Petani Sambut Positif Cetak Sawah di Tanjung Beringin, Krisis Air dan SOP Pengerjaan Jadi Sorotan

Petani Sambut Positif Cetak Sawah di Tanjung Beringin, Krisis Air dan SOP Pengerjaan Jadi Sorotan
Petani Sambut Positif Cetak Sawah di Tanjung Beringin, Krisis Air dan SOP Pengerjaan Jadi Sorotan (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Serdang Bedagai — Sosialisasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) cetak sawah dari Kementerian Pertanian yang digelar di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Selasa (11/8/2026), diwarnai antusiasme sekaligus kritik dari para petani.

Meski disambut baik sebagai langkah strategis meningkatkan kesejahteraan, program ini dibayangi persoalan krusial terkait ketersediaan air irigasi dan standar pengerjaan di lapangan.

Acara yang berlangsung di aula Kantor Desa Tebing Tinggi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah dan instansi terkait, di antaranya Kabag Hukum Pemkab Sergai M. Hakim Harahap, perwakilan Badan Pengelolaan Lahan Irigasi Pertanian (BPLIP) Medan Deden, Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Sergai Marnangkok Gultom, serta Pj. Kepala Desa Tebing Tinggi Ilham.

Dukungan nyata terhadap program ini datang dari Turman (61), seorang pemilik lahan yang rela mengalihfungsikan kebun sawit miliknya seluas kurang lebih 88 hektare menjadi lahan persawahan. Lahan tersebut terbagi di dua lokasi, yakni Dusun IV Lubuk Pulai seluas 35 hektare dan Dusun I seluas 53 hektare.

Kendati mendukung penuh, Turman menyuarakan kekhawatiran mendasar mengenai belum tersedianya sumber air untuk mengairi areal persawahan tersebut, khususnya di wilayah Dusun I.

"Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat petani, tetapi yang menjadi persoalan adalah sumber air untuk mengairi sawah," ungkap Turman dalam sesi tanya jawab.

Selain masalah air, Turman bersama petani lain, D Br Tambah (60), pemilik lahan sekitar 20 hektare, juga menyoroti teknis pengerjaan oleh kontraktor di lapangan. Menurut mereka, pengerjaan cetak sawah dinilai belum sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), seperti pengerukan sedimen yang kurang dalam sehingga dikhawatirkan membuat lahan tidak optimal untuk ditanami.

Senada dengan hal tersebut, Rudi Naibaho (41) mempertanyakan keberlanjutan program setelah pencetakan selesai. Ia mendesak adanya kejelasan terkait nasib lahan ke depannya jika infrastruktur pendukung seperti irigasi tidak kunjung dibangun.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kabag Hukum Pemkab Sergai, M. Hakim Harahap, mengapresiasi dukungan para petani yang telah menyerahkan lahannya untuk dijadikan areal persawahan. Terkait berbagai pertanyaan teknis dari petani, ia menyatakan akan meneruskannya kepada bidang yang lebih berwenang.

Sementara itu, perwakilan BPLIP Medan, Deden, menjelaskan bahwa penyediaan sarana irigasi sebenarnya sudah masuk dalam blueprint perencanaan program. Namun, pembangunannya akan direalisasikan secara bertahap pada fase berikutnya.

Di tengah asa peningkatan produktivitas pertanian melalui sinergi pusat dan daerah, yang turut melibatkan dukungan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pertanian, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta Bupati Sergai Darma Wijaya, para petani berharap janji pembangunan irigasi dapat segera direalisasikan agar modal alih fungsi lahan yang telah mereka keluarkan tidak sia-sia.

(BAH/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi