Analisadaily.com, Medan - Abu vulkanik Gunung Sinabung kembali menyelimuti kawasan pertanian di Kabupaten Karo. Namun, di tengah kekhawatiran petani terhadap tanaman yang terpapar abu erupsi, hujan deras justru datang membawa kabar baik.
Hujan yang turun setelah Gunung Sinabung erupsi pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 12.00 WIB itu membantu membersihkan abu vulkanik yang menempel di tanaman. Sebagian besar tanaman yang sempat terpapar pun dipastikan masih dapat diselamatkan.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara mencatat, secara kumulatif terdapat 1.832 hektare tanaman pertanian, khususnya hortikultura, yang terdampak erupsi Gunung Sinabung hingga Rabu (2/9/2026) pukul 23.00 WIB.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Fariz Haholongan Hutagalung, melalui Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut, Marino, mengatakan dari luasan tersebut tidak ditemukan tanaman yang mengalami kerusakan parah hingga puso.
“Dari 1.832 hektare tanaman yang terkena siraman abu vulkanik itu, sekitar 1.677 hektare tanaman bisa diselamatkan atau pulih karena hujan,” kata Marino di Medan, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, hujan deras membuat abu vulkanik yang menempel pada tanaman segera tercuci. Kondisi itu menjadi faktor penting yang mencegah kerusakan tanaman semakin parah.
“Hujan yang deras menyelamatkan tanaman petani. Abu panas yang menempel di tanaman petani akibat erupsi langsung tercuci,” ujarnya.
Sementara sekitar 155 hektare tanaman lainnya baru terpapar abu vulkanik pada Rabu (2/9/2026). Beruntung, hujan deras kembali turun sehingga tanaman tersebut juga masih dapat diselamatkan.
“Jadi, tidak ada tanaman yang rusak parah atau puso akibat siraman abu Gunung Sinabung yang mengalami erupsi. Hujan sangat membantu tanaman tidak rusak,” kata Marino.
Kentang hingga Brokoli Terdampak
Tanaman hortikultura yang terdampak berada di antaranya di Desa Kuta Tonggal dan Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo.
Komoditas yang terkena abu vulkanik cukup beragam. Tanaman kentang tercatat terdampak seluas 45 hektare, kubis 27 hektare, kembang kol 24 hektare, cabai keriting 16 hektare, cabai rawit 25 hektare, tomat 14 hektare, dan brokoli 4 hektare.
Meski terpapar abu vulkanik, kondisi tanaman masih terus dipantau untuk memastikan tidak terjadi kerusakan lanjutan.
Marino mengatakan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) telah turun melakukan pemantauan langsung di lapangan. Pemantauan dilakukan bersama Dinas Pertanian Kabupaten Karo dan para penyuluh untuk memastikan kondisi tanaman sekaligus memperbarui data dampak erupsi.
“Langkah-langkah yang sudah kami lakukan adalah melakukan pemantauan pertanaman di lapangan oleh petugas lapang POPT dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Karo serta penyuluh terkait dengan data yang terkena bencana erupsi Gunung Sinabung, termasuk kerusakan pada tanaman,” jelasnya.
Selain pemantauan di lahan pertanian, pihaknya juga mengikuti perkembangan informasi dari posko-posko penanganan di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
Langkah itu dilakukan untuk mendapatkan data secara langsung dari masyarakat, kelompok tani, maupun petani mengenai kondisi tanaman setelah terkena abu vulkanik.
“Kami juga terus mengikuti posko-posko di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten untuk memperoleh data dan informasi langsung dari masyarakat, kelompok tani, dan petani,” katanya.
Di sisi lain, petani diminta tidak membiarkan abu vulkanik terlalu lama menempel pada tanaman, terutama apabila hujan tidak kembali turun.
Petani dianjurkan membersihkan abu yang menempel pada tanaman menggunakan alat misblower agar beban abu pada daun dapat dikurangi dan tanaman tetap memiliki peluang tumbuh dengan baik.
“Kami juga mengajak petani untuk membersihkan abu vulkanik dari pertanaman dengan menggunakan alat misblower bila hujan tidak turun,” pungkas Marino.(MUL)
(DEL)










