunitas Langit Medan, Syahnandar Purba.

Kondisi inilah yang mendorong Komunitas Langit Medan untuk berbuat dan menyosialisasikan hal tersebut. Meski namanya, Komunitas Langit Medan, tapi di inernal sesama anggota, mereka sering menyebutnya MSC (Medan Sky Community) yang artinya juga sama.

Kini MSC memiliki 30 orang anggota yang terdaftar, semuanya mahasiswa-mahasiswi berbagai universitas negeri dan swasta yang ada di  Medan. “Kita memang membatasi anggota inti, agar dapat terus berjalan kondusif, efisien dan aktif semuanya,” sebutnya.

Selain anggota inti, ada juga simpa­tisan yang tidak terikat. Para simpatisan tidak termasuk dalam anggta inti, namun mereka juga ikut setiap ada gelaran kegiatan. “Sifatnya tidak terikat. Saat ini jumlahnya sekitar 20-an orang,” ungkap Purba.

Sementara, OIF UMSU, hanya sebatas dukungan dalam komunitas. “Kalau di bilang sering berbarengan dengan OIF UMSU, sih tidak. Karena OIF UMSU milik lembaga kampus dan semua kegiatan didukung universitas itu. Sedangkan Komunitas Langit Medan bersifat independen dan tidak terikat pada sebuah instansi maupun kampus manapun.

Kegiatan rutin komunitas ini dila­kukan secara kreatif sesuai pan­dangan masing-masing. “Kita ada diskusi bulanan di Taman Air Mancur MMTC Willem Iskander, observasi benda-benda langit, observasi momen astronomi (misalnya gerhana matahari, hujan meteor, dan lainnya). Juga ada sosia­lisasi astronomi dan manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari kepada pelajar dan masyarakat” ujarnya.

Diskusi dan observasi, lanjutnya, biasanya dilakukan sebulan sekali. Sedangkan yang lainnya dilakukan setiap dua bulan sekali. Selain kegiatan rutin, mereka juga melakukan pengab­dian sosial ke masyarakat.

“Pengabdian sosial yang dilakukan lebih kepada pengukuran arah kiblat bagi masjid, itu pun jika ada pengurus masjid yang meminta tolong,” im­buhnya. Ada juga beberapa lomba yang digelar, seperti belum lama ini, yakni lomba dan neropong bersama dengan masyarakat  ketika bulan purnama dan langit tidak mendung.

Pada gerhana matahari beberapa waku lalu, mereka juga ikut memantau. “Ya kami ikut melihat dan meneliti,  kami jaga yang bertugas di teropong. Saat itu, kami masih berstatus tim OIF”.

Sesuai  moto yang menjadi pegangan anggota komunitas, mereka berharap dapat terus memasyarakatkan astronomi kepada masyarakat luas.

()

Baca Juga

Rekomendasi