DPD IMM Sumut Gelar Pelatihan Instruktur Madya (Analisadaily/Irin Juwita)
Analisadaily.com, Medan - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumatera Utara menggelar Pelatihan Instruktur Madya (PIM) dengan tema “Instruktur Sebagai Inkubator Perkaderan Humanistik”.
Ketua Umum DPD IMM Sumut, Rahmat Taufiq Pardede, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu program prioritas organisasi dalam menyiapkan instruktur yang akan mengelola proses perkaderan IMM di berbagai daerah.
“Pelatihan Instruktur Madya ini merupakan perkaderan wajib di IMM. Tujuannya untuk mencetak instruktur yang nantinya bertugas mengelola dan mengembangkan perkaderan di tingkat cabang maupun daerah,” kata Rahmat disela sela pembukaan acara didampingi perwakilan DPD IMM Jawa Barat Muhammad Thariq As Sulaimany, Azril Perliyansyah, dan Zirul Habibi dari DPD IMM Jambi, Senin (22/6/2026).
Menurut Rahmat, pelatihan berlangsung selama lima hari dengan peserta sebanyak 11 orang. Enam peserta berasal dari Sumatera Utara, sementara sisanya berasal dari sejumlah provinsi lain seperti Jambi, Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Ia menjelaskan, PIM merupakan jenjang lanjutan dalam sistem perkaderan IMM. Para peserta merupakan kader yang telah mendapatkan rekomendasi dari cabang masing-masing untuk mengikuti proses pembinaan sebagai calon instruktur.
“Instruktur juga harus dikader. Karena itu ada tingkatan-tingkatan dalam perkaderan. Kali ini yang dilaksanakan adalah level madya, yang pesertanya merupakan kader terpilih dari berbagai cabang dan daerah,” ujarnya.
Perkaderan IMM berupaya mengasah nilai religius, intelektual, serta kemampuan memanusiakan manusia. "Jadi orientasinya adalah penguatan kapasitas intelektual dan karakter kader. Sejumlah tokoh dijadwalkan menjadi pemateri termasuk Rektor UMSU," ucapnya.
Rahmat menyebutkan perkembangan IMM di Sumatera Utara terus menunjukkan tren positif. Jika pada 2024 hanya terdapat 10 cabang, kini jumlahnya bertambah menjadi 13 cabang. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang kemahasiswaan, IMM tidak hanya hadir di kampus-kampus Muhammadiyah, tetapi juga berkembang di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Rahmat menilai tantangan mahasiswa saat ini semakin kompleks, terutama dalam menjaga etika dan moral dalam menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan kebangsaan.
“Kami tetap berpihak kepada rakyat dan kritis terhadap persoalan yang ada. Namun kritik harus disampaikan dengan cara yang santun dan beradab. Itu sejalan dengan semboyan IMM, yakni anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual,” ujarnya.
Ke depan, IMM berkomitmen terus memperkuat fungsi kaderisasi sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Melalui proses perkaderan yang berjenjang, kader IMM diharapkan mampu berkontribusi dalam berbagai sektor, mulai dari sosial, ekonomi hingga politik, dengan tetap membawa nilai-nilai Islam berkemajuan.
“IMM adalah ruang pembelajaran dan proses bagi mahasiswa. Dari IMM, kader dapat melanjutkan pengabdian melalui berbagai organisasi Muhammadiyah lainnya sehingga nilai-nilai yang diperjuangkan dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Ketua Panitia, Muhammad Fahri, mengatakan meski yang mengikuti PIM tidak banyak, hal tersebut mencerminkan karakter seorang instruktur yang memilih jalan pengabdian yang tidak mudah dan tidak dapat dilalui oleh semua orang.
“Sebelas orang ini mungkin bukan jumlah yang besar, tetapi begitulah instruktur. Instruktur adalah jalan yang sunyi, jalan yang memang tidak semua orang mampu melewatinya. Dalam proses menjadi instruktur, banyak hal yang harus dihadapi dan didalami, mulai dari bagaimana memanajemen diri hingga memanajemen orang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tugas seorang instruktur sangat berat karena memiliki tanggung jawab dalam membina dan mengarahkan kader, baik pada tingkat perkaderan dasar, madya, maupun dalam proses pelatihan instruktur itu sendiri.
Karena itu, pihak panitia mengusung tema “Instruktur sebagai Inkubator Perkaderan Humanistik.” Menurut Fahri, perkaderan tidak hanya sebatas melatih atau membimbing kader untuk mengenal IMM, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kapasitas, karakter, dan potensi kader secara menyeluruh.
Menurutnya, tantangan perkaderan saat ini tidak lagi sama seperti sebelumnya. Pelatihan instruktur kini harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan transformasi digital yang semakin pesat.
“Pelatihan instruktur madya saat ini berbasis digital. Karena itu, kita harus memastikan bahwa proses perkaderan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan kader hari ini," ujarnya.
(WITA)











