Imajinasi dan Peradaban

Oleh: Hidayat Banjar

KISAH-KISAH manusia ter­bang mau­pun mengambang menginspirasi seni­man, ilmu­wan dan banyak orang. Kisah-kisah tersebut jadi cikal bakal penemuan pesawat terbang.

Di belahan dunia barat dike­nal Icarus anak dari Daedalus, se­orang seniman dari Athena. Anak dan ayahnya (Icarus dan Deadalus) dipenjara oleh Raja Minos. Keduanya dikurung di dalam labirin yang dibuat sendiri oleh Daedalus. La­barin itu ta­dinya akan dipakai untuk mengu­rung Minotaur. Sakin rumitnya konstruksi labirin, Daedalus sang pem­buat pun tidak tahu di mana jalan ke luarnya. Akhirnya ting­gallah mereka berdua di sana se­lama bertahun-tahun.

Entah karena bosan setengah mati atau karena jiwa mudanya yang terus berge­jolak, Icarus me­ngajak ayahnya. Untuk kabur dari labirin itu dan memintanya membuat sesuatu yang revo­lu­sioner. Karena Daedalus se­orang seniman, sekaligus pe­ne­mu hebat dari Athena, muncul­lah ide yang sangat inovatif dalam kepalanya...membuat sayap!

Akhirnya mereka berdua mu­lai mera­kit sayap dari bulu-bulu angsa dan dire­katkan de­ngan lem. Jadilah dua pasang sayap paling keren yang pernah dicip­takan manusia.

Sebelum terbang, Daedalus mena­sehati anaknya: “Oh Ica­rus, janganlah terbang terlalu ren­dah, karena sayapmu bisa ba­sah oleh air laut. Janganlah terbang terlalu tinggi, karena sayapmu bisa terbakar oleh ma­tahari”.

Demi jiwa mudanya yang la­gi-lagi bergejolak, Icarus berka­li-kali membuat ayahnya meng­elus dada dengan terbang terlalu rendah amat dekat dengan laut. Puncaknya Icarus terbang sa­ngat tinggi, terlalu tinggi. Lilin yang merekatkan sayapnya me­leleh terbakar matahari. Akhir­nya Icarus jatuh dan mati teng­ge­lam di laut Aegea.

Menginspirasi

Kisah ini menginspirasi ba­nyak orang, termasuk Brueghel. Seorang pelukis Belanda dari abad-16 melukisnya dengan judul Landscape with the Fall of Icarus. Dia menggambarkan Ica­rus, dengan tragis jatuh dari la­ngit menghantam laut. Selan­jutnya kisah tersebut bertrans­formasi menjadi keinginan kuat untuk terbang atau menciptakan pesawat terbang.

Pesawat terbang pertama ka­li diter­bang­kan oleh Wright ber­saudara (Orville Wright dan Wilbur Wright). Mereka meng­gunakan pesawat rancangan sen­diri dinamakan Flyer. Dilun­curkan pada tahun 1903 di se­kitar Amerika Serikat. Selain Wright bersaudara, tercatat be­be­rapa penemu pesawat lain. Antara lain Samuel F Cody yang melakukan aksinya di lapangan Farnborough, Inggris tahun 1910.

Indonesia, sejak 1980-an su­dah mulai dikenal dengan indus­tri pesawat terbang. CN-235. Me­rupakan pesawat penum­pang sipil (airliner) angkut turboprop kelas menengah berme­sin dua. Pesawat ini diberi nama Tetuka (nama lain Gatotkaca) dan menjadi pesawat paling suk­ses pemasarannya di kelas­nya.

Tetuka, seorang tokoh dalam wira­ca­rita Mahabharata, putra Bimasena (Bima) atau Wreko­dara dari keluarga Pandawa. Ke­saktiannya Gatotkaca antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap.

De­ngan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian. Karena itu Ra­den Gatotkaca berurat kawat, bertu­lang besi, berdarah gala-gala. Dapat terbang dan duduk di atas awan yang melintang. Ke­cepatan Gatotkaca pada wak­tu terbang di awan bagai ki­lat dan liar bagai halilintar.

Kekuatan Lebih

Fiksi sains memiliki kekuat­an lebih dibandingkan wacana-wacana inovasi yang lebih umum. Jarak naratif yang dicip­takan oleh konteks fiksi, me­mung­kinkan kita untuk melihat inovasi teknologi. Juga kemaju­an peradaban manusia dalam kon­teks yang lebih luas dan kri­tis.

Mobil yang melaju di jalanan, internet, bahkan air yang meng­alir dari kran, hal biasa ditemui di kehidupan modern. Mungkin tak pernah terbayang dalam be­nak manusia sebelumnya. Se­per­ti halnya kita tak mengira pe­rangkat futuristik yang ada di film fiksi-sains akan tersedia di toko-toko suatu hari nanti.

Paling mengesankan, fakta menunjuk­kan, penulis dari abad ke-19 dan di awal abad ke-20. Mereka mempre­diksi kema­juan teknologi, seperti penda­ratan ke bulan, radar, dan dekade internet jauh sebelum itu terjadi.

Jules Verne memprediksi pen­daratan manusia ke bulan pada tahun 1895. Apa yang digambarkan dalam buku, 20,­000 “Leagues Under the Sea” karya Jules Verne yang diter­bitkan tahun 1870. Tak masuk akal di zamannya. Nongkrong di bawah laut dalam waktu lama, me­nge­na­kan pakaian besar. Meng­gunakan selang udara dari kapal yang menyam­bung ke hi­dung.

Novel lainnya karya Jules Verne, “From the Earth to the Moon”, tahun 1895. Digambar­kan misi pertama ke Bulan akan diluncurkan dari pangkalan uda­ra Florida. Para krunya terdiri da­ri tiga laki-laki yang duduk di kapsul besar yang dibuat seba­gian besar dari alu­mu­nium.

Memprediksi

Lama sebelum manusia be­nar-benar menjejakan kaki di Bu­lan, Verne telah memprediksi detail yang mirip. Menak­jubkan, Verne juga menggambarkan kondisi tanpa bobot para kru di ru­ang angkasa. Sebuah fakta yang diketahui umum saat ini, na­mun, kok bisa Verne tepat menggambarkannya?

Itulah imajinasi yang dapat me­lampaui zamannya. Kenya­ta­annya, obsesi manusia tidak se­kadar mendarat, bahkan ingin menetap di Bulan dan  Mars. Di­beritakan berbagai media Ka­mis, 28 Juli 2016, hidup di luar bumi telah menjadi target masa depan sebagian manusia.

Selain planet Mars, para il­muwan NASA juga menarget­kan bulan sebagai tempat uji co­ba hunian masa depan manusia.

Begitulah fiksi membangun imajinasi dan inovasi, kemudian bertransformasi ke dalam tekno­logi. Tekonologi pesawat ter­bang, komputer yang memun­cul­kan internet memuculkan perdaban baru manusia. Terba­ngun­nya kesadaran tentang satu dunia (globalisasi).

Bila tidak dicermati dengan baik -lompatan tekonologi- dapat meng­hi­langkan budaya proses, menganalisis, mereferensi seba­gai syarat demokratisasi hiper­media. Kondisi ini menjadi dasar yang rapuh sebuah bangsa. Ketika melompat langsung jadi salah satu bangsa terbesar pe­ngonsumsi medsos (media sosi­al) yang bekerja dalam perce­patan teknokapitalis. Satu era ke­tika data dan informasi bisa di­manipulasi dan dikuasai penye­ba­rannya oleh siapa pun.

Harus dicatat. Studi komuni­ka­si budaya menunjukkan Indonesia me­ngalami periode awal per­geseran penuh lompatan kultur dialog masalah etnis hingga religi. Dari kultur serba ta­tap muka jadi serba maya. Sebuah migrasi penuh gunca­ng­an yang kompleks.

Lebih jauh lagi, euforia med­sos sering kehilangan filosofi utama demokrasi, yakni kebe­ba­s­an berbasis pengetahuan, keterampilan dan etika. Berhati-hatilah!

Hidayat Banjar Pemerhati Sosial, Budaya dan Pencinta Seni

()

Baca Juga

Rekomendasi