Analisadaily.com, Medan - Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) berhasil merehabilitasi dan menanam mangrove seluas 1.455 hektare di Sumatera Utara selama tiga tahun terakhir. Capaian tersebut diraih melalui skema Matching Grants yang memberdayakan 19 Kelompok Tani Hutan (KTH) di lima kabupaten.
Keberhasilan itu dipaparkan Program Manager Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Sumut, Aditya Wahyu Putra, S.Hut., pada peringatan Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Pantai Merdeka, Desa Bagan Kuala, Kabupaten Serdang Bedagai, Minggu (26/7/2026).
Peringatan Hari Mangrove Sedunia mengusung tema nasional "Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang" yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Di Sumatera Utara, kegiatan tersebut dikemas melalui tema
"Kolaborasi Sumut Berkah" yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumut, Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi), BPDAS Wampu Sei Ular, pegiat lingkungan, serta PPIU Sumut melalui Program M4CR.
Aditya mengatakan, sepanjang 2024 hingga 2026, Program M4CR berhasil merehabilitasi dan menanam mangrove seluas 1.455 hektare. Rinciannya, 636 hektare pada 2024, 322 hektare pada 2025, dan 497 hektare pada 2026.
"Selama tiga tahun, dari 2024 hingga 2026, kami berhasil merehabilitasi dan menanam mangrove seluas 1.455 hektare," ujar Aditya.
Dia menambahkan, di Kabupaten Serdang Bedagai rehabilitasi mangrove telah dilakukan di lima lokasi dengan total luas 83 hektare. Sebanyak 8 hektare di antaranya ditanam secara serentak pada peringatan Hari Mangrove Sedunia di Desa Bagan Kuala.
"Terima kasih kepada masyarakat Bagan Kuala yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kawasan pesisir," katanya.
Menurut Aditya, keberhasilan rehabilitasi tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas ekosistem pesisir, tetapi juga memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kawasan mangrove secara berkelanjutan.
Mangrove memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari abrasi, penyerap karbon biru (blue carbon) dalam jumlah besar, sekaligus habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi salah satu upaya strategis dalam menjaga ketahanan pesisir dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Kepala DLHK Provinsi Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, S.STP., M.AP., mengatakan keberhasilan rehabilitasi mangrove merupakan hasil kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra.
"Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi warisan yang dapat dinikmati anak cucu kita. Menjaga mangrove berarti menjaga kawasan pesisir yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan di masa depan. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam upaya pelestarian mangrove," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) menyerahkan Mangrove Awards kepada tokoh dan kelompok masyarakat yang dinilai berjasa dalam pelestarian mangrove. Penghargaan diberikan untuk kategori Kepala Desa Terbaik, Kelompok Restorasi Terbaik, dan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Terbaik.
Selain rehabilitasi, Program M4CR juga terus memperkuat edukasi dan kampanye pelestarian mangrove. Bersama Yayasan SPEAK Indonesia, PPIU Sumut mengembangkan strategi komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem mangrove terus meningkat.
Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove demi mewujudkan pesisir Sumatera Utara yang lestari dan berkelanjutan.(MUL)
(DEL)











