Semakin Cepat Pohon Tumbuh, Semakin Cepat Pula Mati

Semakin Cepat Pohon Tumbuh, Semakin Cepat Pula Mati
Pohon-pohon di iklim hangat hutan hujan Amazon di Brasil. (Nacho Doce/Reuters)

Analisadaily.com, Leeds - Pohon yang tumbuh lebih cepat dalam kondisi yang lebih hangat akan bertindak sebagai penghambat alami pemanasan global, karena pohon mengambil dan menyimpan lebih banyak karbon dioksida dari udara saat mereka tumbuh.

Tetapi studi baru meragukan siklus menguntungkan ini setelah peneliti menemukan, bahwa semakin cepat pohon tumbuh, semakin cepat mereka mati dan karena itu berhenti menyimpan karbon.

Beberapa pohon yang tumbuh cepat, termasuk spesies konifer di daerah dingin, telah lama diketahui menunjukkan masa hidup yang lebih pendek, tetapi yang tidak diketahui adalah dampak dari kondisi yang lebih hangat yang bisa memacu pertumbuhan seiring dengan percepatan pemanasan global.

Tim peneliti internasional menerbitkan hasil kerja mereka di jurnal peer-review Nature Communications, yang menemukan hubungan antara pertumbuhan yang lebih cepat dan umur yang lebih pendek tampaknya berlaku baik di seluruh spesies pohon dan garis lintang.

Profesor geografi di Universitas Leeds, Roel Brienen, penulis utama makalah ini mengatakan, tim memulai analisis global dan terkejut menemukan, pertukaran ini sangat umum. Itu terjadi di hampir semua spesies yang dilihat, termasuk pohon tropis.

Pohon yang tumbuh lebih cepat dalam kondisi yang lebih hangat mencapai ukuran maksimumnya lebih cepat, dan hal itu tampaknya meningkatkan peluang mereka untuk mati.

“Pohon yang tumbuh lebih cepat juga lebih rentan terhadap faktor-faktor seperti kekeringan, penyakit, dan hama. Ketika pohon mati, mereka melepaskan karbon yang tersimpan secara bertahap, dalam bentuk metana, gas rumah kaca,” kata Brienen dilansir dari Guardian, Rabu (9/9).

Ini berarti, banyak model standar perubahan iklim tentang bagaimana menggunakan hutan sebagai penyerap karbon, untuk menyerap karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, cenderung melebih-lebihkan manfaatnya.

Studi ini menunjukkan, meskipun hutan di masa depan mungkin tumbuh lebih cepat seiring dengan peningkatan suhu, hutan juga dapat menyimpan lebih sedikit karbon karena pohon mati lebih cepat.

“Penemuan kami, ada ciri-ciri dalam pohon yang tumbuh paling cepat yang membuat mereka rentan. Sedangkan pohon yang tumbuh lebih lambat memiliki ciri yang memungkinkannya bertahan,” kata Steve Voelker dari departemen biologi lingkungan dan hutan di Syracuse University New York, salah satu penulis penelitian.

“Tingkat penyerapan karbon hutan kemungkinan akan berkurang karena pohon yang tumbuh lambat dan gigih digantikan oleh pohon yang tumbuh cepat tetapi rentan,” tambahnya.

Profesor ilmu atmosfer di Manchester Metropolitan University, David Lee, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, saat ini, model iklim sistem Bumi memprediksi kelanjutan atau peningkatan ukuran penyerap karbon hutan dewasa dan studi ini menunjukkan sebaliknya.

“Peningkatan CO2 membahayakan hutan sebagai penyerap karbon. Gagasan bahwa emisi berbasis bahan bakar fosil dapat diimbangi dengan menanam pohon atau menghindari deforestasi benar-benar tidak sesuai dengan penelitian ilmiah,” ujar Lee.

Namun, Keith Kirby, ahli ekologi hutan di Universitas Oxford mengatakan, hasil itu tidak meniadakan nilai menumbuhkan pohon untuk mencegah krisis iklim.

“Kami tidak dapat terlalu mengandalkan peningkatan pertumbuhan per satuan luas untuk mempertahankan dan meningkatkan potensi penyerap karbon hutan, tetapi ini mungkin diimbangi dengan memperlambat deforestasi dan meningkatkan perluasan luas hutan, di mana hal ini dapat dilakukan dengan cara yang berkelanjutan," kata dia.

Untuk penelitian tersebut, tim ilmuwan internasional menganalisis data dari lebih dari 200.000 sampel cincin pohon yang mewakili 110 spesies pohon, di semua benua kecuali Afrika dan Antartika.

Mereka menemukan pertumbuhan yang lebih cepat terkait dengan rentang hidup yang lebih pendek pada pohon dari spesies yang sama, dan pada spesies yang berbeda, dan tidak bergantung pada iklim atau tanah.

Para peneliti juga melakukan simulasi komputer, menggunakan data tentang pohon cemara hitam (Picea mariana), untuk melihat apa dampak pertumbuhan yang lebih cepat terhadap penyimpanan karbon.

Hasil penelitian menunjukkan, semakin besar kecenderungan pohon mati setelah tumbuh lebih cepat dapat mengurangi kapasitas hutan global untuk menyerap dan menyimpan karbon dioksida, seiring dengan kenaikan suhu.

Menanam pohon, dan melestarikan hutan yang ada, adalah salah satu cara terpenting untuk mencegah dampak terburuk dari krisis iklim. Namun beberapa penelitian meragukan kapasitas hutan global untuk bertindak sebagai penyerap karbon seiring dengan perubahan iklim.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Maret menemukan, hutan tropis kehilangan kemampuannya untuk menyimpan karbon, dan penelitian yang diterbitkan bulan Mei menunjukkan, hutan dunia semakin pendek dan lebih muda.

(CSP)

Baca Juga

Rekomendasi