Oleh: J Anto
INISIASI mengembalikan semangat bersastra di Kota Binjai terus bergulir. Tsi Taura, HM Yunus Tampubolon, Saripuddin Lubis, dan Suyadi San mendirikan Komunitas Sastra Masyarakat Binjai (Kosambi). Menandai deklarasi, Kosambi meluncurkan Buku 100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai, di Aula Kejaksaan Negri Binjai, Minggu (28/4).
Sebanyak 100 penyair Indonesia dari 5 kota dan 10 provinsi menulis 225 puisi. Ke-100 penyair memang diundang untuk menulis khusus tentang Binjai. Tak semua puisi yang masuk, lolos seleksi para kurator, yakni Tsi Taura, HM Yunus Tampubolon, dan Saripuddin Lubis dengan editor Suyadi San.
Erdison Sikumbang, merupakan satu dari 100 penyair yang puisinya lolos kurasi. Meski begitu, penyair yang pernah menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Binjai itu, merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Siapa sebenarnya yang layak menyandang sebutan sebagai penyair? Apa kriteria seseorang sehingga disebut penyair? Apakah karena mereka pernah menulis puisi dalam setahun atau dua tahun, lalu layak diberi predikat penyair? Ia sendiri meski sudah lama bersastra, mengaku tak serta-merta berani mendaku sebagai penyair. Pertanyaan setengah gugatan itu muncul saat buku tersebut diluncurkan.
Di tengah era revolusi digital, pertanyaan Erdison jadi cukup menarik. Kehadiran teknologi komuniksi digital berbasis internet telah memantik serbuan karya fiksi seperti puisi dan cerpen di ruang media sosial baru. Penulis-penulis fiksi baru berlahiran. Komunitas sastra siber bermunculan di sejumlah kota. Mereka aktif membuat acara baca puisi dan cerpen di kafe-kafe atau taman kota. Secara keroyokan mereka menerbitkan karya-karya antologi maupun sendiri, baik dalam buku digital maupun cetakan secara indie.
Para penulis karya fiksi di ruang digital ini seolah tak mau pusing apakah karya mereka tergolong karya sastra atau bukan. Mereka juga seolah tak butuh kritikus sastra. Bahkan tak peduli karya mereka tidak dimuat di media massa yang jadi kiblat untuk menaikkan status kesastrawanan. Bukan kumpulan cerpen pilihan Kompas, adalah sebuah satir yang menggambarkan situasi tersebut.
Idris Pasaribu, sastrawan senior Sumut, dengan merujuk yang berlaku di kalangan seniman Malaysia, membedakan istilah pemuisi dan penyair. Pemuisi adalah mereka yang tergolong penyair pemula. Artinya tingkat kepenyairan si pemuisi masih harus diuji waktu.
Penulis novel Acek Botak ini menyebut, predikat penyair lebih karena karya syair yang ditulis, bukan karena orang yang membuat syair tersebut. Dalam buku yang diluncurkan itu, ia menyebut masih dominan pemuisi, dibanding penyair. “Bahkan jika keseluruhan puisi yang ada dalam buku itu diterbitkan penerbit umum, bukan indie, mungkin tak semua puisi itu bisa diterbitkan,” tambah Idris.
Menyentuh Nurani
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, Wan Syaifuddin, yang menjadi pembahas utama buku antologi itu bersama Mihar Harahap, menyebutkan penerimaan khalayak terhadap karya puisi seseorang, jauh lebih penting dibanding meributkan apakah penulis puisi itu disebut penyair atau bukan.
Ia lalu bertutur, pada abad 19 ada orang yang disebut pihak Kesultanan Melayu sebagai pujangga, yakni orang yang mampu berkarya dengan mengungkap suatu peristiwa atau fenomena yang ada dalam masyarakat. Lalu awal abad 20, muncul sebutan penyair dan sekarang ada yang menyebut seniman sastra. Namun istilah itu hanya menunjukkan binari oposisi dari sisi waktu, hakikatnya tetap sama.
Pada masa Kesultanan Melayu, jika pujangga menulis sesuatu keluar dari pakem religiusitas, si pujangga bisa ditangkap. Dalam perjalanan waktu, muncul tuntutan kebebasan berekspresi seiring pengetahuan tentang HAM. Ada pujangga yang berekspresi keluar dari pakem karya yang sudah ada, termasuk dari tema religius.
“Karena itu saat ada yang membuat kriteria tentang siapa yang disebut penyair, akan muncul sebuah problematika, siapa lembaga yang menyusun penilaian itu?” ujar Wan Syaifuddin. Karena itu penerimaan khalayak atas karya puisilah yang menjadi kriteria seseorang disebut penyair atau bukan.
“Seribu puisi pun ditulis namun tak memberi sesuatu bagi pembaca, ya puisi itu tak dianggap sebagai karya penyair,” katanya.
Ia lalu mengutip teori sastra terbaru yang tengah jadi bahan diskusi di kalangan akademisi sastra. Teori itu disebut mikondria. Menurut Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan (HISKI) Sumut itu, sebuah karya sastra seperti puisi jika mampu menyentuh nurani khalayak dan memberi energi positif maka penulis puisi itu disebut penyair.
Lalu bagaimana dengan karya puisi dalam buku antologi yang diterbitkan Kosambi tersebut? Menurutnya, masing-masing puisi yang ada memiliki kecerdasan dan kearifan berbahasa Indonesia dengan mengekalkan tanda-tanda kedaerahan, tidak hanya melalui kosa kata bahasa ibu, tetapi juga menghadirkan gaya tutur dan peletakkan istilah serta nama tempat yang istimewa di wilayah masing-masing penyair. Menurutnya hal itu memberi energi positif terhadap perkembangan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Dalam arti, menambah lema kosa kata bahasa Indonesia.
Penyair Binjai
Buku 100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai itu sendiri merupakan besutan perdana Kosambi. Salah satu sastrawan Binjai angkatan 60-an yang juga salah seorang pendiri Kosambi, Yunus Tampubolon, menyebut kelahiran komunitas sastra itu menjawab 34 tahun kerinduannya menghidupkan kembali Binjai sebagai kota budaya.
Ia adalah penyair generasi 60-an, seangkatan dengan A Jalil Sidik, Ahmad Anwari Lubis, Moestar Soekin (penulis naskah drama), Rizal Zein, Johan Jambak, dan A Janner. “Namun semua seangkatan saya sudah almarhum, tinggal saya sendirian,” katanya.
Generasi penyair yang lebih senior dan melegenda tentu saja Raja Pujangga Baru Amir Hamzah. Namun setelah era Amir Hamzah, A Jalil Sidik, kebesaran sastra Binjai seolah meredup. Tak ada lagi sastrawan besar lahir dari Binjai. Hadirnya Kosambi telah mengembalikan spirit bersastra masyarakat Binjai sehingga kelak lahir sastrawan-sastrawan baru bertaraf nasional.
“Animo berkarya anak-anak muda Binjai luar biasa, itu yang kita wadahi lewat Kosambi,” ujar Tsi Taura, penyair dan penulis sejumlah cerita pendek yang juga staf ahli Jaksa Agung itu. Lewat Kosambi, diharapkan bisa lahir sastrawan-sastrawan asal Binjai yang karyanya bisa berkibar di kancah nasional. Kosambi tergerak hendak meruwat agar spirit kepenyairan Amir Hamzah kembali bersemi di Binjai.
“Strateginya kita akan menerbitkan karya-karya sastra anggota Kosambi dengan menggandeng penerbit sastra yang sudah eksis,” ujarnya. Beberapa pustaka sastra lama Binjai yang dianggap layak, juga akan diterbitkan ulang. Kosambi juga mengundang penulis dari luar Binjai untuk mengirimkan karyanya. Karya sastra yang diterbitkan juga tak terbatas pada karya puisi, tapi juga cerpen dan novel.
Tsi Taura diam-diam juga tengah menulis novel. Sudah 4 bab dirampungkan. “Ini novel percintaan, kemanusiaan, dengan latar belakang Pulau Buru,” tuturnya. Tahun 2.000-an ia memang pernah bertugas di sana. Salah satu tokoh utama dalam novelnya adalah perempuan bernama Marisa, yang juga menjadi judul sejumlah puisinya.
Sekalipun Binjai pernah melahirkan sejumlah sastrawan besar dan dikenal sebagai pusat pengembangan budaya Melayu, namun menurut Tsi Taura, Kosambi memberi kebebasan berkreasi bagi anggotanya dalam ragam gaya tulisan mereka. Tak ada pakem atau kewajiban memakai diksi atau idiom-idiom Melayu.
“Yang penting bukan karya plagiat,” katanya. Meski begitu, Tsi Taura tetap berharap. Suatu saat spirit amir Hamzah akan menitis pada pegiat sastra Binjai, sehingga lahir sastrawan-sastrawan baru yang memakai idiom dan bentuk ungkapan Melayu dalam karya mereka.
Foto-foto: Analisa/J Anto











