Menjaga Kasih Sayang dari Allah Swt

Oleh: Muhammad Hisyamsyah Dani. “Katakanlah: Hai, hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, & janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar : 53 )

Lantunan kalimat “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih & Maha Penyayang” merupakan kalimat yang tak dapat dipisahkan dari seorang muslim. Begitulah untaian tersebut di setiap permulaan surah Al-Qur’an ( kecuali pada surah At-Taubah ) dituliskan dalam kalimat Basmallah. Dan sepantasnya pun kita dianjurkan untuk memulai seluruh aktifitas kehidupan ini dengan mengucapkan Basmallah, sebagai bentuk pengakuan bahwa seluruh aktifitas manusia tak dapat dipisahkan dari cucuran rahmat & kasih sayang Allah Swt. Dan kita pun sebagai hambaNya sebisa mungkin meniru & menjalankan sifat Allah ini, sebagai hamba yang penuh dengan limpahan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah Swt.

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah Swt yang sempurna dari seluruh penciptaanNya. Sudah barang tentu manusia memilki kadar rasa kasih sayang sebagai salah satu anugerah dari Allah. Lantas pertanyaan yang akan timbul adalah bagaimana kita mengaplikasikan nilai-nilai kasih sayang sebagai jalan ibadah kepada Allah Swt ? perlu rasanya kita mengkaji diri dan men-tafakkurkan sudah sejauh mana kita sebagai hambaNya menempatkan diri menjadi pribadi yang siap menebar kasih sayang dengan dihiasi nuansa keislaman.

Cinta & kasih sayang Allah adalah cinta yang tidak terbatas. Hakikat & ukurannya tidak akan pernah dapat dipersamakan dengan kasih sayang siapapun. Allah Swt berfirman, “ Rahmat (kasih sayang)-Ku meliputi segala sesuatu”. (QS.Al-A’raf : 156). Allah memiliki banyak nama-nama yang baik (Asmaul Husna), diantaranya sifat Rahman & Rahim, karena kedua sifat inilah Allah menciptakan seluruh alam semesta yang tujuannya agar makhlukNya bisa merasakan sentuhan cinta & kasih sayangNya.

Bukan tak mungkin, apabila Allah tidak memiliki kedua sifatNya ini. Alam beserta isinya ini tidak akan terhampar sebagai hasil curahan kasih sayangNya, belum lagi tetesan kasih sayang yang diberikan Allah dalam setiap catatan kehidupan kita. Mulai dari bangun pagi, sampai memejamkan mata, Allah selalu memberikan perhatian kasih sayangNya. Nafas kita, jantung serta pergerakan denyut nadi kita tak luput dari kuasaNya. Namun demikian, seringkali manusia beranggapan bahwa ia tidak pernah mendapat sentuhan kasih sayang Allah Swt. Ia tidak menyadari bahwa setiap perhitungan kehidupan Allah selalu memperhatikan hambaNya sebgai rasa kasih sayang antara Sang Khaliq & makhlukNya.

Hadirnya rasa cinta & kasih sayang sesama makhluk yang seringkali timbul kita rasakan, sebenarnya hanyalah fraksi kecil dan bagian kecil bila dibandingkan cinta dan kasih sayang Allah yang akan diungkapkan pada saatnya nanti. Dalam sebuah kumpulan hadits yang dibuat Muslim Ibn Al-Hajjaj Al- Qusyairi menyebutkan bahwa Allah memiliki seratus kasih sayang & satu diantaranya Allah bagikan kepada jin, manusia, & makhluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan yang 99 lagi, Allah simpan untuk ditunjukan di hari kiamat kelak. Sungguh luar biasa makna di balik ini semua. Terkadang perasaan cinta dalam dada kita terlalu kita bagi dengan penuh kepada cinta dengan makhlukNya. Sedangkan cinta kepada Allah menyisihkan sedikit ruang dalam hati kita. Namun sekali lagi Allah membuktikan banyak atau sedikit ruang kepadaNya, kasih sayang Allah tetap menaungi kehidupan makhlukNya.

Manusia sendiri pada dasarnya difitrahkan memiliki rasa cinta & kasih sayang, khususnya kepada lawan jenis. Hal ini merupakan sunnatullah dan tak bisa dihindari. Sejak Nabi Adam as diciptakan Allah, sebagai manusia pertama, Allah pun menyadari bahwa Adam menginginkan teman sebagai tempat bercengkrama di sampingnya. Hal inilah yang lantas Allah tunjukan dengan menciptakan Hawa sebagi pendamping Nabi Adam as. Mulailah timbul benih-benih cinta dan kasih sayang antara keduanya. Namun, agama Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin mengatur cara mengungkapkan nya sesuai dengan ukurannya agar indah & tidak merusak citra kepribadian manusia dan terlebih melanggar koridor agama Islam, ada batasan-batasan yang tak boleh dilanggar.

Bagaimanapun, Allah menciptakan alam semesta ini, sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. Ada batasan yang tak boleh dilanggar. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt dalam surah Al-Qamar ayat 49 : “ Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Untaian kasih sayang harus diaplikasikan dengan baik dan benar. Bila tidak, bisa merusak. Sehingga keindahannya selalu terjaga serta menjadi benteng yang kokoh.

Sejalan dengan hal tersebut. Motivasi cinta dan kasih sayang yang telah dianugerahkan oleh Allah seharusnya menjadi energi yang penting sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Sebab dengan mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayang kepada Allah bukan mustahil perjalanan kehidupan akan selalu terarah.

Biasanya apa yang kita miliki, baik itu berupa harta benda, jabatan, keturunan dan ilmu, sudah pasti kita menyayanginya. Demikian juga halnya dengan Allah, karena Dia menciptakan maka Diapun cinta akan ciptaanNya. Hal ini jelas tergambar tatkala kita saksikan begitu banyak manusia yang larut dalam kegelimangan dosa, Allah tetap membuka pintu taubat kepada manusia. Sebanyak apapun dosa yang kita perbuat. Tangan Allah senantiasa terbuka bagi siapa saja yang mau bertobat. Rasulullah bersabda, “ Allah membentangkan tangannya di waktu siang agar orang yang berbuat keburukan di malam hari bertobat, begitu juga pada malam hari Allah akan membuka Tangannya untuk orang yang berbuat keburukan di siang hari”, (HR. Muslim ).

Dengan uraian di atas setidaknya kita mengambil hikmah bahwa betapapun porsi cinta & kasih syang manusia, haruslah ingat dan sadar bahwa pemenuhan cinta kepada Allah haruslah menjadi yang terdepan. Seorang tokoh sufi, Rabiatul Al-adawiyah pernah mengungkapkan dalam syairnya tentang kecintaan kepada Allah beliau mengatakan bahwa, “ hatiku telah penuh untuk mencintai Allah sampai-sampai tak ada ruang lagi untuk mencintai yang lain. Sungguh ungkapan yang luar biasa bila kita cermati.

Sebagai kesimpulan sudah sepantasnyalah kita menggunakan kasih sayang kita kepada Allah dengan dilandasi keimanan yang kuat. Dengan menjaga kasih sayang Allah bukan tak mungkin Allah akan selalu mengingat da memberikan rahmat terbaikNya bagi kita. Wallahu ‘alam

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syari’ah Jurusan Siyasah( Hukum tatanegara Islam ), Semester I UIN SU Medandan Kru LPM Dinamika UIN SU Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi