Oleh: Alhoi Lesley Davidson
Sering mendengar berita tentang anak yang lahir dan memiliki ekor. Di India, misalnya, ditemukan beberapa anak yang dilahirkan memiliki ekor layaknya seekor kera. Mereka percaya bahwa anak itu adalah dewa (reinkarnasi dari dewa mereka) Apakah itu benar? Bagaimana bisa terjadi?
Anak yang lahir dengan ekor sebenarnya itu bukanlah suatu keajaiban, tapi kelainan yang terjadi pada tulang belakang anak yang tidak tumbuh sempurna, sehingga menimbulkan celah yang berisi cairan spinal, saraf dan pembuluh darah, yang akhirnya akan mendorong keluar sehingga punggung si anak terlihat seperti ada tonjolan dan terkadang akan menyerupai ekor.
Penyebab dari spina bifida ini belum diketahui dengan jelas. Para peneliti berpendapat bahwa spina bifida ini merupakan penyakit genetik (keturunan) yang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Biasanya kelainan ini terjadi pada usia kehamilan sekitar 24-26 minggu.
Apa saja spina bifida?
1. Spina Bifida Occulta
Jenis spina bifida ini disebut juga Hidden Spina Bifida, karena kebanyakan penderita yang mengalaminya jenis spina bifida ini tidak mengetahuinya. Spina bifida ini tidak menimbulkan gangguan dan tidak ada tanda-tanda yang terlihat. Spinal cord dan saraf pada spina bifida jenis ini biasanya baik. Biasanya ditemukan saat anda melakukan pemeriksaan x-ray dan tanpa sengaja menemukan spina bifida occulta ini. Adapun tanda klinis berupa tonjolan kecil yang agak kemerahan.
2. Meningocele
Meningocele ini adalah spina bifida yang memiliki kantung yang menekan keluar dari punggung. Kantung ini berisi cairan otak (serebro spinal fluid) dan saraf-saraf. Tidak ada kelainan saraf pada pasien spina bifida jenis meningocele ini tetapi ada sedikit gangguan dalam beraktivitas.
3. Myelomeningocele
Myelomenigocele disebut juga Spina Bifida Cystica. Spina bifida ini yang paling berbahaya. Ini terjadi ketika saraf dan sebagian spinal cord terdorong keluar punggung melalui celah tulang belakang yang terbuka. 70-90% anak dengan kondisi ini biasanya disertai kondisi cairan otak yang berlebihan. Hal ini terjadi karena cairan serebro spinal yang berfungsi untuk melindungi kepala dan spinal cord tidak dapat dialirkan. Cairan akan menumpuk, menekan otak dan mengakibatkan pembesaran kepala dan akhirnya akan merusak otak kita.
Kelainan Apa Yang Menyertai Spina Bifida?
Biasanya anak dengan spina bifida bisa mengalami gangguan sosial dan mental. Mereka akan mengalami gangguan untuk berjalan, sulit pergi ke toilet sendiri, alergi dengan latex, obesitas, kulit yang keriput, gangguan saluran cerna, ketidakmampuan untuk belajar, depresi, gangguan tendon, dan gangguan seksual.
Bagaimana Anak Dengan Spina Bifida Yang Mengalami Keterbatas Bergerak?
Anak dengan spina bifida akan mengalami keterbatasan gerak, mereka harus menggunakan tongkat ataupun kursi roda untuk membantu mereka beraktivitas. Dengan bantuan mereka bisa pergi ke toilet maupun mandi sendiri. Dokter, perawat, pengasuh, orang tua dan guru harus mengetahui apa saja yang mampu dan tidak mampu dilakukan anak dengan spida bifida sehingga mereka bisa membantu dan selalu mendukung anak dengan spina bifida agar mereka bisa mandiri, bermain dengan teman seusianya dan mengasuh diri mereka sendiri.
Bagaimana Pengobatan Pada Anak Yang Menderita Spina Bifida?
Untuk spina bifida jenis meningomyelocele biasanya disarankan untuk melakukan operasi oleh bedah saraf pada usia anak 2-3 tahun. Tujuannya agar terhindar dari infeksi dan melindungi saraf dari benturan.
Untuk spina bifida jenis meningocele juga diterapi dengan operasi. Biasanya tidak harus di operasi apabila anak tidak mengalami kelumpuhan. Biasanya anak dengan meningocele tidak mengalami masalah dalam pertumbuhan tetapi harus selalu diperiksakan ke dokter karena sewaktu-waktu bisa mengalami masalah yang serius juga.
Untuk spina bifida occulta biasanya tidak perlu penanganan.
Untuk penanganan spina bifida ini harus melibatkan tim medis yang terdiri dari bedah saraf,urologis, orthopedi, fisioterapis, orthotis, physicologis dan pekerja medis lainnya
Dapatkah Kita Mendeteksi Dini Spinal Bifida?
Ada 3 pemeriksaan untuk mendeteksi dini spina bifida yaitu :
1. Pemeriksaan darah saat kehamilan berusia 16-18 minggu. Tes ini disebut Alpha-Fetoprotein (AFP) test. Jika terjadi peningkatan dari AFP sebanyak 75-80% (<20ng/ml) menandakan bayi di dalam kandungan mengalami spida bifida. pemeriksaan ini kurang spesifik dan sekarang sudah jarang digunakan.
2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) fetus. Pemeriksaan ini yang paling sering digunakan saat ini. Dalam pemeriksaan ini akan ditemukan tanda spina bifida berupa terlihatnya celah tulang vertebra yang terbuka.
3. Pemeriksaan amniosintesis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil cairan amnion (cairan ketuban) untuk diperiksa kadar protein level.
Bagaimana Mencegah Spina Bifida?
Ibu-ibu yang sudah cukup berumur untuk memiliki anak seharusnya mengkonsumsi asam folat sebelum dan sesudah trimester pertama kehamilan. Dosis yang dianjurkan sekitar 0.4mg untuk ibu-ibu yang sehat dan tidak beresiko melahirkan anak dengan spina bifida. Jika si ibu beresiko maka ibu itu disarankan untuk mengkonsumsi asam folat dengan dosis 40mg satu sampai tiga bulan sebelum merencanakan kehamilan.
Asam folat adalah vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Itu dapat ditemukan dalam banyak makanan tetapi sekarang ini banyak dibuat asam folat sintetis yang lebih mudah diserap oleh tubuh.
Apa Anak Dengan Spida Bifida Dapat Hidup Normal?
Anak dengan spina bifida bisa hidup normal, mampu bersekolah dan berolahraga. Dengan pengobatan sekarang anak yang lahir dengan spina bifida dapat tumbuh hingga dewasa. Sekitar 80% memiliki kepintaran yang normal dan 70% dapat mengikuti kegiatan olahraga.
Spina bifida ini harus dideteksi saat awal agar tidak menimbukan gangguan lebih parah. Bila ditemukan tanda pembengkak pada punggung bayi segera lah bawa ke dokter untuk pemeriksaan.











