Bayer Indonesia Hadirkan Camalus

Inovasi Insektisida Sistemik Ganda untuk Memperkuat Produktivitas Hortikultura Nasional

Inovasi Insektisida Sistemik Ganda untuk Memperkuat Produktivitas Hortikultura Nasional
Camalus merupakan insektisida pertama yang mampu mengendalikan hama pengunyah dan pengisap sekaligus pada tanaman hortikultura. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Simalungun - Bayer, perusahaan life science global yang bergerak di bidang kesehatan dan pertanian meluncurkan Camalus, insektisida generasi terbaru untuk petani hortikultura di Indonesia. Camalus merupakan insektisida pertama yang mampu mengendalikan hama pengunyah dan pengisap sekaligus pada tanaman hortikultura.

Berdasarkan hasil uji coba lapangan, penggunaannya telah terbukti membantu meningkatkan produktivitas lahan dengan potensi penyelamatan hasil panen dari serangan hama, serta menurunkan biaya produksi secara signifikan karena petani tidak lagi perlu mencampur berbagai jenis insektisida.

Hortikultura menjadi salah satu sub sektor pertanian prioritas nasional - dengan pertumbuhan 3,85 persen pada triwulan IV 2025 (yoy). Pemerintah pun mendorong hilirisasi sektor ini melalui peningkatan ekspor hortikultura, yang tercatat naik 49 persen pada semester I 2025 .

Produksi cabai besar tahun 2025 mencapai 1,72 juta ton, naik sebesar 16,73% (245,70 ribu ton) dibandingkan tahun 2024. Konsumsi cabai besar oleh sektor rumah tangga tahun 2025 mencapai 641,93 ribu ton, naik sebesar 6,91% (41,51 ribu ton) dibandingkan tahun 2024.

Provinsi dengan produksi cabai besar terbesar adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Sumatera Utara berkontribusi sebesar 12,53% dengan produksi mencapai 214,87 ribu ton dan luas panen 16,37 ribu hektar.

Meski demikian ancaman hama pemakan daun (chewing) dan penusuk-pengisap (sucking) (hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips) tetap menjadi ancaman terbesar petani hortikultura Indonesia. Hama ulat daun kubis (Plutella xylostella), salah satunya, yang dapat menyebabkan hilangnya hasil panen 50 hingga 100 persen apabila tidak dikendalikan .

“Tantangan yang dihadapi petani hortikultura semakin kompleks karena hama pengunyah dan penghisap (hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips) umumnya menyerang bersamaan. Untuk mengatasinya, petani mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam. Camalus dari Bayer menjawab kesenjangan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya tanaman hortikultura. Bayer juga memastikan setiap solusi yang kami hadirkan, termasuk Camalus , telah melalui proses riset dan adaptasi yang matang terhadap kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama spesifik yang dihadapi petani hortikultura di Indonesia” ujar Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo - yang membawahi Bayer JUARA, pusat riset dan pengembangan (R&D) pertanian Bayer yang terbesar kedua di Asia Tenggara.

Ia menambahkan bahwa Camalus mempunyai banyak kelebihan dan juga mempunyai cara kerja yang unik dibandingkan produk konvensional lainnya karena Camalus sangat bisa diandalkan dengan 2 bahan aktif plus sistem perekat untuk pengendalian resistensi hama.

Ulat lebih cepat berhenti makan, sehingga melindungi sejak awal kerusakan lebih berat. Camalus bekerja secara sistemik penuh dengan memberikan perlindungan ampuh untuk hama tersembunyi di dalam dan di luar daun, serta memberikan pengendalian tuntas dan lengkap (mengendalikan hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun serta menekan populasi thrips).

Proses R&D Camalus berlangsung selama sekitar 10 tahun, mulai tahap discovery molekul dan optimalisasi formulasi di laboratorium, dilanjutkan dengan uji efikasi dan studi keamanan produk, hingga proses registrasi resmi. Setelah pengujian di tingkat global, Camalus turut diuji coba secara khusus di Indonesia melalui ratusan uji coba lapangan di berbagai wilayah serta pengujian intensif di pusat riset Bayer JUARA di Klaten.

Hasilnya, Camalus secara konsisten menunjukkan performa pengendalian hama yang lebih baik dan dapat menjawab resistensi yang dihadapi petani dalam perawatan tanaman hortikultura.

Camalus memiliki spektrum pengendalian hama yang unik dengan menghadirkan mekanisme kerja ganda (dual mode of action) untuk mengendalikan hama pengunyah dan pengisap secara efektif bersamaan.

Berbahan aktif Tetraniliprole dan Spirotetramat dalam satu formulasi, insektisida inovatif ini mampu bergerak dua arah di dalam jaringan tanaman (akropetal dan basipetal) sehingga memberikan perlindungan menyeluruh, baik di dalam dan luar daun, maupun batang dan buah, termasuk tunas baru.

Dilengkapi sistem perekat, Camalus mampu memberikan durasi pengendalian hama lebih lama, bahkan setelah hujan. Penggunaan insektisida terbaru dari Bayer ini juga kompatibel dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) karena efektif pada dosis rendah dan selektif terhadap hama sasaran sehingga minim berdampak pada predator/parasitoid alami.

Camalus melindungi dari serangan hama pengunyah (ulat bor/buah, ulat daun/diamond back moth, ulat grayak, ulat krop kubis, penggorok daun, lalat buah) dan penusuk-pengisap (kutu kebul, thrips, kutu daun) pada beragam jenis tanaman hortikultura, meliputi cabai, tomat, kubis, bawang merah, kentang, semangka, jeruk, dan mangga.

Indonesia menjadi pasar ketiga Camalus secara global, setelah sebelumnya diperkenalkan di India dan Filipina tahun lalu. Peluncuran Camalus di Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, hari ini turut dihadiri Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo; Commercial Unit Lead West, Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono; dan Brand Portfolio Manager Indonesia & Malaysia, Samuel Ady Mahendra; beserta 350 petani desa setempat.

Para petani juga berkesempatan melihat langsung efektifitas pengaplikasian Camalus di lahan demplot tanaman cabai, tomat, dan kubis; tiga komoditas hortikultura andalan wilayah tersebut. Tanaman cabai yang telah mendapatkan aplikasi Camalus menunjukkan kondisi yang sehat, segar dan mengkilat. Sumatra Utara merupakan penghasil cabai besar terbesar ketiga (12,53 persen) secara nasional pada 2025.

“Tak berhenti pada komitmen berinovasi, ketersediaan dan kemudahan akses terhadap teknologi pertanian juga menjadi prioritas Bayer. Karenanya, kami memastikan agar Camalus hadir dekat dengan keseharian petani, baik dari sisi ketersediaan maupun kemudahan akses. Dengan demikian, semakin banyak petani hortikultura Indonesia yang bisa merasakan manfaat insektisida generasi baru Bayer dan pada akhirnya turut mendorong peningkatan kesejahteraan mereka," ujar Commercial Unit Lead West, Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono.

Bayer akan memperluas distribusi Camalus ke 13 provinsi sepanjang 2026 yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Bayer memperkuat produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia, khususnya di subsektor hortikultura.

Camalus saat ini tersedia dalam kemasan co-pack berukuran 100ml. Produk akan tersedia secara bertahap melalui jaringan kios tani, termasuk Better Life Farming Center (BLFC). Edukasi teknis mengenai dosis anjuran dan protokol aplikasi Camalus yang aman bisa didapatkan langsung dari tim agronomis Bayer di lapangan, ataupun diakses melalui sosial media: Facebook dan Instagram Bayer CS Petani.

Baca Juga

Rekomendasi