Khouw Keng Nio, Bukan Wanita Biasa

Khouw Keng Nio, Bukan Wanita Biasa
Khouw Keng Nio di depan Pesawat Merbaboe II. (Anaisadaily/Wikipedia)

KHOUW Keng Nio telah menghapus stereotip perempuan Tionghoa awal tahun 1900-an yang selalu dipandang rendah. Ia sukses memertahankan dan membesarkan bisnis NV Merbaboe yang dipimpinnya. Ia juga perempuan Tionghoa pertama yang mengantongi lisensi penerbang.

"Hari Sabtu malam yang lalu, dengan diantar oleh Pak Wongso, kita telah kunjungi perusahaan "Merbaboe", dimana kita disambut dengan manis oleh nona Khouw Keng Nio, saudara muda dari almarhum tuan Khouw Khe Hien yang sekarang menggantikan itu saudara tua, pegang pimpinan pada perusahaan-perusahaan Merbaboe di Batavia dan bilangannya..... Pertama kita ditunjukkan ruangan dimana sebagian dari 30 pegawai administratif, yang mengurus pembukuan daging, roti, makanan, ikan, Green Spot, pendeknya barang-barang yang bisa didapatkan oleh langganan dari Merbaboe....

Merbaboe sedikitnya ada potong empat kali lebih banyak sapi dari perusahaan bangsa Eropa, sehingga dengan demikian juga Merbaboe adalah perusahaan daging yang paling besar yang terdapat di seantero Indonesia. Dengan ia punya afdeelingen di Buitenzorg (Bogor), Sukabumi dan Bandung, menurut nona Khouw tiap-tiap hari Merbaboe potong tidak kurang dari antara 75 dan 80 sapi."

Sapi-sapi itu didatangkan Jawa Timur, Probolinggo, Boyolali, Salatiga bahkan dari Sumba Timur, dan Kupang.

Penyuplai Daging Sapi Segar Terbesar di Hindia Belanda

Gedung NV Merbaboe di Ciroyom, Sukabumi.
Nukilan di atas dikutip dari Majalah Mingguan "Sin Po" edisi 19 November 1938. Khouw Keng Nio dan Kouw Khe Hien, yang disebut-sebut sebelumnya adalah dua kakak beradik anak Khouw Kim Gian, pendiri NV Merbaboe. Masih ada dua lagi anak Khouw Kim Gian, yakni Khouw Khe Sie dan Khouw Roos Nio.

NV Merbaboe tak hanya mengusahan bisnis pemotongan hewan sapi, atau Rumah Pemotongan Hewan (RPH), tapi juga memproduksi susu segar, roti dalam skala besar, agen minuman Green Spot, dan memiliki cold storage (ruang pendinginan) terbesar di seluruh Jawa. Distribusi barang-barang Merbaboe mencakup hampir seluruh Jawa Barat dan sebagian dari Jawa Tengah. Kantor cabangnya meliputi Bandung, Bogor, Sukabumi, Yogyakarta, Magelang dengan kantor pusat di Batavia (Jakarta).

Kantor di Batavia dibuka tahun 1923 oleh Khouw Khe Hien, lulusan Europeesche Lagere School (ELS) di Magelang dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Yogyakarta setelah mengambilalih manajemen Merbaboe sepeninggal ayahnya.

Bermula dari memotong satu ekor sapi, dan dagingnya baru habis terjual setelah tiga hari, seiring waktu penjualan daging sapi usahanya melonjak hingga 16.000 ton daging dan tulang per hari dan telah tumbuh menjadi “tukang daging” terbesar di seluruh Hindia Belanda dengan pasokan kepada 30.000 hingga 40.000 tukang daging. NV Merbaboe telah memberi masukan pajak ke pemerintah hingga f. 200.000, dan membayar f. 150.000 kepada K.P.M. (maskapai kapal laut) melalui laut dan jasa kereta api untuk transpor pengiriman barang-barang mereka melalui darat, dalam setahunnya. (Ridwan Sutardio: 2023).

Merbaboe juga memiliki usaha Café-Restoran “Merbaboe” yang arsitektur bangunannya menyerupai pagoda tiga tingkat. Letaknya di Tengah Pasar Gambir, Jakarta (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 8/9/1935). Café Restoran ini dikenal karena sosisnya di kalangan pelanggan mereka.

Memesan Pesawat Untuk Angkut Daging

Sukses bisnis NV Merbaboe tak lepas dari peran Khouw Khe Hien, yang kemudian diteruskan oleh adiknya Khouw Keng Nio. Menurut Leo Suryadinata (2006), perusahaan Merbaboe makin berkembang setelah pada 1934, Khouw Khe Hian sampai pada simpulan bahwa bisnis mereka tidak akan jadi besar jika distribusinya hanya mengandalkan transportasi darat dan laut yang memakan waktu lebih lama.

Ia lalu mulai melirik ke angkutan pesawat terbang sebagai sarana transportasi yang cepat dan efisien. Ia lalu memesan sebuah pesawat terbang monoplane kabin bermesin ganda, yang mampu membawa muatan atau kargo sebanyak 130 kg dan terbang jarak jauh. Khouw Khe Hian lalu menemui Achmad bin Talim, teknisi pesawat dari Luchtvaar Afdeeling, unit Militaire Luchtvaart Dienst (Bagian Penerbangan, Unit Dinas Penerbangan Militer Hindia Belanda).

