Analisadaily.com, Medan - Banjir tidak selalu berakhir ketika genangan air mulai surut. Justru setelah air menghilang, berbagai ancaman kesehatan mulai bermunculan akibat lingkungan yang masih lembap, sumber air yang tercemar, serta kondisi sanitasi yang belum sepenuhnya pulih.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Satya Terra Bhinneka (USTB) melakukan penelitian mengenai dampak kesehatan pascabanjir di Kampung Lalang, Kota Medan.
Penelitian bertajuk "Analisis Dampak Kesehatan Pascabanjir dan Intervensi Kebidanan di Wilayah Kampung Lalang" ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang penelitian yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.
Dosen pembimbing penelitian, Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM, mengatakan bahwa penelitian tersebut bertujuan memotret kondisi kesehatan masyarakat setelah banjir sekaligus mengidentifikasi bentuk intervensi yang dapat dilakukan tenaga kebidanan dalam upaya pencegahan penyakit.
"Sering kali perhatian masyarakat hanya tertuju pada kerusakan fisik pascabanjir, padahal ancaman kesehatan justru mulai muncul ketika air sudah surut. Melalui penelitian ini, kami ingin memberikan gambaran bahwa pemulihan kesehatan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam proses penanganan pascabencana," ujarnya.
Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap 20 warga Kampung Lalang. Pendekatan tersebut dipilih agar data yang diperoleh tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga menggambarkan pengalaman langsung masyarakat dalam menghadapi dampak banjir terhadap kesehatan mereka.
Hasil penelitian menunjukkan penyakit kulit menjadi keluhan yang paling banyak dialami warga. Sebanyak 13 responden mengaku mengalami gatal-gatal maupun gangguan kulit lainnya setelah banjir melanda kawasan tersebut.
Selain itu, empat responden melaporkan mengalami diare yang diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas air bersih serta kondisi sanitasi lingkungan yang belum sepenuhnya kembali normal.
Menurut Dita Anggriani Lubis, temuan tersebut memperlihatkan bahwa proses rehabilitasi pascabanjir tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah, jalan, maupun fasilitas umum.
"Pemulihan kesehatan masyarakat harus berjalan seiring dengan pemulihan infrastruktur. Jika tidak menjadi perhatian, penyakit-penyakit yang muncul setelah banjir dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas," katanya.
Ia menjelaskan bahwa profesi bidan memiliki peran yang tidak hanya terbatas pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga berkontribusi dalam upaya promotif dan preventif di tengah masyarakat.
Bidan dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan air bersih yang aman, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga mengenali gejala awal penyakit agar masyarakat segera mendapatkan penanganan medis.
Selama proses penelitian berlangsung, tim juga menemukan tingginya partisipasi masyarakat Kampung Lalang. Warga tidak hanya bersedia menjadi responden, tetapi juga terbuka menceritakan berbagai persoalan yang mereka hadapi setelah banjir.
Menurut Dita, keterbukaan masyarakat menjadi modal penting dalam menyusun rekomendasi intervensi kesehatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
"Data yang kami peroleh bukan hanya angka, tetapi juga pengalaman nyata masyarakat. Hal ini menjadi dasar yang sangat penting dalam merancang edukasi dan intervensi kesehatan yang lebih efektif," jelasnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan penyakit sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala penyakit setelah banjir.
"Prinsipnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran penyakit pascabencana," ungkapnya.
Melalui penelitian ini, mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Satya Terra Bhinneka berharap masyarakat tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik setelah banjir, tetapi juga menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama.
Dengan semangat gotong royong, kepedulian bersama, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, masyarakat diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan bencana di masa mendatang.
Penelitian tersebut dilaksanakan oleh tim mahasiswa Program Studi Kebidanan Universitas Satya Terra Bhinneka yang terdiri atas Angelita Putri, Marta Agustina, Naura Zakkyah, Octa Malinda Sihombing, Putri Sihombing, Risa Everani, Santa Mikhal, dan Sonia Melina di bawah bimbingan Bd. Dita Anggriani Lubis, S.Tr.Keb., M.K.M., CTM-BM.
(NS/BR)











