Oleh: Gigih Suroso
Tingginya jumlah penduduk, dan bervariannya problematika hidup baik sosial dan ekonomi ditambah dengan jauhnya manusia dari nilai-nilai keagamaan, menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat gangguan jiwa yang terjadi pada seseorang. Dari data kesehatan dasar Depertemen Kesehatan tahun 2014 terdapat 1 juta penderita gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di Indonesia. Sebagian besar gangguan jiwa disebabkan oleh ketidak mampuan masyarakat dalam beradaptasi denga lingkungannya dan bertahan menghadapi tekanan hidup yang semkain berat. Banyak dari kita terlalu mengagungkan kehidupan dunia yang sementara. “ Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya” (QS. Ankabut 64).
Dalam, menjalani hidup di dunia yang semu, kenikmatannya adalah fatamorgana. Tidak pantas jika pada yang sifatnya sementara kita terlalu mendambanya. Apalagi sampai menjadikan dunia sebagai Tuhan, demi dunia, Allah dan Islam ditinggalkan. Banyak dari kita mencari kesenangan dunia lewat harta, dengan nafsunya dan mengorbankan keimanan yang ada. Tanpa berfikir panjang, mengerjakan banyak kemaksiatan untuk sebuah kenikmatan. Kaki diatas, tangan dibawah, semua dilakukan agar hidup dunia bisa bahagia.
Maka tidak heran, jika hari ini banyak manusia yang kehilangan akal, melakukan tindakan kriminal untuk menghilangkan lapar. Perlahan manusia kehilangan moral dan jauh dari tatanan syariat Islam. Kehidupan yang serba sulit, tidak boleh kita sikapi dengan hati sempit. Letakkan dunia ini dalam genggaman tangan, dan akhirat di hati, dengan begitu semua akan mudah di atasi. Maka, dari itu penting sekali kita mengingat mati sebagai pengawas agar saat hati kita condong mengejar dunia, kita bisa kembali kepada Allah yang Esa.
Mati Sebagai Pengingat
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati,”(QS.Ali Imran 185). Ini adalah firman Allah yang termaktub dalam Alquran, sebuah peringatan, pengingat dan pemberintahuan bagi seluruh manusia hidup di dunia tidak akan lama. Sebuah kepastian yaitu, mati akan datang, tidak memandang tua atau muda, buruk atau tampan rupanya dan miskin atau kaya. Manusia hanya tinggal menunggu giliran. Seharusnya, dengan adanya pengumuman dari Allah bahwa setiap bernyawa akan mati, manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk dapat berfikir cerdas, untuk sesuatu yang pasti datang dan akan dihadapi meskilah dipersiapkan matang-matang, agar saat tiba waktunya, tidak ada lagi penyesalan.
Haus akan harta dan lapar akan tahta, merupakan bagian dari dunia yang akan menyilaukan mata untuk melihat kehidupan akhirat yang abadi. Manusia berlomba-lomba bekerja, pergi pagi pulang malam, menguras keringat dan rela tidak tidur, sayangnya semua dikorbankan untuk mencapai dunia. Barang kali manusia memang punya motivasi untuk meraih kenikmatan dunia, bisa dari keluarga, istri atau anak, tidak peduli seberapa banyak tantangan, ditempuh untuk dilewatkan, lalu bagaimana dengan akhirat?,manusia kehilangan motivasi untuk mengejarnya, atau lupa ada kematian yang akan memisahkannya pada kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.“ Sesungguhnya engkau akan mati, dan sesungguhnya mereka semua akan mati pula” ( Az-Zumar 30)
Manusia diciptakan sebagai makhluk yang tidak luput dari berkeluh kesah atas segala permasalahan hidup dan cenderung putus asa, itu mengapa manusia membutuhkan nasehat sebagai asupan energi agar sadar bahwa ada kehidupan akhirat yang meski disiapkan, tanpa harus mengabaikan kehidupan di dunia. Nasehat yang paling ampuh dan baik untuk menumbuhkan semangat bekerja untuk akhirat (ibadah) adalah dengan mengingat mati, dengan begitu manusia akan merekam, membayangkan bagaimana jika kematian datang tanpa syarat muda atau tua, bagaimana menyakitkannya sakaratul maut, gelapnya alam kubur dan kejamnya siksa di neraka.
Mati Sebagai Nasehat
Adalah mengingat mati, sebuah nasehat yang senantiasa membuat manusia kembali semangat dan termotivasi untuk beramal dan menghimpun banyak bekal untuk kehidupan akhirat. Saat kita putus asa untuk hidup, malas saat ibadah dan sibuk bekerja, ingatlah mati sebab itu adalah nasehat terbaik bagi diri sendiri.“ Rasulullah SAW bersabda: cukuplah kematian sebagai nasehat. Sedangkan Ka’b berkata: barang siapa mengenal kematian, niscaya menjadi remehlah segala musibah dan kegundahan dunia,” Hadits ini menyadarkan cara pandang kita bahwa bentuk kesulitan dunia bukan penderitaan abadi, ingat saja mati, maka akan hilang kegundahan hati, sebab sadar ada akhirat negeri abadi.
Kematian akan mengingatkan manusia bahwa hidup hanya sementara, menegur bahwa manusia makhluk lemah, mengumumkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan kematian jika diingat akan mengingatkan bahwa dia tidak bisa dihindarkan, melainkan dihadapi dan dipersiapkan. Tidak ada yang tahu kematian kapan datang, dimana dan bagaimana, hikmahnya agar manusia tidak berpang ku tangan, melainkan tetap mawas diri, enggan berbuat maksiat, karena bisa saja kematian datang saat sedang bermaksiat, tanpa ada waktu dan kesempayan untuk bertaubat. “ ... dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal,” ( QS. Luqman 34)
Tidak perlu jauh-jauh datang ke motivator untuk meminta nasehat, karena diri kita masing-masing bisa melakukannya Manusia akan menjadi cerdas saat dia mengingat kematian, dalam makna lain menasehati dirinya agar tidak jatuh dalam jurang kenistaan dunia. “ Ibnu Umar Ra, pernah berkata: aku pernah menghadap Rasululla SAW, sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshar berdiri seraya berkata, Ya Rasulullah siapakah manusia yang paling cerdas?. Beliau menjawab: mereka adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat. “ (HR. At-Thabrani)
Andai esok Izra’il memanggil dan mencambut nyawa kita, masih mampukah kita menunda ibadah?. Andai hari ini masa hidup kita di dunia berakhir, maka sudah banyak kah bekal yang kita siapkan untuk akhirat?. Semoga dengan mengingat mati, hati kita kembali subur, hidup kita di dunia dan akhirat menjadi makmur. Begitulah pentingnya mengingatnya mati, agar diri menerima nasehat sepanjang hari, untuk terus melakukan ibadah dan kebaikan sampai mati. “ Jika kamu di sore hari, maka janganlah kamu tunggu datangnya pagi, dan jika kamu di pagi hari, maka janganlah kamu tungguh datangnya sore. Manfaatkanlah waktu sehatmu untuk menghadapi masa sakitmu, dan manfaatkanlah masa hidupmu untuk menghadapi masa kematianmu” (HR.. Bukhari)
Gigih Suroso, Mahasiswa FEBI UIN SU