Talim mendiskusikan pesanan tersebut dengan kawan-kawannya, termasuk Laurents Walraven, desainer teknik di Militaire Luchtaart-Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (Penerbangan Militer, Angkatan Bersenjata Hindia Belanda). Mereka menerima pesanan pembuatan pesawat itu, dan mengerjakan di sebuah bengkel di Jalan Pasir Bandung. Pada akhir tahun 1934 pembuatan pesawat yang dinamakan Walraven-2 itu rampung. Setelah sukses uji terbang, pesawat mendapat registrasi penerbangan PK-KKH. PK kode Hindia Belanda, sementara KKH singkatan dari Khouw Khe Hien sebagai pemrakarsa.

Pilot Tionghoa Peranakan Pertama

Terluin, Khouw Khe Hien dan Walvaren saat mendarat di Schipool, Belanda tahun 1935.
Khe Hien senang bukan kepalang. Pesawat yang dimiliki juga digunakan untuk mengunjungi dan mengawasi cabang-cabang Merbaboe di berbagai kota di Jawa. Dia sendiri juga merupakan penerbang (aviator) Tionghoa peranakan pertama yang memeroleh diploma pilot dari Departemen Penerbangan Hindia Belanda. Pada 1933, dia lulus dari Akademi Militer Belanda dan kemudian meneruskan pelajarannya dalam bidang aeronautika di London.

Sebagai penerbang, Khe Hien ingin menjajal pesawat tersebut. Tak tanggung-tanggung dia membuat rencana terbang ke Eropa. Banyak orang tak percaya. Soalnya, Walraven-2 belum pernah uji terbang jarak jauh. Tapi dia bergeming. Pada September 1935 ia berhasil melakukan penerbangan dari Jawa ke Belanda. Karena keberhasilan tersebut, dia bertekad melakukan penerbangan jarak jauh lagi. Pada Mei 1937 dia berhasil melakukan penerbangan Jawa-Tiongkok. Bahkan bertemu Chiang Kai Sek. Di sana ia beberapa kali mengunjungi Nanking dan menganjurkan Tiongkok mengembangkan penerbangan sipil.

Tahun 1938, Tewas Saat Latihan

Namun pada tanggal 26 Februari 1938, Khouw Khe Hien mengalami kecelakaan fatal saat menerbangkan pesawat pengebom Glenn Martin 506 di Cililitan. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Muntilan, Jawa Tengah. Khouw Khe Hien meninggalkan seorang janda, Lena Oey Non Nio (1906-1994), dan empat orang anaknya, Khouw Teng Han, Khouw Teng Hwa, Khouw Teng Giok dan Khouw Teng Hwie, yang semuanya akhirnya merantau ke Belanda. (https://peoplepill.com/i/khouw-khe-hien).

Menurut Leo Suryadinata, selama hidup, Khouw Khe Hien dikenal sebagai seorang dermawan. Pada 1934 ia menyumbang antara f. 15.000 dan 18.000 untuk Rumah Sakit Jang Seng Ie di Batavia (kini Rumah Sakit Husada) yang digunakan untuk membangun sebuah paviliun Operasi dan rontgen. Selama Perang Tiongkok-Jepang, dia aktif menggalang dana untuk korban perang di Tiongkok, dengan menggelar pasar malam di Batavia pada Oktober 1937. Dari dana yang terkumpul, dikirimlah sembilan ambulans ke Tiongkok: enam untuk misi membantu korban perang dan tiga lainnya diserahkan ke Departemen Kesehatan Tiongkok.

Pada saat pembukaan kantor cabang Merbaboe di Bandung tahun 1936, ia menyumbang 1.000 gulden kepada Blinden Institute, sekolah untuk kaum Tuna Netra, 750 gulden untuk Sekolah Tuna Rungu, 750 gulden untuk rumah Sakit Misi Imanuel, dan 750 gulden untuk Panti Asuhan Suster Ursula. (De Indische courant, 21/4/936). Ia juga membantu pendirian sejumlah sekolah Tionghoa. (Bataviaasch nieuwsblad, 22/2/1938). Khe Hien juga dikenal sebagai orang yang supel dalam pergaulan.

Diteruskan Khouw Keng Nio

Sepeninggal Khe Hien, adik perempuannya, Khouw Keng Nio menjadi pemimpin NV “Merbaboe”. Awal-awal banyak pihak meragukan kemampuannya. Bahkan ada yang meramal, bisnis “Merbaboe” akan mundur, bahkan mungkin saja bangkrut. Tapi faktanya berbeda. Justru di bawah Khouw Keng Nio, bisnis “Merbabu” makin berkembang.

Menurut Sin Po saat dipimpin Khouw Keng Nio dan adiknya Khouw Roos Nio, pada November 1938, tiap hari Merbaboe mengirimkan pesanan daging kepada sekitar 4.050 pelanggan, sekitar 1.500 pelanggan roti dan susu (toko-toko), dan 7.500 botol Green Spot. Masih mengutip Sin Po, dalam Batavia als-industrie - en woonstad tahun 1937, Merbabu memiliki pelanggan antara 30.00 - 40.000 dari berbagai bangsa.

Ternyata, perempuan juga tak kalah tajir sebagai chief executive officer perusahaan. api siapa sebenarnya Khouw Keng Nio? (Silakan baca tulisan “Sekilas Tentang Khouw Keng Nio”).

Penulis:  J Anto
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi