Dari CPO hingga Investasi, BI Pacu Ekonomi Sumut Lebih Tinggi (Analisadaily/Irin Juwita)
Analisadaily.com, Medan - Perekonomian Sumatera Utara menunjukkan penguatan di tengah perlambatan ekonomi global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II mencapai 5,06 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,98 persen.
“Ini cukup menggembirakan. Kalau dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonomi di Sumatera, Sumatera Utara termasuk yang beruntung karena pertumbuhannya semakin cepat,” ujar Ameriza didampingi Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Iman Gunadi, Kepala Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi DAN Perlindungan Konsumen OJK Prov. Sumut, Yovvi Sukandar dan Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II (DJPB Sumut), Edy Purwanto di acara Bincang Bareng Media (BBM) Ekonomi Bisnis, Jumat (7/8).
Menurut Ameriza, kinerja ekonomi Sumut tidak terlepas dari meningkatnya ekspor, terutama komoditas crude palm oil (CPO). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat produk ekspor Indonesia relatif lebih kompetitif di pasar internasional.
“Komoditas terutama ekspor meningkat di Sumatera Utara, khususnya CPO. CPO ini merupakan salah satu komoditas utama Sumatera Utara. Kalau ekonomi Sumatera Utara ini dilihat dari CPO-nya, kalau CPO bangkit, ekonomi pasti berkembang,” katanya.
Kinerja sektor pertanian dan industri pengolahan turut memperkuat pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan industri pengolahan meningkat dari sekitar 1,53 persen menjadi 1,96 persen, sedangkan sektor pertanian naik dari 0,41 persen menjadi 1,61 persen.
Selain ekspor, konsumsi rumah tangga, pariwisata, investasi, serta belanja pemerintah juga menjadi penopang ekonomi Sumut. Aktivitas pariwisata yang meningkat turut menggerakkan perdagangan dan konsumsi masyarakat.
Di sisi pemerintah, berbagai proyek pembangunan ikut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi. Belanja pemerintah pusat melalui proyek strategis nasional, pembangunan dan rehabilitasi pascabencana, sekolah rakyat, pembangunan desa hingga jalan tol Trans Sumatera turut mendorong sektor konstruksi.
“Kita juga diuntungkan dengan proyek pemerintah pusat. Jadi konsumsi pemerintah meningkat,” ujar Ameriza.
Sektor perdagangan juga masih menunjukkan kinerja kuat dengan pertumbuhan sekitar 10,06 persen. Meski sedikit melambat dari 10,6 persen, Ameriza menilai angka tersebut masih menunjukkan performa yang tinggi.
“Kalau 10 persen itu besar. Jadi walaupun sedikit turun dari 10,6 menjadi 10,06 persen, itu tidak berarti jelek karena angkanya masih 10 persen,” katanya.
Namun, BI menilai pertumbuhan ekonomi Sumut tidak dapat terus bergantung pada belanja pemerintah. Investasi perlu diperkuat sebagai sumber pertumbuhan baru agar perekonomian daerah dapat tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan.
Ameriza mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi perusahaan yang berada di kisaran 8 persen, Sumut perlu mencari sumber pertumbuhan baru, terutama dengan memperbesar investasi.
“Apakah pertumbuhan ekonomi cukup hanya mengandalkan pemerintah? Tentu tidak. Karena itu, kita perlu memikirkan sumber pertumbuhan lainnya. Kalau kita lihat dari sumber pertumbuhan ekonomi, salah satu jalan untuk mempercepat pertumbuhan adalah melalui investasi,” tegasnya.
Untuk itu, BI Sumut bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, BPS, pemerintah kabupaten/kota, BNI, Kementerian Keuangan dan sejumlah instansi terkait membentuk North Sumatera Investment. Wadah kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan proyek investasi yang konkret dan lebih menarik bagi calon investor.
Menurut Ameriza, tantangan investasi bukan hanya soal besarnya potensi Sumut, tetapi bagaimana potensi tersebut dikemas menjadi proyek yang siap ditawarkan kepada investor.
“Bukan hanya mengatakan bahwa Sumatera Utara memiliki potensi, tetapi kita harus mengemasnya dalam bentuk proyek investasi yang konkret sehingga layak ditawarkan kepada calon investor,” ujarnya.
BI Sumut bersama mitra terkait kemudian mengidentifikasi proyek potensial, membantu penyusunan agar proyek lebih bankable, memberikan capacity building, serta memfasilitasi promosi investasi di dalam maupun luar negeri.
Promosi tersebut juga diperluas melalui kolaborasi antarprovinsi di Pulau Sumatera. Salah satunya melalui Sumatera Investment Day yang mempertemukan pemilik proyek dengan investor dari dalam dan luar negeri, termasuk dari China, Singapura dan Malaysia.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperbesar arus investasi ke Sumut sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar konsumsi dan belanja pemerintah.
Dorong pangan, UMKM dan ekonomi syariah
Selain investasi, BI Sumut juga memperkuat sektor-sektor yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Di sektor pangan, BI mengembangkan sekitar 16 cluster komoditas, antara lain padi, cabai, bawang merah, jagung dan perikanan.
Program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir sehingga dapat menjadi model yang direplikasi di daerah lain.
Di sektor UMKM, BI memperkuat sistem pengembangan melalui standardisasi proses rekrutmen, kurasi, pendampingan, capacity building, akses pembiayaan dan pemasaran.
BI juga berkolaborasi melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM. Langkah ini diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan naik kelas.
Pengembangan ekonomi syariah dan industri halal juga menjadi bagian dari strategi BI Sumut. Pengembangan produk halal berbasis potensi lokal, pembentukan sentra produk halal serta penguatan ekosistem ekonomi syariah terus didorong melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Digitalisasi jadi penopang ekonomi baru
BI Sumut juga melihat ekonomi digital sebagai salah satu sumber pertumbuhan yang semakin penting. Digitalisasi pembayaran terus diperluas melalui QRIS, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, UMKM, pariwisata hingga ekonomi kreatif.
Di Sumut, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 3,2 juta, sementara merchant mencapai sekitar 1,2 juta. Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Digitalisasi juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi transaksi pemerintah daerah, termasuk pembayaran dan penerimaan pajak melalui QRESTO sekaligus memperkuat transparansi dan inklusi keuangan.
BI Sumut terus mendorong edukasi dan literasi digital melalui workshop, pelatihan, digital corner serta kegiatan yang melibatkan UMKM, masyarakat, pelajar dan mahasiswa.
Sumut diproyeksi tumbuh hingga 5,7 persen
Dengan berbagai faktor tersebut, BI Sumut optimistis pertumbuhan ekonomi daerah masih dapat meningkat hingga akhir 2026. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumut berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
“Kami masih meyakini tahun 2026 ini sampai akhir tahun, Sumatera Utara masih bisa tumbuh antara 4,9 sampai 5,7 persen. Jadi bisa dikatakan pertumbuhan 2026 ini akan lebih baik daripada 2025,” kata Ameriza.
Optimisme tersebut didukung oleh produksi CPO yang diperkirakan tetap baik, harga komoditas yang kompetitif, berlanjutnya proyek pemerintah serta efek basis rendah akibat bencana pada tahun sebelumnya.
BI juga melihat pengembangan pariwisata dan kegiatan berskala nasional maupun internasional sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi Sumut. Medan bahkan didorong menjadi kota MICE atau Meeting (Pertemuan), Incentive (Perjalanan Insentif), Conference (Konferensi), dan Exhibition (Pameran). Sehingga mampu menarik lebih banyak kegiatan, wisatawan dan belanja masyarakat.
“Kenapa tidak Medan kita jadikan seperti Bali, kita jadi kota MICE? Secara geografis kita lebih dekat dengan luar negeri, dekat Malaysia dan Singapura. Sebenarnya kita punya peluang, tinggal pekerjaan rumah kita adalah melengkapi infrastrukturnya,” ujarnya.
Di tengah tantangan ekonomi global, Ameriza menilai kekuatan Sumut terletak pada kemampuan mengoptimalkan potensi daerah sekaligus membangun sumber pertumbuhan yang lebih beragam.
Investasi, ekspor, pariwisata, pertanian, UMKM, ekonomi digital, ekonomi syariah serta proyek pembangunan pemerintah diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi satu ekosistem yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut lebih tinggi, inklusif dan berkelanjutan. (WITA)











