BAGI Nirwan, kobra bukanlah “lawan” yang mesti ditakuti. Hanya sebilah bambu sepanjang setengah meter, senter, serta selembar karung yang jadi senjata andalannya untuk mencari dan menangkap kobra di desanya, Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah.
Biasanya pria berusia 39 tahun tersebut mulai mencari ular selepas azan magrib dan pulang selepas isya di sepanjang sungai yang melintas di desanya. Bertahun-tahun jadi pemburu ular, Nirwan hafal betul dengan kebiasaan binatang melata itu.
Menurutnya, ular biasanya keluar dari lubang sekitar pukul 18.00 WIB dan masuk lagi ke lubang sekitar isya. “Mereka hanya keluar satu jam untuk mencari udara hangat. Kalau suhunya terlalu dingin, ular akan masuk lagi ke sarangnya,” tuturnya saat ditemui detikX di rumahnya, Rabu (20/12).
Ular-ular itu tak hanya keluar dari sarang menjelang gelap. Siang, mereka biasa beredar pukul 11.00-12.00 WIB. Nirwan hafal betul di mana letak binatang melata itu berada, yakni di sekitar sungai.
Secara geografis, Karangnangka diapit dua sungai, yaitu Sungai Banjaran di sebelah timur desa yang berbatasan dengan Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Di sisi barat desa ada Sungai Jengok, yang menjadi pembatas desa itu dengan Desa Keniten. “Kobra biasanya ditemukan di susukan, daerah pertemuan dua sungai,” terangnya.
Selain di sepanjang sungai, Nirwan memburu kobra di sawah. Waktu yang paling pas mencari kobra adalah saat padi mulai menguning. Saat itu kondisi tanah sedang kering. Bila tanah basah, kobra tidak akan keluar dari lubang. Demikian pula saat puncak musim hujan, kobra enggan meninggalkan sarang.
Di daerahnya, kata Nirwan, hanya ada dua jenis kobra. Selama malang melintang mencari kobra, dia mengaku belum pernah mendapatkan ular jenis king kobra. “Di sini adanya kobra Jawa dan kobra sawah. Kalau king kobra yang banyak di daerah Ciamis, Jawa Barat,” ujar Nirwan.
Perbedaan jenis kobra Jawa dan king kobra adalah ukuran serta warnanya. Kobra Jawa berukuran kecil dan warnanya agak kecokelatan. Sedangkan king kobra ukurannya lebih besar, panjang dan hitam. “Teman saya pernah dapat king kobra di Ciamis. Panjangnya dua meter dan besarnya selengan orang dewasa.”
Bagi Nirwan, menangkap binatang berbisa ini bukan hal yang sulit-sulit amat. Langkah awal, ekor kobra dipegang supaya tidak lari. Begitu kepala kobra mendongak, segera ditekan pakai bambu. “Setelah dipegang ekornya, kobra pasti akan berdiri. Kalau bisa, dengan cara halus kita tekan kepalanya. Kalau tidak bisa, dipukul supaya kepalanya pusing sehingga mudah dimasukkan ke dalam karung,” ujar Nirwan.
Meski sudah jago, namanya berurusan dengan binatang berbisa, Nirwan tetap harus waspada. Saat ditangkap, ular kobra Jawa biasanya menyemburkan bisa dan mematuk, sementara king kobra biasanya langsung mematuk. Semburan bisa kobra biasanya menyasar ke arah mata. Jika terkena semburan kobra, Nirwan menyarankan, segera basuh dengan air hangat. Jika tidak, mata yang terkena semburan kobra akan terus mengeluarkan air mata dan terasa perih jika dikucek.
Saat diekspor ke Tiongkok, seekor kobra bisa dihargai Rp100 ribuan. Tapi pemburu ular seperti Nirwan, orang yang mengambil risiko terbesar, justru menikmati bagian terkecil dalam rantai perdagangan ular.
Seekor kobra yang ditangkapnya hanya dibayar Rp10 ribu oleh pengepul di Banyumas. Dia akan mendapat uang lebih besar jika mendapat ular kadut (ular sawah), yakni Rp30 ribu/ekor. Padahal ular ini tak berbisa. Dalam sehari, Nirwan mengaku biasanya hanya mendapat tiga atau empat ekor ular.
Penangkaran ular
Sementara Nirwan mesti berkeliaran di sungai dan sawah memburu ular, lain cerita Riswoto (45). Di daerahnya, dia termasuk penyalur ular yang tergolong besar. Riswoto tidak perlu blusukan mencari kobra dan ular jenis lainnya ke pinggiran sungai atau pematang sawah. Sebab, dia memiliki penangkaran ular di rumahnya di Desa Karangpucung, Kecamatan Karangpucung, Cilacap, Jawa Tengah, sehingga stok ular yang dimiliki tidak terpengaruh cuaca atau musim.
Usaha penangkaran Riswoto sudah berjalan 26 tahun dan memiliki enam karyawan. Di rumahnya, saat detikX menyambangi, ada sekitar 100 ekor kobra yang dilepas di ruangan berukuran 3 x 4 meter. Kobra-kobra itu masih liar.
Di tempat itu, kobra dibiarkan berkembang biak. Saat ada kobra yang bertelur, anak buah Riswoto langsung mengambilnya dan menetaskannya secara manual dengan media merang atau ampas gergaji. Proses penetasan telur kobra memakan waktu 60-70 hari dengan tingkat keberhasilan 70 persen jika dengan cara manual dan sekitar 90 persen jika menggunakan inkubator.
Sekali bertelur, menurut Riswoto, king kobra menghasilkan 5-20 butir. Biasanya, yang menetas 15-16 telur. Setelah itu, ular-ular tersebut diberi “akta lahir” dengan mencatat tanggal dan jam kelahirannya. Catatan itu akan disisipkan saat pengiriman ke konsumen jika ular tersebut sudah besar.
Riswoto selalu menyertakan surat angkut tumbuhan-satwa liar dalam negeri dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah setiap kali hendak mengirim ular kepada pelanggannya. “Apalagi kalau jadi, pada 2018 penjualan hewan, seperti cicak, kadal, kodok, ular, masuk ke Dinas Kehutanan dan akan dikenai retribusi per ekor,” jelasnya.
Untuk mencari indukan ular, Riswoto meminta bantuan pemburu ular dari Banyumas, Cilacap, Majenang, Tasikmalaya, Ciamis, Purwokerto, hingga Purbalingga. Biasanya, dalam sebulan Riswoto bisa mengirim tiga kali ke Jakarta dan Bandung. Masing-masing pengiriman berkapasitas 500 ekor, yang dihargai Rp25 ribu/ekor.
Untuk pengiriman kobra, Riswoto menggunakan jasa bus malam karena kobra tidak tahan suhu panas.
“Saya memasok ke gudang di Cibitung. Baru dari Cibitung, ular-ular itu disebar ke restoran-restoran di Jakarta,” terangnya. (Arbi Anugrah/dtc)











