Rumah Portabel Mahasiswa Pulihkan Pendidikan 50 Anak Pasca Banjir Aceh Tamiang (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Aceh Tamiang — Ratusan anak usia sekolah dasar di desa Kota Lintang terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang kembali menemukan ruang belajar yang aman lewat program Rumah Belajar Portabel yang dijalankan tim mahasiswa lintas program studi. Selama satu bulan pendampingan, skor literasi-numerasi peserta naik rata-rata 28,1 persen, dan indeks motivasi belajar melonjak dari 2,7 menjadi 4,1 pada skala 1–5.
Kegiatan "Pendampingan Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar Pasca Bencana melalui Rumah Belajar Portabel di Kabupaten Aceh Tamiang" merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak (PMB) Tahun 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini menyatukan mahasiswa Program Studi Pendidikan, Manajemen, dan Sistem Informasi yang turun langsung ke desa korban banjir bandang akhir 2025.
Rumah Belajar Portabel berupa unit tenda modular berukuran 4×6 meter yang dapat dibongkar pasang oleh empat orang dalam waktu kurang dari 90 menit. Unit ini dilengkapi papan tulis, kit literasi-numerasi, kit pemulihan psikososial, dan dapat dipindahkan mengikuti titik konsentrasi anak terdampak. Sesi belajar berlangsung tiga kali seminggu dengan durasi 90 menit per sesi.
"Anak-anak butuh rutinitas. Ketika sekolah belum sepenuhnya pulih, ruang belajar yang dapat diaktivasi cepat di dekat rumah pengungsian itulah yang paling mereka butuhkan," ujar Ketua Tim Pelaksana, Dr. Yeni Ariesa, S.E., M.Si., M.M selaku pemimpin program tersebut.
Selama kurang lebih sebulan, lebih dari 20 sesi belajar telah berjalan dengan rata-rata kehadiran anak mencapai 87,4 persen. Selain modul calistung tematik kebencanaan, tim juga menjalankan 8 sesi pemulihan psikososial berupa story-telling, terapi seni ringan, dan kegiatan kelompok sebaya.
Tim pelaksana mencatat program ini berkontribusi langsung terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Program juga selaras dengan Asta Cita ke-4 mengenai pembangunan SDM unggul dan Asta Cita ke-8 tentang penguatan harmoni sosial.
Tujuh produk teknologi sosial — Rumah Belajar Portabel, 12 modul ajar tematik kebencanaan, sistem informasi pendataan anak terdampak, SOP penyelenggaraan kelas, poster ilmiah, video kanal YouTube, dan artikel ilmiah yang sedang dalam proses publikasi menjadi luaran dari program pengabdian tersebut.
Tim pelaksana berharap model Rumah Belajar Portabel ini dapat direplikasi ke desa-desa rawan bencana lain di Aceh dan Sumatra Utara melalui kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Bencana bisa merampas sekolah, tetapi tidak boleh merampas hak anak untuk belajar. Rumah Belajar Portabel membuktikan bahwa dengan kolaborasi kampus, pemerintah desa, dan masyarakat, ruang belajar bisa hadir di mana pun anak-anak berada," tutup Ketua Tim Pelaksana.
Semoga program ini bermanfaat dan memberikan dampak berarti bagi masyarakat khususnya anak-anak pendidikan sekolah dasar Desa Kota Lintang.
(REL/RZD)