Ronny Tanuwijaya Adu Penalti “Ruang Sidang” Paling Menyeramkan

Ronny Tanuwijaya  Adu Penalti “Ruang Sidang” Paling Menyeramkan
Ronny Tanuwijaya Adu Penalti “Ruang Sidang” Paling Menyeramkan (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Pengamat sepak bola nasional Ronny Tanuwijaya menilai, adu penalti tidak ubah sebagai "ruang sidang" paling mengejamkan karena tidak mengenal status, tradisi, maupun nama besar sebuah tim.

"Pahlawan dan pecundang di sepak bola modern sering kali hanya dipisahkan oleh jarak 11 meter (titik penalti). Bicara soal penalti, teknik memang penting, tetapi mental menjadi penentu utama," ujar Ronny berbicara tentang tragedi penalti yang menghancurkan harapan dua tim unggulan Jerman dan Belanda di Piala Dunia 2026, Selasa (1/7/2026).
Jerman tersingkir di babak 32 besar setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay. Sementara Belanda juga tersingkir setelah takluk 2-3 dalam drama di kotak 16 melawan Maroko.
Ronny menjelaskan bahwa aturan tendangan penalti lahir pada 1891 sebagai respons terhadap tindakan tidak sportif pemain yang sengaja menggagalkan peluang gol dengan handball di garis gawang.
Sejak saat itu, International Football Association Board (IFAB) menetapkan bahwa pelanggaran di dalam kotak penalti harus dihukum dengan tendangan dari titik 12 yard.
"Awalnya penalti dibuat untuk menegakkan keadilan. Namun dalam perkembangannya, justru menjadi momen paling menegangkan karena hasil pertandingan bisa berubah hanya dalam lima tendangan," katanya.
Menurut Ronny, Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bahwa adu penalti tidak pernah memandang reputasi sebuah negara.
Salah satu contohnya adalah tersingkirnya Belanda pada babak 32 besar setelah kalah dari Maroko melalui drama adu penalti.
"Penguasaan bola, kualitas pemain, hingga pengalaman tampil di turnamen besar bisa hilang nilainya ketika pertandingan memasuki adu penalti. Yang bertahan justru tim dengan mental paling kuat," ujar pria yang juga mantan Tim Manajer Persebaya ini.
Ia menambahkan bahwa sejarah juga memperlihatkan bagaimana negara-negara besar, termasuk Jerman, pernah merasakan manis sekaligus pahitnya adu penalti. Hal itu membuktikan tidak ada tim yang benar-benar kebal terhadap tekanan dari titik putih.
Ronny menilai tekanan psikologis dalam adu penalti tidak hanya dirasakan penendang, tetapi juga penjaga gawang.
Bagi penendang, setiap kegagalan berpotensi dikenang sepanjang kariernya. Ia mencontohkan kegagalan Roberto Baggio pada final Piala Dunia 1994 yang hingga kini masih menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepakbola.
Sementara bagi penjaga gawang, situasinya tidak kalah berat. Selain harus menebak arah bola dalam waktu yang sangat singkat, mereka juga harus mematuhi aturan baru yang mengharuskan satu kaki tetap berada di garis gawang saat eksekusi dilakukan.
Ronny mengingatkan bahwa Indonesia juga memiliki sejarah pahit dalam eksekusi penalti di berbagai pertandingan penting. Nama-nama seperti Anjas Asmara maupun Suaeb Rizal menjadi bagian dari catatan tersebut setelah gagal menjalankan tugas pada momen krusial.
Menurutnya, tekanan yang dirasakan pemain Indonesia sejatinya tidak berbeda dengan pemain kelas dunia.
Ronny menegaskan bahwa adu penalti akan selalu menjadi bagian paling dramatis dalam sepak bola karena menghadirkan pertarungan psikologis yang sulit diprediksi.
(MP/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi