Josua Putrada Sianipar Menemukan Jalan lewat Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation (Analisadaily/istimewa )
Analisadaily.com, Medan - Jalan menuju bangku kuliah bagi sebagian orang tidak selalu terbentang mulus. Ada yang harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, pilihan sulit, hingga keputusan besar yang menentukan masa depan. Namun, bagi Josua Putrada Sianipar, tantangan justru menjadi pemantik untuk terus mencari peluang.
Kini bekerja sebagai Credit Analyst di Mizuho Group Finance, Josua pernah berada di titik ketika mimpi kuliah di perguruan tinggi negeri hampir pupus. Kondisi kesehatan orang tua membuatnya harus melepas kesempatan masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur undangan. Sementara sejumlah jalur seleksi lainnya telah terlewati.
Pilihan akhirnya jatuh pada jalur mandiri Universitas Sumatera Utara (USU). Ia berhasil diterima di Program Studi Ekonomi Pembangunan. Namun, jalur mandiri membawa konsekuensi lain, yakni biaya kuliah yang relatif tinggi.
“Saya bukan berasal dari keluarga yang borjuis atau keluarga yang sangat mampu. Saat masuk kuliah melalui jalur mandiri, biayanya memang cukup berat karena ada uang pembangunan dan biaya semester,” ujar Josua mengenang masa awal perkuliahannya, Senin (31/8/2026).
Untuk bertahan, Josua memanfaatkan tabungan hasil berbagai aktivitas dan perlombaan saat SMA, mulai dari lomba debat hingga kegiatan seni. Dukungan keluarga juga menjadi kekuatan baginya untuk terus melanjutkan pendidikan.
Memasuki semester dua, Josua mulai mencari berbagai informasi beasiswa. Sebagai mahasiswa ekonomi, ia melakukan riset dan membandingkan berbagai program yang tersedia. Hingga akhirnya ia menemukan Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.
Ketertarikannya muncul karena ada tantangan tersendiri. Saat itu, belum ada penerima dari jurusan Ekonomi Pembangunan di kampusnya.
“Saya melihat dalam beberapa tahun sebelumnya penerima dari jurusan saya belum ada. Kebanyakan dari manajemen atau akuntansi. Itu menjadi motivasi tersendiri bagi saya,” katanya.
Selain itu, Josua melihat ada perbedaan mendasar antara Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation dengan program lain yang pernah ia cari. Beasiswa tersebut tidak hanya melihat latar belakang jalur masuk mahasiswa ke perguruan tinggi.
“Beberapa beasiswa mensyaratkan bukan dari jalur mandiri atau harus melampirkan surat keterangan tidak mampu. Sementara Tanoto Foundation memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai jalur,” tuturnya.
Namun perjalanan Josua mendapatkan beasiswa tersebut tidak langsung berhasil. Pada percobaan pertama, ia gagal dalam tahap psikotes.
Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Justru menjadi bahan evaluasi. Selama hampir satu tahun, Josua mempersiapkan diri dengan lebih serius. Ia mempelajari psikotes melalui berbagai sumber, membeli buku latihan, hingga mencari pengalaman dari para alumni Tanoto Foundation.
“Saya baru tahu kalau seleksi beasiswa bisa seperti proses masuk kerja. Ada tes koran, tes angka, dan berbagai subtes lainnya. Jadi saya mulai latihan setiap hari,” ujarnya.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2018, Josua kembali mendaftar Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation dan berhasil lolos seluruh tahapan seleksi.
Saat bersamaan, ia juga dinyatakan lolos program bantuan pendidikan dari kampus. Namun, Josua harus memilih karena program tersebut memiliki aturan tidak memperbolehkan penerima menerima beasiswa lain.
Dalam waktu 2x24 jam, Josua melakukan pertimbangan. Hingga akhirnya ia memilih Tanoto Foundation.
Alasannya sederhana, baginya beasiswa bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan.
“Yang membuat saya memilih Tanoto Foundation karena mereka tidak hanya membantu biaya kuliah. Mereka memberikan pelatihan soft skill, seperti public speaking, leadership, hingga persiapan menghadapi dunia kerja,” katanya.
Selama menjadi penerima TELADAN, Josua mendapatkan berbagai pengalaman pengembangan diri. Ia mengikuti pelatihan bersama penerima dari berbagai universitas, bertemu dengan para profesional, hingga mengikuti kegiatan di Riau.
Ia juga pernah mengikuti pelatihan di Jakarta dan Surabaya. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengikuti pelatihan leadership di atas kapal selama dua hari satu malam.
“Di sana kami tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik membuat laporan, proposal, dan bagaimana membangun kepemimpinan,” ujarnya.
Bekal tersebut menurut Josua menjadi investasi penting ketika memasuki dunia kerja. Saat ini, sebagai analis keuangan, kemampuan komunikasi dan berpikir kritis menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
“Banyak orang berpikir analis hanya bekerja di depan laptop. Padahal kita juga harus bisa menyampaikan analisis, berdiskusi, dan memberikan rekomendasi. Kemampuan itu sudah banyak dilatih sejak di Tanoto Foundation,” katanya.
Menurut Josua, pengalaman selama menjadi penerima TELADAN turut membantunya menghadapi proses rekrutmen kerja. Ia merasa lebih siap menghadapi wawancara maupun diskusi kelompok.
“Saya tidak mengatakan itu hanya karena beasiswa, tetapi proses latihan yang diberikan membuat saya lebih terbiasa,” ujarnya.
Setelah lulus kuliah dan memasuki dunia profesional, hubungan Josua dengan Tanoto Foundation tetap terjaga. Ia kini aktif dalam perkumpulan alumni penerima Tanoto Foundation atau Panutan dan dipercaya menjadi Bendahara Umum Panutan wilayah Sumatera Utara.
Baginya, jaringan alumni menjadi salah satu kekuatan besar dari program tersebut. Melalui komunitas itu, para alumni tetap mendapatkan ruang untuk belajar dan berkembang.
Belum lama ini, Josua bahkan mendapat kesempatan mengikuti pertemuan bersama Tanoto Foundation pusat dengan sejumlah alumni terpilih untuk berdiskusi dengan tokoh ekonomi nasional.
“Tanoto Foundation tidak berhenti setelah kita lulus. Ada komunitas yang tetap menghubungkan kami, sehingga relasi dan kesempatan belajar terus berkembang,” katanya.
Kepada mahasiswa yang ingin mengikuti Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Josua berpesan agar tidak menganggap proses seleksi sebagai sesuatu yang mudah.
Menurutnya, persiapan dokumen, memahami persyaratan, mempelajari pola seleksi, hingga membangun relasi dengan alumni menjadi langkah penting.
“Jangan malu bertanya kepada alumni. Sekarang akses informasi sangat mudah melalui media sosial maupun website. Belajar dari pengalaman orang yang sudah pernah melewati proses itu,” ujarnya.
Bagi Josua, perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar kesempatan.
“Jangan pernah takut saat mencoba. Karena kamu masih muda. Tapi takutlah ketika kamu hanya berdiam diri dan melihat orang lain melakukan apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan,” pesannya.
Dari seorang mahasiswa yang berjuang mencari biaya kuliah, Josua kini tumbuh menjadi profesional muda di bidang keuangan. Perjalanannya menunjukkan bahwa sebuah beasiswa bukan hanya membuka pintu pendidikan, tetapi juga membentuk karakter, jaringan, dan kesiapan menghadapi dunia nyata.
(DEL)