BRT Mebidang, Harapan Baru Transportasi Massal Sumut yang Lebih Nyaman dan Modern

BRT Mebidang, Harapan Baru Transportasi Massal Sumut yang Lebih Nyaman dan Modern
BRT Mebidang, Harapan Baru Transportasi Massal Sumut yang Lebih Nyaman dan Modern (Analisadaily/zulnaidi)

Analisadaily.com, Medan — Kemacetan bukan sekadar persoalan panjangnya antrean kendaraan di jalan. Di balik kemacetan, ada waktu masyarakat yang terbuang, biaya perjalanan yang membengkak, hingga kualitas udara yang semakin terbebani. Karena itu, kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang (Mebidang) dinilai sebagai harapan baru untuk membangun wajah transportasi Sumatera Utara yang lebih modern, nyaman dan berkelanjutan.

Anggota DPRD Sumatera Utara Ir Yahdi Khoir Harahap, MBA, menyambut positif hadirnya BRT tersebut. Menurutnya, Medan, Binjai dan Deli Serdang meskipun secara administratif berada di wilayah berbeda, sesungguhnya merupakan satu kawasan yang saling terhubung dalam aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
“Ini program yang sangat bagus dan positif untuk menjadi solusi transportasi modern, efisien dan nyaman. Kita berharap inilah transportasi massal yang bisa menjadi solusi terhadap kesemrawutan dan kemacetan yang selama ini kita hadapi,” ujar Yahdi yang juga Wakil Ketua Komisi D DPRD Sumut saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (21/8/2026).
Menurut Yahdi, keunggulan BRT tidak hanya terletak pada keberadaan armada baru, tetapi terutama pada konsep transportasi massal yang memiliki koridor khusus. Hal tersebut menjadi pembeda dengan sejumlah layanan bus sebelumnya yang masih harus berbagi ruang dengan kendaraan lain di jalan raya.
Ia menilai, tanpa jalur khusus, transportasi umum sulit memberikan kepastian waktu kepada masyarakat. Sebaliknya, dengan sistem BRT yang memiliki koridor dan halte yang terencana, masyarakat dapat memperoleh perjalanan yang lebih terukur, nyaman dan efisien.
Dari Kendaraan Pribadi ke Transportasi Massal
Yahdi berharap kehadiran BRT perlahan mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini lebih banyak mengandalkan kendaraan pribadi.
Baginya, keberhasilan transportasi massal bukan hanya diukur dari banyaknya bus yang beroperasi, tetapi dari seberapa besar masyarakat bersedia meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan angkutan umum.
“Kesadaran masyarakat juga harus ditingkatkan. Bagaimana masyarakat mau menggunakan transportasi massal, sehingga tidak lagi terlalu banyak menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor yang ikut menimbulkan kemacetan,” katanya.
Namun, perubahan perilaku masyarakat tersebut harus dibarengi dengan pelayanan yang benar-benar baik. Masyarakat tidak mungkin meninggalkan kendaraan pribadi jika transportasi umum tidak memberikan kenyamanan, kepastian waktu dan kemudahan akses.
Karena itu, Yahdi menekankan pentingnya membangun sistem transportasi yang terintegrasi. BRT harus terhubung dengan transportasi lain, termasuk bus listrik yang sudah beroperasi di Kota Medan serta angkutan lokal yang nantinya dapat berfungsi sebagai feeder.
“Feeder harus diciptakan. Harus ada moda yang terintegrasi, sehingga masyarakat dari mana pun bisa menuju halte dan melanjutkan perjalanan menggunakan BRT,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, masyarakat yang tinggal di luar Kota Medan dan bekerja di pusat kota tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi hingga tempat kerja. Kendaraan dapat ditinggalkan di titik tertentu, kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan transportasi massal.
Konsep itu, kata Yahdi, pada akhirnya bukan hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga menghemat biaya perjalanan dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.
Transportasi Lokal Jangan Ditinggalkan
Di tengah pembangunan sistem BRT, Yahdi juga mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan keberadaan pengusaha dan operator transportasi lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Menurutnya, transportasi lokal justru dapat menjadi bagian penting dalam sistem feeder. Pemerintah dapat memberikan fasilitasi, kemudahan dan stimulus agar armada transportasi lokal diperbarui dan memenuhi standar pelayanan.
“Transportasi lokal juga harus diperbarui unitnya. Pemerintah perlu memberikan kemudahan dan memfasilitasi serta menstimulasi mereka agar bisa masuk dalam sistem transportasi yang terintegrasi,” katanya.
Dengan demikian, pembangunan BRT tidak menimbulkan kesenjangan antara moda transportasi baru dan pelaku transportasi yang sudah lama beroperasi.
Sebaliknya, seluruh moda dapat saling melengkapi dalam satu ekosistem transportasi massal.
Bukan Sekadar Bus, tetapi Masa Depan Kota
Yahdi mengingatkan agar BRT tidak dipandang sekadar sebagai proyek pengadaan bus. Lebih jauh dari itu, BRT harus menjadi bagian dari perubahan besar menuju sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi.
Ia menyebut pembangunan koridor, halte, feeder, depo, hingga fasilitas park and ride harus dirancang dalam satu sistem yang saling terhubung.
“Jangan hanya busnya yang disiapkan. Sistemnya harus dibangun. Ada koridor, halte, feeder, park and ride dan integrasi dengan transportasi yang sudah ada,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah provinsi juga memiliki peran penting dalam memastikan sistem tersebut berjalan. Selain melakukan pengawasan terhadap operator dan pihak ketiga, Pemprov Sumut memiliki tanggung jawab dalam pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk depo.
Yahdi menyebut terdapat dukungan anggaran provinsi sekitar Rp27 miliar untuk pembangunan infrastruktur pendukung BRT, termasuk pembangunan depo dan pembebasan lahan. Sementara pengadaan armada mendapat dukungan pemerintah pusat melalui skema pembiayaan Bank Dunia.
Ia berharap seluruh dukungan tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Kalau ini berjalan dengan baik, masyarakat akan melihat bahwa transportasi umum ternyata bisa nyaman, aman dan efisien. Pada akhirnya masyarakat akan memilihnya tanpa harus dipaksa,” katanya.
Bagi Yahdi, keberhasilan BRT kelak bukan hanya ketika bus-bus memenuhi jalanan Mebidang. Ukuran keberhasilannya justru ketika masyarakat mulai berkata bahwa untuk bepergian, mereka tidak harus memiliki kendaraan pribadi.
Sebab, transportasi massal yang baik pada akhirnya bukan hanya memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga memindahkan sebuah kota menuju kehidupan yang lebih tertib, hemat, ramah lingkungan dan manusiawi.
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi