Etika Makan dalam Budaya Tiongkok

ETIKA merupakan sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. 

Meskipun seseorang mahir menggunakan sumpit layaknya Edward Scissorhands dengan guntingnya bukan berarti Anda menjadi orang Tiongkok sesungguhnya, tapi Anda akan tahu etika makan dalam budaya Tiongkok.

Sebab perlu diketahui bahwa Chinese dining etiquette bukan lahir dari ketangkasan tangan, melainkan dibangun dari tradisi dan etika.

Lima etika makan yang perlu diketahui dalam budaya Tiongkok.

Manfaat mengetahui etika makan dalam budaya Tiongkok ini, Anda akan merasa aman dan nyaman ketika berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa yang memegang teguh budaya ini. Berikut ini 5 etika makan dalam budaya Tionghoa.

1. Hindari menancapkan sumpit secara vertikal pada semangkuk nasi

Walaupun mungkin hal ini Anda lakukan dengan tujuan agar menghemat waktu saat jeda makan dengan minum teh, tapi meletakkan sumpit dalam posisi ini sangat tidak sopan.

Menusukkan sumpit secara vertikal pada semangkuk nasi merupakan pertanda kematian. Anda pernah melihat dupa yang ditancapkan pada makam- makam keluarga keturunan Tionghoa? Nah seperti itulah mereka melihatnya.

Tapi sekarang di beberapa restoran besar terdapat tempat sumpit, Anda bisa menempatkannya di situ. Cara yang lebih bijaksana dan terhormat adalah meletakkan kedua sumpit berhimpitan horisontal di atas mangkuk.

2. Jangan membalikkan ikan yang sedang dimakan.

Jika hendak makan ikan ke restoran Tionghoa, wajar bila mereka memberikan ikan yang disajikan utuh. Setelah melahap satu sisi ikan, lazimnya ikan tersebut dibalik ke sisi lainnya agar mudah dimakan. Namun sayangnya hal tersebut pantang dilakukan dalam budaya makan masyarakat Tionghoa.

Biasanya etika ini sangat dipegang teguh masyarakat di sekitar pantai atau kampung nelayan. Ikan merupakan simbol dari sebuah kapal, dengan membalik ikan, Anda telah menempatkan nelayan dalam situasi berbahaya.

Lanjutkan

Tapi jangan khawatir, Anda bisa mengakalinya ! Yakni dengan menggunakan sumpit, jepit tulang ikan di bagian ekor, kemudian angkat hingga tulang terpisah dengan daging. Jika sudah, lanjutkan menyantap “kapal” tersebut.

3. Hindari Memotong Mie.

Sebagai bagian dari tradisi Tiongkok, biasanya saat seseorang merayakan ulang tahun, dia akan mengajak teman -temannya untuk menyantap mie (birthday noodle). Dan semakin panjang mie-nya, maka akan semakin baik. Hal tersebut merupakan simbol panjang umur.

Mie yang panjang diibaratkan sebagai jalan hidup yang juga panjang. Itu sebabnya muncul etika makan tentang jangan memotong mie. Sebab artinya akan seperti mengakhiri hidup, sebuah pertanda yang tentu tidak ingin didengar seseorang yang sedang ulang tahun.

Untungnya, hal tersebut hanya berlaku untuk pemotongan mie menggunakan pisau atau sumpit, sedangkan dengan cara digigit masih diperbolehkan, tapi pastikan mulut tidak penuh makanan, jangan sampai seperti hamster yang sedang menyimpan makanannya di pipi.

Cara makan yang paling baik adalah dengan menghisap mie, sama seperti saat menyesap wine, itu seakan memberi tanda pada si penjamu bahwa mie-nya sangat lezat.

4. Jangan membiarkan cangkir teh dalam keadaan kering.

Cangkir teh tidak boleh kering. Tuan rumah atau teman makan malam Anda akan selalu menuangkan teh ke dalam cangkir orang di dekatnya, kemudian yang menerima akan mengetukkan dua jarinya ke meja sebagai balasannya. Ikuti dia ! Tak lain adalah untuk menunjukkan rasa terima kasih.

Menurut legenda, dahulu ada seorang kaisar yang kerap kali menyamar menjadi warga biasa. Hal itu dia lakukan agar bisa akrab dengan rakyat kecil. Dalam penyamarannya sang kaisar ditemani seorang pelayan.

Pada suatu malam saat berada di kedai teh, kaisar tersebut menuangkan teh ke cangkir pelayan pribadinya tersebut. Secara tradisi, seharusnya pelayan itu berlutut untuk menujukkan rasa hormat, tapi bila dilakukan tentu akan membongkar penyamaran kaisar, jadi dia mengganti dengan mengetuk meja dengan dua jarinya. Dua jari untuk dua lutut.

Biasanya etika ini sangat diperhatikan masyarakat lokal daerah Guangzhou dan Hong Kong. Ya, meskipun ucapan terima kasih saja sudah cukup, namun tidak ada salahnya Anda tahu budaya ini .

5. Selalu memesan makanan dalam jumlah genap.

Ketika Anda pergi makan bersama beberapa teman, tentu inginnya semua kebagian. Aturan bakunya adalah pesan sesuai jumlah orang ditambah satu menu tambahan. Tapi jika Anda datang bersama kawan dengan jumlah genap, lalu ada satu orang yang tidak kebagian, maka dipercaya akan berakibat buruk.

Jumlah piring sajian yang ganjil melambangkan kematian.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Tiongkok, terdapat yin dan yang, ganjil diasosiasikan dengan yin. Dalam tradisinya, yin berarti dingin, yang maknanya panas, yin - yang, gelap - terang, serta mati - hidup.

Hal ini biasanya diterapkan dalam jamuan formal. Jadi bila hanya sekedar makan malam biasa bersama teman sebaiknya tak perlu risau, sebab siapa sih yang mau membatalkan acara makan hanya karena jumlah orang genap dan takut piringnya kurang.

Itulah 5 etika makan dalam budaya masyarakat Tiongkok yang agaknya perlu diketahui. (bhq/ar)

 

()

Baca Juga

Rekomendasi