Rekonstruksi Sistem Air Bersih Pascabencana dan Penguatan Resiliensi di Aceh-Sumut (analisa/istimewa)
Analisadaily.com, Medan -
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara pada 2025 tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga berdampak pada infrastruktur air bersih masyarakat.
Akibatnya, warga kehilangan akses air bersih lebih lama, resiko penyakit berbasis air meningkat dan pemulihan sosial ekonomi desa terhambat, kerusakan ridak hanya bersifat fisik tetapi juga menurunkan kualitas air melalui kontaminasi mikrobiologis serta tercemarnya akuifer dangkal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan fasilitas air bersih tidak cukup hanya dengan mengganti pompa atau memperbaiki bagian yang rusak. Infrastruktur perlu dirancang agar lebih mampu menghadapi banjir dan kondisi ekstrem yang berpotensi kembali terjadi.
Atas kondisi itu, dikembangkan Model Rehabilitasi Infrastruktur Air Bersih Adaptif Bencana melalui kolaborasi Dr.rer.nat. Widodo, S.T., M.T. dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Taufiq Bin Nur, S.T., M.Eng.Sc. dari Universitas Sumatera Utara (USU), serta Prof. Dr. Syarizal Fonna, S.T., M.T. dari Universitas Syiah Kuala (USK).
Model tersebut tidak hanya berfokus pada pemulihan fasilitas, tetapi juga pada rekonstruksi sistem agar lebih tahan terhadap risiko bencana. Pendekatan yang digunakan mencakup survei kondisi awal, pemetaan risiko genangan, arah aliran banjir dan potensi erosi, hingga penguatan struktur pelindung sumber air.
Selain aspek teknis, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai pengelolaan air dan langkah yang perlu dilakukan ketika kualitas air mengalami penurunan, seperti meningkatnya kekeruhan. Mekanisme tanggap darurat di tingkat warga turut diperkuat agar masyarakat memiliki kesiapan ketika terjadi gangguan kembali.
*Kondisi Terkini*
Saat ini, sistem penyediaan air bersih yang telah dibangun di lokasi sasaran dilaporkan telah berfungsi sesuai dengan perencanaan. Sistem tersebut juga telah diserahterimakan kepada masing-masing pemerintah desa dan mulai dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Perubahan ini menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana. Jika sebelumnya kerusakan pompa, pipa, dan sumber air menjadi salah satu kendala setelah banjir, kini masyarakat telah memiliki sistem penyediaan air yang dapat digunakan kembali dengan dukungan infrastruktur yang lebih adaptif.
Kehadiran sistem tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 100 kepala keluarga di setiap desa sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi gangguan layanan air akibat bencana.
kegiatan pemasangan penyaringan air bersoh
Lebih jauh, rekonstruksi ini tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan layanan air bersih seperti sebelum bencana. Infrastruktur yang dibangun diharapkan mampu mengurangi kerentanan masyarakat dalam jangka panjang sekaligus menjadi contoh pengembangan sistem air bersih yang lebih tangguh di kawasan rawan bencana.
Dengan demikian, pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika air kembali mengalir. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tetap terpelihara, masyarakat mampu mengelolanya, dan infrastruktur dapat bertahan ketika bencana kembali terjadi.
(DEL)