Agus Setiawan: Etika Tidak akan Bisa Digantikan oleh AI (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Anggota DPRD Kota Agus Setiawan melaksanakan Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) Bagi Pimpinan dan Anggota DPRD Medan di Lapangan Sekolah Swasta Buddhis Bodhicitta, Sabtu (30/5/2026).
Dalam kegiatan itu, di hadapan para siswa Agus Setiawan menyampaikan bahwa ke depannya dunia ini akan diisi dengan kecerdasan buatan. Mungkin beberapa tahun kemudian para siswa atau mungkin saat ini sudah pintar menggunakan Artificial Intelligence (AI).
"Ke depannya yang namanya IQ kita mungkin tidak akan bisa lagi mengalahkan kecerdasan buatan atau AI. Apa yang bisa kita perbuat yang tidak bisa tergantikan oleh AI itu adalah budi pekerti, etika. Sehingga ini hal yang sangat berharga dan penting. Ke depannya akan banyak orang?orang pintar di luar sana. Tapi itu bukan menjadi penilaian utama bagi perusahaan atau bagi masyarakat di luar sana," papar Agus Setiawan di hadapan para siswa yang hadir sebagai peserta Wasbang yang baru pertama kali dilaksanakan oleh anggota DPRD Medan.
Agus Setiawan yang duduk di Komisi III DPRD Medan itu juga menyampaikan bahwa materi pendidikan Pancasila ini adalah materi yang disusun secara eksplisit oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
"Namun setelah saya mengikuti dan mendengarkan tentang Pancasila selama dua hari, ternyata makna Pancasila tidak sulit untuk dipahami. Karena Pancasila itu seyogyanya adalah hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bukan Pancasila yang dihapal dari sila pertama hingga sila kelima," kata politisi PDI Perjuangan itu.
Namun, lanjutnya, Pancasila itu hidup dalam bagaimana cara kita berbicara dengan orang. Bagaimana cara kita menghadapi semua masalah. Ternyata Pancasila itu ada di sana.
Pertama, masih Agus Setiawan, satu pertanyaan bagi kita mengapa orang tidak buang sampah pada tempatnya. Hal ini menyangkut etika. Apa susahnya ketika kita menggenggam sampah kita sebentar, lalu mencari tempat sampah. Ini adalah bagian dari kehidupan kita, yang diterapkan baik di rumah di sekolah, di tempat lingkungan di mana kita berada.
Lalu, mengapa ada orang merokok bukan merokok di area merokok. Harusnya ini adalah kepedulian. Kita merokok tidak masalah. Tapi persoalannya adalah perokok pasif yang mencium asap rokok itu yang menjadi masalah. Di DPRD Medan Baru saja menyelesaikan Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Karena asap nikotin sangat berbahaya bagi anak anak.
Kenapa orang orang di luar sana bisa tersenyum ketika dipaksakan rompi Orange dan ditetapkan sebagai koruptor, msih bisa tersenyum. Tidak merasa malu. Inilah alasan kenapa asas-asa Pancasila itu harus digaungkan.
Lalu kenapa orang bilang tidak pada korupsi, namun justru malah jadi terdakwa. Kondisi ini terjadi 12 an tahun lalu. Ketika itu ada iklan menolak korupsi, tapi ternyata yang mengatakan TIDAK PADA KORUPSI, justru terjaring OTT oleh KPK.
Setiap orang melakukan perbuatan berdasarkan nilai dan kode etik yang diyakininya. Apa itu nilai moral dan kode etik yang diyakini, apa nilai yang harus dipegang, kode etik seperti apa yang dijadikan panduan kehidupan sehari-hari.
"Kita tentu memiliki nilai moralitas dan etika yang berasal dari kebudayaan, ajaran agama kepentingan pribadi atau pun kelompok masing masing. Itu kan ranah private. Dalam hal ini Pancasila berlaku di ranah publik. Selagi hidup bernegara berbangsa dan bermasyarakat kita menggunakan Pancasila sebagai sumber nilai moralitas dan etika publik kita," jelasnya.
Saya ingin, lanjutnya, menyadarkan bagi kita semua bahwa Pancasila ini menjadi sebuah tonggak yang dipegang sejak mulai pemimpin bangsa, pendiri bangsa berikan mendirikan Republik Indonesia. Suku, ras yang ada di Indonesia ini jauh di atas daripada negara yang ada di dunia ini.
Hanya satu yang mengikat kita dalam seluruh perbedaan tadi. Dari Aceh yang mayoritas muslim, sampai dengan Papua yang sampai hari ini masih hidup di pedalaman dengan kepercayaan mereka dan mitos mereka.
Dari pulau terluar dari Utara ke selatan Indonesia memiliki ratusan suku bangsa. Dan hanya satu Pancasila yang bisa menyatukan kita. Sehingga melalui kegiatan jni betapa pentingnya Pancasila diamalkan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya menjadi slogan yang dihapal yang lima sila.
Dalam hal ini Pancasila sebagai sumber moralitas dan etika publik bagi bangsa Indonesia. Sebab Pancasila merupakan nilai kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, Persatuan, musyawarah mufakat dan Kerakyatan serta keadilan sosial terkandung dalam berbagai ekspresi budaya, corak perekonomian, kehidupan sosial, Spiritualitas masyarakat yang sudah ada sejak lama di bumi nusantara.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kasi Pemerintahan Kecamatan Medan Denai Cut Marayani, Kepala Sekolah SMA Swasta Buddhis Bodhicitta Budianto dan para guru di sekolah tersebut.
(MC/RZD)