Dari Tungku Kuala Tanjung Untuk Kedaulatan Industri Bangsa

Dari Tungku Kuala Tanjung Untuk Kedaulatan Industri Bangsa
Senyum optimis terpancar dari wajah karyawan INALUM di area penyimpanan ingot Kuala Tanjung. Di tangan mereka, aluminium tak lagi sekadar komoditas, melainkan fondasi kuat bagi hilirisasi dan kedaulatan industri Indonesia. (Analisadaily/istimewa )

Oleh: Arifin

Analisadaily.com, Kisaran - Deru tungku peleburan tak pernah padam di Kuala Tanjung. Di suhu 950 derajat Celcius, cairan aluminium mengalir merah membara, sebelum dicetak menjadi ingot perak yang berkilau. Di gudang penyimpanan, ribuan ingot itu berjejer rapi. Pemandangan itu bukan sekadar aktivitas industri. Itu adalah wajah kedaulatan.

Selama puluhan tahun, Indonesia adalah raksasa bauksit yang tertidur. Kita mengeruk tanah, menjualnya murah ke luar negeri, lalu membeli kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga berlipat. Rantai nilai terputus. Nilai tambah menguap.

Hari ini, rantai yang terputus itu sedang disambung kembali. Dan di pusat penyambungannya, berdiri PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM). Sebagai peleburan aluminium pertama dan terbesar di Indonesia, anggota Grup MIND ID di bawah Danantara Indonesia, mandat INALUM sudah melampaui sekadar melebur logam. Ia ditugaskan membangun fondasi.

Inilah yang menjadi napas tema IN-Journal Chapter III 2026: "Fondasi Kuat untuk Hilirisasi: Menulis Masa Depan Industri Aluminium Indonesia". Sebuah pengingat bahwa hilirisasi tidak sesederhana membangun cerobong baru.

Hilirisasi adalah tentang membangun kepercayaan. Membangun ekosistem. Membangun masa depan. "Hilirisasi bukan sekadar tentang mengolah sumber daya, tetapi tentang bagaimana Indonesia membangun industri yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber dayanya sendiri," ujar Direktur Keuangan INALUM, Ken Permana lewat Handbook yang diterima Analisa, Kamis (1/10).

Menurut Ken, logika investasi INALUM telah bergeser. Bukan lagi soal berapa ton aluminium yang dihasilkan, melainkan seberapa luas dampaknya. "Karena itu, investasi bagi INALUM bukan hanya soal menambah kapasitas produksi, melainkan investasi untuk membangun teknologi, memperkuat ekosistem industri, dan mendorong tumbuhnya industri pengguna aluminium di dalam negeri," jelasnya.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap investasi yang masuk memberikan dampak yang lebih luas. Sehingga aluminium tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi menjadi fondasi bagi tumbuhnya industri Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaya saing global," tegas Ken.

Dan fondasi itu kini teruji kokoh.

Pada 18 Agustus 2026, dikutip dari website Inalum. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat korporasi INALUM menjadi idAA/Stable dari sebelumnya idAA-/Stable. Peringkat ini berlaku hingga 1 Juli 2027.

Setahun sebelumnya, S&P Global Ratings juga mempertahankan peringkat investment grade BBB- dengan Outlook Stable. Bagi dunia keuangan, itu bukan sekadar rapor. Itu adalah paspor. Paspor kepercayaan untuk mengakses pendanaan kompetitif demi proyek-proyek bernilai miliaran dolar. Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menyebut kenaikan peringkat sebagai amanah.

Peningkatan peringkat ini menjadi bentuk kepercayaan terhadap kinerja perusahaan sekaligus tanggungjawab untuk terus menjaga fundamental bisnis dan kesehatan keuangan. INALUM akan terus menjaga disiplin investasi, tata kelola, serta struktur pendanaan yang prudent, seiring semakin besarnya agenda pertumbuhan.

Inilah fondasi fisik hilirisasi. Dari tanah bauksit di Kalimantan, menjadi alumina, lalu menjadi aluminium di Sumatera. Kepala Grup Pengembangan Bisnis dan Strategi INALUM, Al Jufri, menjelaskan filosofi ekosistem ini. Hilirisasi memberikan manfaat jauh lebih besar ketika investasi mampu menciptakan keterhubungan dari produksi aluminium hingga kebutuhan industri di dalam negeri.

"Pengembangan investasi dan kemitraan strategis tidak hanya meningkatkan kapasitas dan utilisasi aset, tetapi juga memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperkuat efisiensi rantai pasok," kata Al Jufri.

Ekosistem itu kini nyata. INALUM tidak berjalan sendiri. Ia memiliki 60 persen saham di PT Borneo Alumina Indonesia untuk refinery alumina, 99,09 persen di PT Indonesia Aluminium Alloy untuk secondary billet, 33,79 persen di PT Industri Baterai Indonesia untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik, hingga PT Kuala Tanjung Power Plant.

Dari baterai EV hingga kusen jendela, dari kaleng minuman hingga badan pesawat, semua berawal dari ingot perak di Kuala Tanjung. Dan semua itu ditopang oleh warisan paling hijau energi.

Sejak Perjanjian Induk 1976 dan mulai beroperasi pada 1982, INALUM memiliki keunggulan struktural yang tidak dimiliki smelter lain PLTA Sigura-gura dan Tangga dengan kapasitas desain 603 Megawatt. Listrik dari Sungai Asahan inilah yang menggerakkan tungku peleburan.

Di saat dunia menuntut aluminium hijau yang patuh pada prinsip ESG, INALUM sudah memilikinya sejak 40 tahun lalu. Perjalanan dari perusahaan patungan Jepang-Indonesia, menjadi BUMN penuh pada 2013, bergabung dalam Holding BUMN Tambang pada 2017, hingga spin-off menjadi anak usaha MIND ID pada 2023, adalah cerita transformasi fondasi.

Kini dengan kebutuhan pendanaan yang diproyeksikan meningkat pada periode 2026-2029, INALUM menyiapkan strategi pendanaan terukur dan terdiversifikasi dengan tetap menjaga struktur permodalan dan likuiditas yang sehat. Dari deru tungku 950 derajat di tepi Selat Malaka itu, Indonesia tidak lagi sekadar menjual tanah. Indonesia sedang menulis masa depannya sendiri, dengan aluminium sebagai tintanya.

(ARI/DEL)

Baca Juga

Rekomendasi