Kucing pada Zaman Mesir Kuno

KUCING adalah binatang yang menggemaskan. Perilakunya yang lucu seringkali membuat o­rang ingin selalu membelai-belai dan memanjakannya. Selain itu, kucing juga merupakan binatang peliharaan yang banyak digemari orang.

Perilakunya yang unik selalu mem­buat orang menjadi penasaran. Misalnya saja kegemarannya menggosok-gosokkan bagian tubuhnya pada salah satu bagian tubuh manusia.

Atau, kegemarannya minum air di toilet. Tidak hanya di toilet saja, kucing memiliki sensitivitas ters­endiri dalam melihat tempat yang berisi banyak air. Misalnya tempat minum burung, baskom untuk mencuci piring, atau sebuah ember yang berisi ikan segar.

Siapapun dapat memberikan na­ma kepada kucing kesayangan. Orang dapat melatih kucing untuk datang jika dipanggil namanya. Caranya cukup sederhana. Panggil saja namanya sebelum memberikan makan.

Kucing akan mengasosiasikan panggilan itu dengan makanan. Suatu saat nanti jika memanggil­nya niscaya kucing tersebut akan datang.

Eksistensi kehidupan kucing ternyata sudah ada sejak zaman lampau. Sekitar 50 milyar tahun yang lalu, para ilmuwan memberikan na­ma Miacis kepada sekelompok makhluk hidup yang memiliki kecen­derungan besar sebagai nenek moyang kucing.

Kelompok Miacis ini memiliki ciri yang unik bila dibandingkan dengan ciri-ciri kucing saat ini. Nenek moyang kucing ini memiliki kaki-kaki yang pendek dengan tubuh panjang. Selain itu, ia memiliki jari-jari yang dapat digunakan untuk mencakar.

Seiring dengan perkembangan waktu, kehidupan kucing mulai selaras dengan kehidupan manusia. Kehidupan kucing dengan manusia pertama kali bermula dari negeri Mesir. Ada banyak fakta perkembangan sejarah kehidupan kucing dengan manusia ejak zaman Mesir seperti berikut ini.

Sebutan “Mau”. Jika seseo­rang menyebut “meong” untuk kucing, maka sebutan orang Mesir kuno untuk kucing adalah “mau”. Sekitar abad ke 16 SM, masyarakat Mesir kuno memiliki sebuah tempat penyimpanan biji-bijian yang bernama silo.

Banyaknya bahan makanan dan biji-bijian yang disimpan me­ng­undang segerombolan rodentia atau makhluk pengerat untuk terus menggerogoti biji-bijian dalam silo tersebut.

Keberadaan rodentia (seperti tikus, dll) ternyata mau tidak mau menarik perhatian kucing Mesir kuno. Setelah itu, peristiwa makan memakan pun terjadi. Kucing Mesir kuno gemar berburu rodentia (tikus) untuk dimakan. Hingga kini dapat diamati perilaku kucing yang gemar mengejar kucing.

Keramat

Keramat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa masyarakat Mesir ku­no benar-benar meng­keramatkan kucing. Hal ini dapat dilihat dari lu­kisan yang menggambarkan perlakuan istimewa yang diberikan masyarakat Mesir terhadap kucing. Misalnya saja gambar seorang imam yang membungkuk kepada kucing, perhatian khusus terhadap kucing dan mera­wat selayaknya dewa.

Mumi kucing. Mesir tidak hanya memumikan jenazah manusia saja. Bahkan, sekitar 300.000 mumi kucing dapat ditemukan Mesir. Masya­rakat Mesir kuno mempercayai bahwa setelah kematian akan tetap ada kehidupan. Mumi kucing ditempatkan pada kotak peti kayu dengan mu­mi yang diperban beraneka macam warna.

Stereotipe kucing vs anjing. Mung­kin orang akan merasa geli jika mendengar steorotipe bahwa kucing adalah peliharaan yang cocok untuk wanita sedangkan anjing cocok untuk pria.

Stereotipe ini bukan tanpa sebab. Dahulu, pada zaman Mesir kuno, terdapat sebuah keluarga yang memelihara kucing dan anjing. Ternyata, kucing lebih cenderung untuk istri majikannya.

Membunuh kucing adalah perbuatan kriminal. Mari mengamati ilustrasi yang menggambarkan secara umum hukuman di Mesir kuno. Bayangkan jika seseorang hidup di zaman itu dan se­cara tak sengaja membunuh seekor kucing. Seseorang yang membunuh kucing akan dieksekusi dan diberi hukuman. Untuk pembunuhan secara tidak sengaja hukuman yang diberikan adalah hukuman gantung.

Aura

Kharisma dan aura kucing. Kebanyakan masyarakat pada umumnya hingga dewasa ini masih memepercayai hal-hal yang berbau mistik, baik berupa simbol dan gambar-gambar. Tak jarang mereka menggunakannya sebagai jimat dan pelindung.

Salah satu daya tarik yang berasal dari kucing yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah utchat. Utchat disebut juga dengan “mata keramat”. Utchat adalah salah satu gaya merias mata yang stylish yang berukir serba-serbi manifestasi kucing disekelilingnya.

Interpretasi kucing dalam mimpi

Banyak interpretasi mimpi yang banyak beredar saat ini. Mi­salnya saja mungkin pernah mendengar apa arti mimpi bila suatu saat bermimpi gigi yang tanggal, tercebur kolam, dan lain-lain. Kehidupan masyarakat Mesir kuno melibatkan unsur kucing dalam menginterpretasi mimpi. Jika suatu masyarakat memimpikan kucing, maka hal itu adalah pertanda baik. Kemakuran dapat diwujudkan dan panen akan melimpah.

Kucing dan Kelentung. Lukisan diatas menunjukkan seseorang yang sedang bermain kelentung (sistrums, sejenis alat musik berbentuk oval dengan bingkai logam dan berkerincing). Sekelompok wanita biasanya melakukan tari-tarian untuk pemujaan dengan memainkan kelentung di tangan mereka. Kelentung yang digunakan berukiran unsur-unsur dan gambar-gambar kucing.

“Athena the cat”. Dewi Yunani Athena mempersonifikasikan kebijaksanaan dalam hidupnya. Ketika sebagian besar orang mengkaitkannya memiliki asosiasi yang baik dengan burung hantu, faktanya ia juga memiliki hubungan dengan kucing. Baginya ku­cing adalah makhluk yang dikeramatkan.

Ia juga sering disebut Athena Glaukopis, Athena Shining Eyed sebutan yang mengingatkan orang  akan pancaran sinar mata kucing dalam kegelapan.

Gerhana matahari dan kucing. Orang pasti bertanya-tanya, apa hubungannya antara gerhana matahari dengan kucing? Jika pada zaman modern seperti ini orang dapat memprediksi munculnya gerhana matahari dengan mudah, namun tidak bagi bangsa Mesir kuno. (ttc/ar)

()

Baca Juga

Rekomendasi