Pembukaan Munas III APPTIMA

Tradisi Penerbitan Tidak Terlepas dari Perjalanan Muhammadiyah

Tradisi Penerbitan Tidak Terlepas dari Perjalanan Muhammadiyah
Tradisi Penerbitan Tidak Terlepas dari Perjalanan Muhammadiyah (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Parapat - Sebagai wujud komitemen dalam menumbuhkan tradisi literasi dan penerbitan buku, Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (APPTIMA) resmi membuka Musyawarah Nasional III di Auditorium Universitas Muhammdiyah Sumatera Utara (UMSU).

Dalam edisi kali ini, UMSU Press dipercaya sebagai tuan rumah event akbar yang diadakan tiga tahunan ini. Munas APPTIMA yang diadakan di dua kota ini, Medan dan Parapat dari 15-17 Januari 2026, mengangkat tema "Melejitkan Gerakan Literasi untuk Peradaban Utama", sebab di tengah tantangan global, disrupsi teknologi, dan krisis nilai, penguatan literasi—baik literasi baca-tulis, digital, sains, maupun literasi budaya—menjadi kunci untuk membangun sumber daya manusia yang unggul, beretika, dan berdaya saing.

Pembukaan Munas APPTIMA III diawali dengan pertunjukkan tarian Melayu, dilanjutkan pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah.

Sebagai ketua panitia, sekaligus ketua UMSU Press, Dr. Muhammad Arifin, M.Pd, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Munas dan komitmennya dalam menyelenggarakan Munas kali ini dengan semaksimal mungkin walaupun sempat molor dari jadwal yang seharusnya.

Kemudian, Ketua APPTIMA Budi Nugroho, S.I.P. memberikan apresiasi dan terima kasih kepada UMSU Press sebagai tuan rumah yang menyambut dengan baik para peserta munas, dan menuturkan bahwa Munas APPTIMA kali ini sebagai pemanasan bagi Muktamar Muhammadiyah tahun 2027 yang yang akan datang. Ia berharap APPTIMA ke depan lebih maju dan optimal lagi.

Dari pihak pimpinan UMSU dihadiri oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Muhammad Arifin, S.H., M.Hum. Dalam sambutannya, ia mengajak para penerbit yang tergabung dalam APPTIMA untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersama-sama dalam memajukan PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah) dan persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri.

Ia juga menceritkan kancah UMSU dan komitmennya dalam memajukan pendidikan, bangsa dan berperan serius di tingkat internasional. Ia mengingatkan, bahwa sudah saatnya para penerbit memiliki "digital mindset", di mana ada tren peralihan buku fisik ke bentuk digital, termasuk publikasi-publikasi lainnya, seperti jurnal, maka penerbit harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi tantangan ini. Ia juga mengapresiasi UMSU Press yang telah berhasil menyelenggarkan munas ini, dan terus berkomitmen memghadirkan penerbitan buku yang masif dan berkualitas, di mana di tahun 2025 UMSU Press berhasil menerbitkan lebih 200 judul buku, termasuk rutin setiap tahunnya mengadakan pembagian royalti kepada para penulis.

Tantangan ke depan bagi APPTIMA adalah mengajak dosen untuk menulis buku hasil karyanya, sebagaimana UMSU memberikan insentif kepada para dosen yang menerbitkan bukunya di UMSU Press.

Kemudian, sambutan dan sekaligus yang membuka Munas III APPTIMA ini adalah Wakil Sekretaris I Diktilitbang PP Muhammadiyah, Moh. Mudzakkir, S.Sos., M.A., Ph.D. Ia menuturkan bahwa tradisi penerbitan menjadi bagian tidak terlepaskan dari perjalanan Muhammadiyah sejak awal lahirnya, hal ini tercermin dalam Muqoddimah Anggaran Dasar Muhmmadiyah.

Ada 4 bidang kerja persyarikan Muhammadiyah di awal berdirinya, salah satunya adalah Majelis Pustaka, yang dahulu namanya Bahagian Pustaka. Wujudnya yaitu dengan berdirinya tabloid Suara Muhammadiyah di tahun 1915 dan bertahan hingga saat ini.

Kemudian, ia menjelaskan ternyata Kota Medan memiliki rekam jejak dalam tradisi penerbitan, sejak tahun 1920-an yang saat itu dijuluki Paris van Sumatra, Medan menjadi tempat tujuan industrialisasi, sehingga berkembang pula industri penerbitan. Dalam rekam jejak Muhammadiyah, Buya HAMKA juga pernah menerbitkan "Pedoman Masyarakat" di kota ini.

Kemudian ia menyampaikan bahwa tri dharma perguruan tinggi, menjadikan bagian yang sentral, namun yang terpenting pula adalah mendesiminasikannya, salah satunya adalah dengan menghidupkan tradisi penulisan dan penerbitan buku dan jurnal. Baginya, jika tidak ada tradisi dokumentasi, maka kita akan hilang ditelan sejarah, dan perguruan tinggi harus mendukung tradisi ini.

Ia menekankan bahwa APPTIMA adalah media untuk belajar, "sharing knowlage", "ta'awun" (saling menolong). Ia berharap APPTIMA dapat berperan strategis dalam pengembangan kelimuan.

Kemudian acara ditutup dengan penyerahan plakat dan ulos, serta penyerahan sertifikat simbolis kepada seluruh peserta munas. Munas kali ini dihadiri oleh 33 peserta yang terdiri dari 23 Pernerbit/Instansi, yaitu LP3M UMTAS, UNIMUDA Press, UMY Press, UMB Press, UMSB Press, UM Surabaya, UMPRI Lampung, UMPO Press, UM Sukabumi, UMP, UM Metro Press, UM Palopo Press, UMJ Press, UM Buton Press, UMSIDA Press, UMM Press, UM Tapsel Press, UMRI, UM Bandung Press, UM Mataram Press, Poltek MU Makassar, UM Sorong, UMSU Press. Acara ini juga dihadiri oleh CEO dari Aksaramaya, perusahaan di balik aplikasi baca digital seperti Moco dan iPusnas, Sulasmo Sudharno, sebagai partnership APPTIMA.

APPTIMA adalah asebuah wadah perkumpulan atau afiliasi yang terdiri dari badan-badan penerbit milik perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah se-Indonesia untuk memperkuat kolaborasi, pengembangan, dan penyebaran informasi ilmiah.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi