Banda Aceh, (Analisa). Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta agar revitalisasi dan pembangunan kembali gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Banda Aceh tidak sampai mengganggu bangunan utama yang penuh nilai sejarah.
Permintaan itu disampaikan Nova Iriansyah yang juga alumni SMAN 1 Banda Aceh saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan kembali gedung SMA Negeri 1 tersebut, Senin (20/8). Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, M.Pd, Kabid SMA dan PKLK, Zulkifli, M.Pd, Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Muslem Yakob dan Kepala SMAN 1 Banda Aceh, Fakhrurrazi S.Pd, M.Pd.
“Bangunan utamanya yang harus dilestarikan. Saya berharap revitalisasi tidak mengganggu bangunan utama yang bersejarah. Ke depan, SMAN 1 bisa kita kembangkan menjadi sarana untuk mengenang masa lalu sebagai destinasi wisata,” ujar Nova.
Sebagaimana diketahui, bangunan awal SMAN 1 Banda Aceh merupakan peninggalan Belanda yang telah ada sejak tahun 1878. Di masa lalu, gedung ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh pemikir Belanda. Sejak 1 September 1946, gedung ini difungsikan sebagai SMA 1 Negeri Banda Aceh, dan kemudian dilengkapi dengan sejumlah ruang kelas di bagian dalam.
Sejak itu, SMA ini aktif mengadakan kegiatan belajar-mengajar dalam mendidik generasi muda Aceh menjadi pemimpin unggul di masyarakat. Namun, seiring perjalanan waktu, gedung sekolah ini tidak lagi mampu menampung jumlah murid yang terus meningkat.
“Kalau model gedung lama ini masih dipertahankan, kami yakin lingkungan sekolah ini tidak akan nyaman lagi bagi para guru dan murid-muridnya. Karenanya, Pemerintah Aceh memutuskan untuk membangun kembali sekolah ini agar kelak memiliki fasilitas yang lebih lengkap,” sebutnya.
Dikatakan, berbicara tentang sejarah SMAN 1 Banda Aceh, pasti banyak sekali kenangan indah yang pernah hadir di sekolah ini. Bisa dimaklumi, sebab SMA Negeri 1 Banda Aceh merupakan sekolah menengah tertua di Provinsi Aceh, sehingga wajar jika alumninya bertebaran hampir di seluruh pelosok nusantara.
Bahkan tidak sedikit dari alumni itu yang sukses merintis karir di luar negeri. Tak heran jika SMA ini menjadi salah satu sekolah favorit di Aceh. Dari segi prestasi, SMA Negeri ini jelas merupakan salah satu sekolah yang cukup membanggakan di Aceh. “Saya tidak bisa menjelaskan secara terperinci prestasi yang dicapai sekolah ini, karena sudah cukup banyak,” tambahnya.
Sekolah rujukan
Pada tahun 2016, Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan SMA ini sebagai salah satu sekolah rujukan dari 614 SMA yang ada di Indonesia. Itu berarti, sekolah ini telah melampaui standar nasional pendidikan yang ditetapkan pemerintah.
“Saya berharap prestasi ini hendaknya dipertahankan, sehingga sekolah ini akan terus menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Di samping faktor sejarah dan prestasi tadi, ada satu hal lagi yang menarik dari sekolah ini, yakni sisi bangunan yang ditempatinya. SMA ini memiliki gedung yang unik, arena bagian depannya merupakan bangunan peninggalan Belanda yang memiliki gaya arsitektur Romawi yang sangat artistik,” terangnya.
Diungkapkan, anggaran pembangunan kembali sekolah ini tercantum dalam APBA 2018 dengan total Rp20 miliar. Anggaran itu nantinya akan diperuntukkan untuk membangun gedung sekolah dengan ruang belajar sebanyak 24 kelas baru. Di samping itu ada laboratorium, kantor guru serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Desain bangunannya nanti akan menyerupai huruf “U”.
“Tapi satu hal yang perlu kita ketahui dari pembangunan kembali sekolah ini adalah, tidak adanya perubahan pada bangunan peninggalan Belanda yang ada di bagian depan. Yang dibangun ulang adalah bangunan lain di luar bangunan tersebut. Sementara bangunan depan itu nanti kita kembangkan sebagai salah satu destinasi wisata di Aceh. (mhd)











