Ikhwa Sasmitha saat memberikan pengajaran kepada anak-anak di Rumah Pintar Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) di Jalan Pengilar Gang. Ngatinah, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, Senin (6/6). (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah sebuah ajang bagi mahasiswa/i untuk menerapkan teori-teori yang diterima saat proses pembelajaran di bangku kuliah ke dalam dunia kerja yang sebenarnya. Melalui itu mahasiswa dapat berkesempatan mengembangkan cara berfikir, menambah ide-ide yang berguna serta menambah wawasan terhadap apa yang ditugaskan kepadanya.
Kegiatan ini dilakukan mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, Ikhwa Sasmitha, yang dibimbing Supervisor Sekolah yaitu Husni Thamrin, dan dosen pengampu mata kuliah PKL yaitu Fajar Utama Ritonga.
Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari 25 Februari sampai 10 Juni 2022. Pada praktikum 1 ini, mahasiswa dapat melakukannya secara berkelompok maupun individu, yang mana Ikhwa memilih berkelompok dengan temannya Vellin dan Nurul.
Ikhwa melaksanakan PKL di Rumah Pintar Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) di Jalan Pengilar Gang. Ngatinah, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, yang konsen pada perlindungan anak dan pemenuhan hak-hak anak.
Dalam praktikum ini, mahasiswa diminta melakukan proses intervensi untuk memenuhi tugas mini project yang berfokus pada metode intervensi di level mikro (Case Work/Group work).
“Untuk tugas mini project mahasiswa diminta mengaplikasikan secara langsung metode intervensi yang sudah sudah diajarkan selama masa perkuliahan dalam menyelesaikan masalah klien. Tetapi, sebelum masuk pada proses intervensi, saya dan teman-teman melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan anak-anak Rupin,” kata Mitha.
“Adapun kegiatan yang kami lakukan yaitu membuat es cincau milo bersama, mengenalkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun), juga mengenalkan pola hidup bersih dan sehat,” sambungnya.
Kegiatan tersebut dilakukan bukan tanpa tujuan. Adapun tujuan pembuatan es cincau milo bersama-sama adalah untuk melatih kreativitas anak-anak Rupin serta melatih kerjasama mereka dengan teman-temannya.
Kemudian pengenalan budaya 5S untuk menguatkan pendidikan karakter mereka sehingga menambah wawasan mereka tentang cara berinteraksi yang baik dan benar di masyarakat. Selanjutnya mengenalkan pola hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan kesadaran diri mereka mengenai cara hidup sehat ditengah pandemi.
Setelah dirasa cukup melakukan pendekatan dengan anak-anak Rupin, Ikhwa lalu memutuskan untuk memilih salah satu anak Rupin bernama S menjadi kliennya untuk memenuhi tugas mini project. S merupakan anak kelas 4 SD yang berumur 9 tahun. Berdasarkan hasil perbincangan beberapa kali, diketahui rata-rata anak Rupin memiliki masalah yang hampir mirip yaitu terkait dengan proses belajar mengajarnya di sekolah yang memang dalam masa adaptasi dengan sistem baru sebagai akibat dari pandemi Covid-19.
Dari penuturan S, Ikhwa mengetahui selama pembelajaran daring, S kurang memahami materi yang diberikan oleh guru. Salah satu mata pelajaran yang S suka di sekolah adalah pelajaran Bahasa Inggris. Namun sayangnya, proses pembelajaran yang didapatkan di sekolah kurang interkatif karena hanya sekedar memberikan soal dan mengerjakannya saja.
Maka dari itu Ikhwa mencoba mencari alternatif media belajar lain yang interaktif dengan menggunakan aplikasi Duolingo. Kegiatan ini diharapkan dapat memberi output berupa peningkatan minat anak belajar Bahasa Inggris serta menambah kosakata Bahasa Inggris baru.
Adapun proses intervensi menggunakan metode Case work dengan tahapan, yakni
Enggagement, Intake, Contract. Pada tahap ini dilakukan kontrak awal dengan klien yang berakhir pada kesepakatan untuk terlibat dalam keseluruhan proses dan dilakukan juga pembangunan hubungan kedekatan dan kepercayaan pada klien untuk mendorong keterbukaan klien.
Assesment. Di tahap ini, mulai dilakukan percakapan yang lebih serius kepada klien. Tahap ini merupakan proses penyelesaian masalah dimana Ikhwa berusaha mendapatkan pemahaman tentang masalah klien, penyebab, serta potensi apa yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah klien.
Planning/Perencanaan. Ikhwa dan klien berdiskusi bersama untuk mencari solusi dari permasalahan klien. Disini Ikhwa menawarkan beberapa alternatif dan mendiskusikannya kepada klien, mana yang paling baik dan membuatnya nyaman sehingga dapat mencapai tujuan akhir yang diharapkan.
Intervensi. Kemudian Ikhwa dan klien melaksanakan kegiatan yang sudah dirancang dan disepakati sebelumnya. Ikhwa membimbing klien agar konsisten dalam menjalani program dan tidak keluar dari kesepakatan sebelumnya.
Evaluasi dan Terminasi. Tahap ini merupakan tahap pengkajian ulang mengenai pelaksanaan kegiatan pemecahan masalah klien yang telah berlangsung. Apakah tujuan dari intervensi yang disepakati di awal sudah tercapai atau belum. Karena dirasa tujuan intervensi sudah tercapai, maka dilakukan pula terminasi berupa pemutusan hubungan dengan klien sebagaimana yang telah disepakati bersama.
"Saya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Husni, selaku Supervisor Sekolah yang telah membimbingnya dan Badriyah selaku founder YAFSI yang telah mengizinknnya melaksanakan PKL di Rumah Pintar YAFSI," ucap Ikhwa.
(JW/CSP)