Bireuen, (Analisa). Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Bireuen menggelar Seminar Raja Jeumpa di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, belum lama ini. Seminar untuk mengumpulkan asal usul nama dan sejarah Kabupaten Bireuen.
Seminar dihadiri Duli Yang Maha Mulia Tuanku Raja Noor Yan Shah, Raja Kesultanan Malaka Darul Islam ke 44 dan Tuanku Putri Zaidatul Mardiah binti H Syed Yussuf, Bupati Bireuen Ruslan M Daud, Ketua DPRK Bireuen Ridwan Muhammad dan sejumlah sejarawan.
Ketua MAA Kabupaten Bireuen, Drs Jailani MM, mengatakan, banyak informasi yang ditemukan terkait referensi sejarah Raja Jeumpa, sehingga pihaknya bermaksud menyatukan beragam informasi untuk dikemas secara terperinci.
“Melalui seminar diperkuat dengan bukti dan saksi sejarah yang masih hidup, sebagai warga Bireuen asli kita ingin sejarah nama dan muasal tempat ini menjadi kekayaan daerah yang dapat terus dilestarikan,” ujar Jailani.
Sebelum resmi bergelar Kabupaten Bireuen, kawasan itu dikenal dengan nama Jeumpa yang merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh yang dipimpin seorang raja bernama Abdullah, yang datang berniaga dari India.
“Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk setempat dan menyiarkan agama Islam serta menikah dengan putri raja, hingga Abdullah dinobatkan menjadi raja menggantikan bapak mertuanya,” papar Jailani.
Seminar sengaja digelar di Desa Blang Seupeung yang merupakan desa lokasi makam Raja Jeumpa, supaya dalam pembahasan berjalan tidak melebar ke mana-mana dan fokus pada apa yang dilihat dan disaksikan di lokasi.
Bupati Bireuen Ruslan M Daud mengatakan, seminar yang diadakan hari ini merupakan langkah awal dalam rangka mencatat kembali sejarah Kerajaan Jeumpa yang kian pudar. “Dengan seminar ini akan membuka lebar kunci sejarah Kerajaan Jeumpa,” kata Ruslan.
Bupati juga memakaikan baju kebesaran, pakaian adat dan kupiah meukutop kepada Raja Malaka Darul Islam Tuanku Raja Noor Yan Shah. Sementara Raja Malaka Darul Islam ke 44 itu menyerahkan Alquran kepada Abu Tumin Blang Bladeh. (mur)











