Analisadaily.com, Medan – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Sumatera Utara memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Kejeruan Metar Bilad Deli (KMBD) dalam melestarikan budaya Melayu.
Melalui Perhelatan Adat Sunat yang memadukan syariat Islam dengan kekayaan tradisi, KMBD dinilai berhasil menghidupkan kembali warisan leluhur yang kini mulai jarang terlihat di Tanah Deli.
Mewakili Plt. Kepala Dinas Yuda Pratiwi Setiawan, Kepala Bidang di Disbudparekraf Sumut, Sylvya Rosita Armayanti Lubis, mengaku sangat terkesan dan excited menyaksikan langsung rangkaian prosesi adat tersebut.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Kejeruan Metar Bilad Deli. Perhelatan ini sangat istimewa karena mampu menghidupkan kembali tradisi Melayu yang mulai jarang terlihat bahkan di Sumatera Utara. Budaya seperti inilah yang harus terus dijaga, dipromosikan, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas daerah," ungkap Sylvya.
Rangkaian Prosesi Adat yang Memukau Ratusan Warga
Perhelatan yang berlangsung pada Minggu (5/7/2026) di kediaman Tokoh Masyarakat Kota Medan, Agung Indra Syahputra (Ketua Panitia bergelar Datok Cakra Indra Ambara Diraja KMBD), di Jalan Gurilla No. 44 Medan Perjuangan, berhasil menyedot perhatian ratusan warga.
Sebanyak 53 anak mengikuti khitanan massal gratis yang ditangani oleh tim medis RS Eshmun Marelan. Sebelum dikhitan, anak-anak yang sedang menikmati libur sekolah ini diwajibkan mengikuti ritual adat Melayu yang sarat nilai filosofi:
- Mandi Belimau: Ritual penyucian diri menggunakan air bercampur bunga rampai dan jeruk purut yang dilakukan oleh Raja bersama para Datok dan tamu kehormatan.
- Julang Adat: Anak-anak dipanggul di atas bahu ayah atau kerabat laki-laki mereka, lalu diarak menuju lokasi acara dengan iringan rebana, pembawa balai adat, dulang juadah bertudung, serta atraksi silat Melayu.
- Tepung Tawar: Prosesi penutup yang diiringi lantunan marhaban sebagai doa keselamatan, keberkahan, dan harapan agar kelak menjadi generasi yang bertakwa.
Syarak Bersendikan Adat, Adat Bersendikan Kitabullah
Acara ini dibuka secara resmi oleh YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, Raja Kejeruan Metar Bilad Deli XI bergelar Al-Mulk Akbar Shah. Dalam Amaran Diraja, beliau menjelaskan bahwa KMBD telah berdiri sejak abad ke-17 di kawasan Mabar, jauh sebelum lahirnya Kesultanan Deli.
Kebangkitan kembali KMBD menjadi momentum penting untuk mengembalikan jati diri Melayu. Raja Metar menegaskan bahwa seluruh program KMBD berlandaskan filosofi kuat masyarakat Melayu dunia.
"Perhelatan adat sunat ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi ikhtiar menjaga warisan leluhur, memperkokoh identitas Melayu, sekaligus menegaskan bahwa syariat Islam dan adat istiadat dapat berjalan berdampingan. Insya Allah kegiatan ini akan terus kami laksanakan setiap musim libur sekolah," ujar Raja.
Dihadiri Tokoh Lintas Sektor dan Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata
Suasana religius semakin kental saat Datok Hadi Muslim memimpin doa sebelum prosesi khitan dimulai. Setelah selesai, seluruh anak-anak pulang dengan senyum lebar setelah menerima bingkisan berupa tas sekolah dan perlengkapan lainnya.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Sumatra Utara, di antaranya:
- Fajri Akbar (Anggota DPRD Sumut Komisi E / Datok Daksa Satya Wangsa Diraja KMBD)
- Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.BS(K) (Datok Sri Satya Lencana Negeri KMBD)
- Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag. (PW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Sumut)
- dr. H. Agus Salim, Sp.THT-K (Ketua IDI Cabang Langkat)
- Resti Oktriani Sinulingga, M.Hum. (Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumut)
Bagi Disbudparekraf Sumut, festival budaya berbasis tradisi daur hidup (life cycle) seperti ini tidak hanya sekadar melestarikan sejarah, tetapi memiliki potensi besar untuk dikemas menjadi atraksi budaya khas Kota Medan yang dapat memperkaya daya tarik pariwisata budaya di Sumatera Utara.











