Kajian Banjir Bandang Batang Toru: Faktor Ekstrem Iklim dan Perubahan Lanskap Jadi Sorotan Utama

Kajian Banjir Bandang Batang Toru: Faktor Ekstrem Iklim dan Perubahan Lanskap Jadi Sorotan Utama
Kepala BBKSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani (Analisadaily/Reza Perdana)

Analisadaily.com, Medan – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyoroti dampak bencana banjir bandang yang melahirkan pergeseran ruang hidup satwa liar di kawasan bentang alam Batang Toru.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala BBKSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani, dalam kegiatan diseminasi hasil studi terkait pengembangan pascabencana di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan, Selasa (11/8/2026).

Novita menyampaikan bahwa lanskap Batang Toru merupakan rumah bagi sejumlah spesies kunci yang ikonik, seperti harimau, tapir, hingga orangutan Tapanuli. Kendati demikian, riset yang spesifik mendalam baru terfokus pada populasi orangutan.

Berdasarkan pemetaan citra satelit dan temuan lapangan pascabencana, tercatat ada satu individu orangutan Tapanuli yang ditemukan langsung di kawasan Garoga.

"Cuma memang pastikan dengan berubahnya habitat mereka, entah itu jadi bergeser, pindah ke lokasi lain yang lebih aman. Kalau sementara kita kan juga dengan teman-teman YLOIC dan para pakar lagi melakukan survei ulang," ujar Novita.

Dari hasil survei lanjutan tersebut, tim mendapati beberapa lokasi aman yang kini menunjukkan kepadatan sarang yang lebih tinggi, mengindikasikan satwa yang terdampak telah mengevakuasi diri ke zona yang lebih aman.

Dorong Pengelolaan Lanskap Kolaboratif

Menjawab tantangan pemulihan pascabencana, BBKSDA mendorong agar restorasi dan pengelolaan wilayah ke depan dilakukan secara berbasis bentang alam (landscape) yang utuh dan tidak terkotak-kotak. Langkah ini menuntut kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten, serta para pemegang izin usaha di lokasi setempat.

Novita mengapresiasi komitmen berbagai pihak, termasuk masyarakat hutan adat, Dinas Kehutanan melalui Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), hingga korporasi, yang telah berhimpun mengidentifikasi areal preservasi.

Sebagian besar perusahaan pemilik konsesi di Harangan Tapanuli (Tapanuli Selatan, Utara, dan Tengah) telah berkomitmen mengalokasikan wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT), guna dijadikan kawasan preservasi tumbuhan dan satwa liar.

Faktor Ekstrem Iklim dan Kompleksitas Lapangan

Menanggapi peranan industri ekstraktif terhadap bencana banjir bandang pada November 2025 lalu, Novita menjelaskan bahwa berdasarkan kajian para pakar, faktor terbesar pemicunya adalah curah hujan yang luar biasa ekstrem serta kondisi geomorfologi wilayah.

Terkait material kayu hanyutan di lapangan yang sempat menjadi sorotan, ia menyebutkan bahwa sebagian besar berasal dari pohon yang tumbang akibat longsor, meskipun ditemukan pula material kayu bekas potongan yang memerlukan pengkajian lebih mendalam. Namun, ia menegaskan bahwa temuan tersebut tidak bisa serta-merta dianggap sebagai satu-satunya penyebab tunggal.

"Ini memang kompleks, tapi bahwa perubahan iklim ini terjadi ini kan proses yang panjang dan kemungkinan besar ya tidak hanya perusahaan yang ada di situ, tapi di berbagai daerah di Sumatera ini barangkali ya berkontribusi terhadap perubahan iklim ini karena kejadiannya kan tadi siklon yang seharusnya tidak sampai ke tropis bisa sampai ke tropis," pungkasnya, sembari mengingatkan bahwa kawasan tersebut secara alami memang rentan terhadap potensi bencana sejak dahulu.

Hasil Studi Komprehensif

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) memaparkan hasil studi mendalam mengenai peristiwa banjir bandang yang melanda bentang alam Batang Toru pada akhir 2025 lalu.

Diseminasi hasil penelitian yang digelar di Medan menegaskan bahwa bencana tersebut dipicu oleh faktor hidrometeorologi ekstrem dan kondisi geologis alami, serta membantah adanya kaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

Studi yang dilakukan sejak 3 Februari hingga 30 Juni 2026 ini mencakup empat kajian utama, yakni geosains, geohidrologi, biologi, dan sosial di wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.

Dipicu Siklon Tropis Senyar

Berdasarkan temuan tim peneliti, banjir bandang Batang Toru dan Garoga merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar yang terjadi pada akhir November 2025.

Curah hujan harian mencapai 229,7 mm dengan akumulasi mingguan lebih dari 600 mm. Intensitas ini setara dengan kejadian berulang 300 tahun.

Hujan ekstrem ini diperkuat oleh kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi yang aktif, dinamika Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sangat dinamis, migrasi saluran sungai, serta karakteristik sedimen bawah permukaan.

Salah satu poin penting dari penelitian ini adalah klarifikasi mengenai penyebab banjir. Kajian yang mengintegrasikan data geologi, geofisika, hingga penginderaan jauh tidak menemukan bukti yang menghubungkan banjir dengan operasional pertambangan.

Peneliti justru menemukan bahwa sistem Sungai Batang Toru dan Garoga telah mengalami evolusi alami panjang dengan migrasi saluran aktif yang berulang setiap 5–10 tahun.

Lebih jauh lagi, hasil studi menunjukkan bahwa DAS Garoga merupakan sistem drainase yang sepenuhnya terpisah dengan sub-DAS Aek Pahu yang menjadi lokasi aktivitas pertambangan. Tidak ditemukan adanya konektivitas hidrologis antara keduanya.

Material banjir sendiri teridentifikasi berasal dari longsoran dan erosi di bagian hulu Tapanuli Utara yang diangkut oleh sistem sungai, dengan arah transportasi sedimen yang sama sekali tidak melewati area operasional pertambangan.

Rekomendasi Pemulihan Ekosistem

Bencana ini tercatat berdampak signifikan terhadap ekosistem, termasuk habitat orangutan Tapanuli. Sekitar 6.947 hektar lanskap Batang Toru mengalami perubahan tutupan, di mana 68,8 persen di antaranya merupakan hutan alami.

Menanggapi hal tersebut, FMIPA UI merekomendasikan pemulihan pascabencana berbasis ekosistem melalui restorasi habitat, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, dan penguatan fungsi ekologis.

Untuk memperkuat ketahanan wilayah, para ahli menyarankan kebijakan tata ruang yang berbasis pada karakteristik biofisik dan risiko bencana. Hal ini mencakup konservasi lahan di wilayah hulu, pengendalian pemanfaatan dataran banjir di wilayah hilir, serta penguatan sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir.

Hasil kajian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi rehabilitasi dan pembangunan yang berkelanjutan serta adaptif terhadap bencana di masa depan.

(RZD/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi