Fellowship PSPI-R Medan Ingatkan Tantangan Zaman, Jadilah Kuat, Jangan Biarkan Imanmu Goyah

Fellowship PSPI-R Medan Ingatkan Tantangan Zaman,  Jadilah Kuat, Jangan Biarkan Imanmu Goyah
Fellowship PSPI-R Medan Ingatkan Tantangan Zaman, Jadilah Kuat, Jangan Biarkan Imanmu Goyah (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com,Medan-Di tengah semakin kompleksnya tantangan kehidupan dan derasnya berbagai pengaruh yang dapat menggoyahkan iman, para pendeta dan hamba Tuhan diajak untuk tidak menjadi pribadi yang mudah diombang-ambingkan oleh keadaan.

Pesan tersebut mengemuka dalam ibadah fellowship Perkumpulan Seluruh Pendeta Indonesia (PSPI) Raya Kota Medan yang dipimpin Pdt Parlin Purba, SH, MH, MTh, di Gereja GBI Abadi, Jalan Abadi No 190 B, depan Kantor Brimob Sampali Medan, Jumat (28/8/2026).
Mengangkat tema “Jadilah Kuat” berdasarkan Efesus 6:10, fellowship tersebit menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya kekuatan iman di tengah berbagai tantangan zaman.
Pdt Parlin Purba menegaskan, fellowship tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan bersekutu, tetapi harus menjadi sarana untuk membangun kedewasaan iman para anggota PSPI-R.
Apa pun tantangan yang dihadapi, umat Tuhan harus tetap kuat, teguh dan tidak kehilangan pengharapan di dalam Kristus.
Pesan tersebut semakin dipertegas melalui khotbah Pdt EJ Hutahaean, SH, MMin. Khotbah yang dikemas dalam bentuk paparan seminar itu mengajak peserta melihat berbagai tantangan kekristenan dari perspektif Firman Tuhan sekaligus belajar dari perjalanan sejarah gereja.
Waspada terhadap Ajaran yang Menyesatkan
Pdt EJ Hutahaean mengingatkan bahwa Alkitab telah memberikan peringatan mengenai munculnya berbagai penyesatan menjelang kesudahan zaman.
Ia mengutip 1 Yohanes 4:1 agar orang percaya tidak begitu saja mempercayai setiap roh, melainkan menguji apakah roh tersebut berasal dari Elohim. Sebab, banyak nabi palsu telah muncul dan menyebar ke seluruh dunia.
Peringatan serupa terdapat dalam Matius 24:11 yang menyebutkan bahwa banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.
Menurutnya, peringatan tersebut tetap relevan bagi gereja masa kini. Orang percaya perlu memiliki dasar Firman Tuhan yang kuat sehingga tidak mudah terbawa oleh berbagai pengajaran yang sekilas tampak benar, tetapi sesungguhnya dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran Injil.
Pdt EJ Hutahaean juga membawa peserta melihat sejarah gereja. Sejak masa awal kekristenan, gereja telah menghadapi berbagai ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen, termasuk Gnostisisme.
Ia menjelaskan, sejumlah tulisan yang berkembang dalam lingkungan Gnostik kemudian dikenal melalui temuan Nag Hammadi Library, yang memuat berbagai teks keagamaan Kristen awal di luar kanon Perjanjian Baru, antara lain Injil Tomas dan Injil Filipus.
Pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa banyaknya tulisan atau ajaran yang menggunakan istilah dan nama-nama yang berkaitan dengan kekristenan tidak dengan sendirinya menjadikannya sebagai dasar iman gereja.
Karena itu, umat Tuhan harus memiliki kemampuan untuk menguji setiap ajaran dengan Firman Tuhan.
Kuat Bukan Hanya dalam Perkataan
Pdt EJ Hutahaean yang juga Bishop Gereja Kristen Pentakosta dan Penasehat PSPI-Raya Kota Medan kemudian menekankan bahwa kekuatan iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
“Hendaklah kita kuat dalam iman yang kita percayai dalam Yesus Kristus. Jadilah saksi sebagai suratan Kristus lewat tindak-tanduk kita, membawa damai sejahtera dan menyejukkan banyak orang tanpa membeda-bedakan,” pesannya.
Menurutnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara mengenai iman, tetapi membutuhkan orang percaya yang hidupnya menjadi kesaksian.
Iman yang kuat harus melahirkan kehidupan yang membawa damai, memberi kesejukan, tidak mudah menghakimi dan mampu menjadi berkat bagi sesama.
Pesan itu mendapat respons positif dari Pdt Parlin Purba. Ia meyakini pemaparan Firman Tuhan yang disampaikan Pdt EJ Hutahaean memberikan pencerahan bagi para pendeta, hamba Tuhan dan jemaat yang hadir.
Ia berharap fellowship tersebut semakin memperkuat iman seluruh peserta agar tetap teguh meskipun menghadapi berbagai tantangan dan pengaruh yang berusaha melemahkan kehidupan rohani.
“Jadilah kuat” akhirnya bukan hanya menjadi tema sebuah fellowship, tetapi menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk tetap berdiri teguh di dalam Kristus.
Doakan KKR Pdt Risuli
Dalam kesempatan tersebut, Pdt Parlin Purba juga kembali mengingatkan seluruh peserta untuk mendukung dalam doa pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Pdt Risuli dari Jakarta yang akan digelar 8-9 September 2026.
Ia mengajak seluruh pendeta dan jemaat untuk bersama-sama mendoakan agar KKR tersebut berjalan sukses dan menjadi momentum lawatan Tuhan bagi Kota Medan dan sekitarnya.
Sementara itu, Pdt Drs J Parhusip, MTh menyampaikan rasa syukur melihat perkembangan fellowship PSPI-Raya Kota Medan.
Menurutnya, jumlah peserta yang terus bertambah, bahkan mencapai sekitar dua ratus orang dalam sejumlah fellowship, merupakan anugerah Tuhan.
Ia menilai PSPI-Raya Kota Medan telah menjadi wadah yang semakin penting untuk mempererat fellowship dan kebersamaan para pendeta serta hamba Tuhan.
Tuan rumah, Pdt Drs Sahat Manik, MA, Gembala Sidang GBI Abadi, juga menyampaikan rasa syukur karena gereja yang dipimpinnya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan fellowship tersebut.
Ia menyebut kesempatan itu sebagai anugerah Tuhan dan menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelayanan.
Ia kemudian mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama berdoa agar Tuhan memberkati setiap pelayanan PSPI-Raya Kota Medan, termasuk pelaksanaan KKR mendatang.
Fellowship tersebut menjadi pengingat bahwa gereja tidak boleh lemah menghadapi zaman.
Di tengah berbagai suara, pengajaran dan pengaruh yang datang silih berganti, orang percaya dipanggil untuk tetap kuat dalam iman, teguh dalam Firman, bijaksana menguji setiap ajaran dan menjadi kesaksian Kristus yang membawa damai bagi dunia. (js)
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi