Di Balik ARAMU, KAI Perluas Bisnis Internasional Lewat TEI-ISEF 2026

Di Balik ARAMU, KAI Perluas Bisnis Internasional Lewat TEI-ISEF 2026
Di Balik ARAMU, KAI Perluas Bisnis Internasional Lewat TEI-ISEF 2026 (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - PT Kebaikan Alam Indonesia (KAI), perusahaan manufaktur dan pengembangan produk botanikal di balik merek ARAMU, memperluas peluang bisnis internasional melalui Trade Expo Indonesia (TEI) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Tak hanya menawarkan produk jadi, KAI membuka peluang kerja sama manufaktur OEM, private label, formulasi, dan pasokan bahan botanikal bagi mitra bisnis. Langkah ini memperluas jalur ekspansi KAI yakni memasarkan ARAMU, memproduksi produk dengan merek mitra, hingga memasok bahan botanikal untuk kebutuhan industri.
Founder PT Kebaikan Alam Indonesia, Agustine Johanes, mengatakan perusahaan memperkenalkan produk sekaligus kemampuan pengembangan dan pengolahan botanikal kepada calon buyer dan mitra internasional.
“Yang kami perkenalkan bukan hanya produk ARAMU, tetapi juga kemampuan KAI di belakangnya. Kami bisa menjadi mitra bagi perusahaan yang ingin mengembangkan produk berbasis botanikal, baik melalui produk yang sudah tersedia maupun pengembangan sesuai kebutuhan,” kata Agustine.
Portofolio ARAMU mencakup minuman botanikal siap konsumsi, tisane atau infusi herbal, pasta, dan konsentrat minuman untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor hotel, restoran, dan kafe. Sementara itu, KAI melayani pengembangan ekstrak, bahan setengah jadi, formulasi, serta produksi sesuai kebutuhan mitra.
Peluang ekspansi tersebut juga mencakup pasar Kanada. KAI telah menandatangani Letter of Intent (LOI) dengan calon mitra dari Kanada sebagai langkah awal penjajakan kerja sama bisnis pada saat di ISEF 2026.
Perkembangan itu, kata Agustine, menjadi bagian dari proses perusahaan membangun hubungan dengan mitra internasional. Pembicaraan selanjutnya diarahkan pada kesesuaian produk, kebutuhan pasar, dan bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan. "Penandatanganan LOI dengan calon mitra Kanada merupakan salah satu langkah awal kami. Selanjutnya kami fokus menindaklanjuti kebutuhan produknya dan membangun kerja sama secara bertahap,” ujarnya.
Menurutnya, perusahaan tidak harus selalu memasuki pasar luar negeri dengan mengandalkan distribusi merek sendiri. Kemitraan dengan distributor maupun pemilik merek lokal dapat menjadi jalur alternatif untuk memperluas penggunaan produk botanikal Indonesia.
“Kalau mitra ingin memasarkan ARAMU, kami terbuka membahas distribusinya. Kalau mereka ingin membangun merek sendiri, kami juga bisa membahas pengembangan dan produksinya. Jadi bentuk kerja samanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mitra,” katanya.
Dalam pengembangan produk, KAI memanfaatkan bahan botanikal Indonesia, termasuk dari Sumatera Utara, seperti jahe merah, kunyit, temulawak, serai, dan rosella.
Bagi perusahaan, peluang bisnis tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah. Pengolahan dan formulasi memungkinkan bahan botanikal dikembangkan menjadi minuman siap konsumsi, konsentrat, maupun bahan untuk produk industri.
“Kami ingin botanikal Indonesia tidak hanya dikenal sebagai bahan mentah. Melalui formulasi dan pengolahan, bahan tersebut bisa dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah dan penggunaan lebih luas,” ujar Agustine.
Namun, memasuki pasar internasional membutuhkan penyesuaian. Preferensi rasa, kebiasaan konsumsi, format produk, kemasan, konsistensi mutu, dokumentasi, dan persyaratan negara tujuan menjadi bagian yang perlu dibahas bersama calon mitra.
Karena itu, KAI memanfaatkan pertemuan bisnis di TEI dan ISEF untuk mengenalkan portofolio sekaligus memahami kebutuhan pasar secara langsung.
Bagi KAI, keberhasilan mengikuti pameran tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari tindak lanjut yang menghasilkan pembicaraan bisnis konkret.
Tahap berikutnya mencakup komunikasi kebutuhan mitra, evaluasi produk dan sampel, pembahasan kemasan, serta persiapan dokumen sesuai perkembangan setiap peluang kerja sama.
“Bagi kami, pameran bukan hanya soal berapa banyak orang datang ke booth. Yang penting adalah apakah pertemuan tersebut bisa dilanjutkan menjadi pembicaraan yang konkret dan hubungan bisnis yang berkelanjutan,” kata Agustine.
Melalui TEI dan ISEF 2026, KAI menargetkan perluasan peluang pasar bagi ARAMU sekaligus pengembangan kemitraan manufaktur dan produk botanikal.
Dari Medan, perusahaan berupaya membawa nilai tambah bahan alam Indonesia ke pasar yang lebih luas melalui produk bermerek sendiri maupun kolaborasi dengan bisnis lain. ()
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi