Analaisadaily.com, Medan - Terjangan banjir rob yang melanda pesisir dan wilayah muara beberapa waktu lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga sempat melumpuhkan detak aktivitas pendidikan di Yayasan Umi Saniyah Ibrahim. Berlokasi di Desa Alue Selebu, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, sekolah ini menjadi saksi betapa rentannya fasilitas pendidikan pedesaan terhadap ancaman perubahan iklim.
Menjawab panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab akademis tersebut, Universitas Sumatera Utara (USU) mengambil langkah proaktif dengan menggandeng Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa untuk turun langsung memulihkan asa belajar para anak didik.
menjadi saksi betapa rentannya fasilitas pendidikan pedesaan terhadap ancaman
perubahan iklim. Menjawab panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab akademis tersebut, Universitas Sumatera Utara (USU) mengambil langkah proaktif dengan
menggandeng Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa untuk turun langsung memulihkan asa belajar para anak didik.
Lebih dari Sekadar Membangun Ulang Ruang Kelas
Ketika air bah surut, tantangan terbesar bagi sebuah institusi pendidikan adalah mengembalikan ritme dan fokus belajar yang sempat terputus. Ketua Tim Pengabdian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, Muhammad Romi
Syahputra, menegaskan bahwa penanganan pascabencana di lingkungan sekolah harus
memiliki visi jangka panjang. Upaya pemulihan tidak boleh hanya sebatas perbaikan meja lapuk atau dinding yang mengelupas. "Kalau kita sekadar memperbaiki bangunan, saat rob datang lagi, kita akan kembali ke titik nol. Kehadiran kami di sini adalah untuk membekali para pendidik dan anak-anak dengan pemahaman mitigasi yang riil. Kami ingin menanamkan mindset kesiapsiagaan.
Jadi, ketika alam kembali kurang bersahabat di masa depan, ekosistem sekolah ini sudah tahu persis bagaimana meresponsnya dengan cepat, tidak panik, dan mampu meminimalisasi trauma," ungkap Romi.
Langkah awal yang ditempuh tim kolaborasi ini adalah menanggalkan asumsi dan memilih duduk bersama masyarakat terdampak. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang komunikatif bersama pengelola yayasan dan dewan guru, tim mendengarkan secara langsung apa saja yang paling mendesak untuk diselamatkan. Forum ini sekaligus menjadi inkubator gagasan tentang bagaimana menyelipkan materi tanggap darurat ke dalam rutinitas belajar anak-anak sehari-hari tanpa membebani porsi kurikulum yang sudah ada. Pada tataran fisik, denyut pemulihan mulai diwujudkan lewat penataan ulang interior
ruang belajar. Tim memastikan sirkulasi udara dan kenyamanan anak-anak kembali optimal dengan pengadaan kipas angin. Sudut-sudut literasi yang sempat terendam kini
dihidupkan kembali dengan penataan rak buku yang lebih adaptif. Tidak luput pula pengadaan sarana kebersihan dan perangkat olahraga, sebagai instrumen penting untuk mengembalikan keceriaan fisik dan mental santri seusai bencana.
"Fokus awal kami memang memastikan anak-anak bisa kembali tersenyum dan belajar di ruangan yang aman. Namun, setiap fasilitas yang kami tata ulang ini sejatinya membawa pesan tentang ketangguhan. Kami ingin momentum ini menjadi fondasi awal bagi
sekolah yang berani beradaptasi dengan kondisi alam," tambah Romi.
Untuk menjamin roda administrasi yayasan berputar normal pascakerusakan, tim turut menyerahkan ragam bantuan pendukung. Perangkat kearsipan dokumen serta perangkat audio berupa speaker portabel diberikan untuk menunjang kegiatan apel dan sentra informasi darurat. Tim juga telah memetakan kebutuhan strategis lanjutan yang akan diserahkan pada kunjungan berikutnya guna memastikan denyut nadi Yayasan Umi Saniyah Ibrahim pulih sepenuhnya Merajut Misi Pembangunan Berkelanjutan secara Natural
Gerak terukur di Desa Alue Selebu ini sejatinya merupakan manifestasi murni dari komitmen perguruan tinggi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Tanpa perlu dihafal layaknya laporan administratif, nilai-nilai global tersebut hidup dalam setiap tindakan tim pengabdian di lapangan. Kerja keras mengembalikan kelayakan ruang kelas adalah napas nyata dalam menghadirkan kualitas pendidikan yang setara bagi semua kalangan, bahkan di wilayah
rentan sekalipun. Di saat bersamaan, edukasi mengenai siklus air pasang dan teknik penyelamatan diri merupakan bentuk aksi mitigasi iklim di tingkat akar rumput. Sekolah perlahan didorong menjadi pusat permukiman yang tangguh, di mana para siswanya tidak lagi menjadi korban pasif fenomena alam, melainkan generasi yang mawas diri. Lebih jauh, ikatan yang terjalin antara USU, IAIN Langsa, dan yayasan membuktikan bahwa kemitraan adalah kunci utama penyelesaian krisis. Persoalan multidimensi
pascabencana tidak akan pernah tuntas bila hanya mengandalkan intervensi satu bidang ilmu atau ego sektoral institusi tunggal. Wujud Nyata Kampus yang Membumi dan Berdampak
Bagi almamater, aksi pengabdian di Aceh Tamiang ini adalah panggung pembuktian filosofi "Kampus Berdampak". Ini adalah momen di mana menara gading intelektualitas dilebur menjadi aksi solidaritas nyata. Keahlian yang selama ini diracik di dalam
laboratorium maupun ruang kuliah, berhasil dibawa keluar pagar untuk menjawab penderitaan dan persoalan riil masyarakat. Harapan besarnya, pendekatan humanis ini tidak akan memudar manakala program usai di pengujung tahun. Yayasan Umi Saniyah Ibrahim diproyeksikan bangkit menjadi percontohan lembaga pendidikan pedesaan yang adaptif, kuat, dan siaga. Melalui jejak
pengabdian ini, pendidikan tinggi menegaskan porsinya sebagai oase keilmuan yang mencetak perubahan terukur, membawa dampak berkelanjutan bagi peradaban yang lebih luas.
Informasi lebih lanjut mengenai ragam inovasi pendidikan, penelitian, inisiatif pengabdian masyarakat, serta dedikasi nyata dalam mewujudkan kemandirian bangsa dapat ditelusuri melalui laman resmi Universitas Sumatera Utara, eksplorasi riset
berkelanjutan di SDGs Center Universitas Sumatera Utara, maupun program pemberdayaan melalui Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat USU(DEL)











