Aisyah Bertemu Ibu Kandung

Medan, (Analisa). Gencarnya pemberitaan perihal Siti Aisyah, anak yang merawat sang ayah M. Nawawi Pulungan di atas becak selama sakit terdengar ibu kandungnya. Ibunya, Sugiarti   datang ke RSUD dr Pirngadi Medan. 

Sugiarti (33) datang bersama kakak kandungnya, Tati beserta beberapa keluarga lainnya yang berada di Pekanbaru sekitar pukul 10.00 WIB pagi, Minggu (23/3). Kedatangan Sugiarti menjawab kerinduan Aisyah akan ibu kandungnya. “Aisyah senang. Sudah ketemu mamak tadi,” sebut Aisyah.

Aisyah sudah berpisah dengan ibunya sejak usia 18 bulan. Selama itu dia tidak bertemu ibunya. Beberapa tahun belakangan, Nawawi memberikan foto ibunya. Hampir setiap hari Aisyah menatap foto ibunya. Bahkan dia menangis menahan rindu. 

Sering Aisyah menanyakan apakah ayahnya marah sama ibunya. Bagaimana kalau ibunya datang, apakah ayahnya bisa menerima. Saat itu, Nawawi mengaku, tetap menerima, jika memang ibu Aisyah masih belum menikah.

Namun, kini harapan itu pupus. Ibu Aisyah datang. Tapi, ibunya sudah memiliki suami di daerah lain. Bahkan sudah memiliki anak. Aisyah sebenarnya ingin ikut ibunya, tapi syarat yang diajukan Aisyah tidak memungkinkan. “Aisyah mau ikut mamak tapi kalau ayah gak ikut Aisyah gak mau,” ujarnya.

Di ruang 711 Lantai VII RSUD dr Pirngadi tersebut, Nawawi yang mendengar kata-kata Aisyah seketika menangis. 

Dengan perlahan Nawawi menjelaskan kepada putrinya kalau ia dan ibunya sudah tidak bisa bersama. Soalnya, ibu Aisyah sudah memiliki suami dan Aisyah pun sudah memiliki adik.

“Ayah gak bisa melarang kalau Ica mau ikut ibk, tapi ibu gak bisa sama ayah lagi. Ayah tahu kalau Ica mau satukan ibuk dengan ayah, tapi gak mungkin lagi nak. Harapanmu yang selama ini ingin ketemu ibu tercapai nak,” jelas Nawawi pada Aisyah yang terus memeluknya.  

Nawawi mengaku tetap mengizinkan ibunya datang dan mengunjungi anaknya. Ia merasa tidak sakit hati. 

Bahkan ia berharap selagi ia masih hidup, meminta tolong untuk melihat anaknya, dan merasa terima kasih pada ibu Aisyah telah datang melihatnya.

“Alhamdulillah, saya makin banyak tahu dan sudah banyak perubahan dalam kesehatan saya. Semua yang membantu dan mendatangi saya, baik jurnalis dan masyarakat lainnya menjadi saudara saya, ini buat saya jadi sehat,” tuturnya sembari menangis. 

Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Aisyah apakah memilih ikut dengan ayahnya atau ibunya. Karena Nawawi berprinsip bila ia sudah tiada, Aisyah tentunya akan mencari ibunya nanti.

Sebenarnya, Sugiarti masih memendam rasa rindu pada Aisyah. Sempat ia mencoba menghindar dari media namun rasa kangennya meluluhkannya untuk berada di samping putrinya. 

Sugiarti mengatakan ia sangat senang bisa bertemu lagi dan kagum dengan putrinya yang telah merawat dan sayang pada ayahnya.

“Sangat bahagia ketemu Aisyah lagi, tapi sedih lihat kondisi ayahnya sekarang,” ucap wanita berjilbab coklat yang berencana akan pergi esok dengan putrinya dan akan pulang juga esok hari mengingat abang Aisyah juga masih sekolah.

Cahyo Pramono, selaku penggagas lembaga Save Aisyah mengatakan setelah bertemu dengan sang ibu, kini semua kembali pada Aisyah. 

Namun, setelah ia menolak ikut ibunya hal itu wajar karena sejak kecil Aisyah hidup bersama ayahnya. Di mana Aisyah dibesarkan di mobil box, dan  hubungan keduanya sangat dekat.

“Saat ini yang kita pikirkan melalui Save Aisyah yang tergabung dalam  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pemprovsu, KPAID, PKPA, Save Aisyah, SOS Children’s Villages Indonesia dan Rumah Zakat Indonesia. Di mana PR (pekerjaan rumah) kita bagaimana membangun tempat tinggalnya untuk Aisyah kalau bisa yang dekat dengan sekolahnya,” ujarnya.

Mengingat beberapa hari belakangan pengunjung sangat tinggi, dalam seminggu ini pihaknya masih membiarkan hal tersebut, namun tetap dalam penjagaan karena sudah ada tim yang memang dibuat untuk jadwal kunjungan tamu. 

“Saat ini kita masih menunggu momen. Kita sterilkan untuk konsentrasi psikolog Aisyah, termasuk kepada bapaknya apakah masih terpikir bangkit mencari rezeki untuk dia dan anaknya nantinya,” terangnya. 

Milik Publik

Maka, akan ada langkah strategis di mana posisi ia dan lainnya kini punya nilai tawar dari pemerintah. Di Save Aisyah sendiri ia terus memiliki pendamping dari “Peduli Aisyah” dan gurunya. Apalagi, Aisyah kini menjadi milik publik.

“Di sini juga kami, ingin mengkonsep asuransi pendidikan, kesehatan dan rumah tinggal untuk kesuanya sudah ada konsepnya. Sampai nanti seminggu ke depannya pemberitaan di media merendah, kita akan memasuki tahap psikologisnya yang membutuhkan ruang pribadi penuh. Kami juga masih menunggu jawaban dari Pemko yang akan memberikan jawaban Selasa nanti untuk jangka panjang Aisyah dan ayahnya,” katanya.

Staf Pokja Pengaduan dan Fasilitasi Pelayanan, Farid Aziz Zendrato yang turut serta dalam tim Save Aisyah menambahkan, Aisyah sudah diserahkan walikota pada Save Aisyah, dengan gagasan Cahyo dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

“Tim kerja yang kita beri nama Peduli Aisyah ini akan menjaga dia, kita terus meninjau, memantau, dan PR (pekerjaan rumah) ke depannya juga untuk kita sangat panjang. Aisyah akan selesai dari pantauan kita setelah ia tamat SMA sesuai janji pak walikota yang menjamin sekolahnya sampai tamat SMA,” ujarnya sembari menuturkan selama seminggu ini masih terfokus untuk Aisyah.

Pengamatan wartawan di ruang ayah Aisyah di rawat, masyarakat yang membesuk tak pernah putus namun keteraturan terlihat, karena tim peduli Aisyah mulai mengatur secara angsur setiap mereka yang ingin masuk melihat kondisi Nawawi yang terbaring lemah dan terutama ingin berbincang dan berfoto dengan si gadis kecil Siti Aisyah Pulungan.(nai)

()

Baca Juga

Rekomendasi