Umat Islam Dilarang Menganggur

Oleh: Hidayat Banjar

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.” (HR Bukhari No 2074).

Permasalahan tenaga kerja di Indonesia seyogianya mendapatkan perhatian yang menyeluruh dan terpadu. Pasalnya, pertumbuhan angkatan kerja selalu lebih cepat jika diban­dingkan dengan pertumbuhan kesempatan kerja. Hal ini disebabkan antara lain karena pertumbuhan penduduk yang cenderung melebihi pertumbuhan kapital (modal). Di samping itu, kegiatan ekonomi mempunyai tingkat diversifikasi yang rendah. Diikuti pula dengan keterampilan tenaga kerja yang belum memadahi sehinga permasalahan ketenagakerjaan semakin kom­pleks.

Pengangguran terjadi disebabkan antara lain, karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain itu juga kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja.

Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif; peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam proses ekspor impor, dan lain-lain.

Menurut pengamat ekonomi, sejak krisis monenter 1997-1998, pertumbu­han ekonomi Indonesia tidak pernah mencapai 7-8 persen. Padahal, masa­lah pengangguran erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi ada, otomatis penyerapan tenaga kerja juga ada. Setiap pertumbuhan ekonomi satu persen, tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 400 ribu orang. Jika pertum­bu­han ekonomi Indonesia hanya 3-4 persen, tentunya hanya akan menyerap 1,6 juta tenaga kerja, sementara pencari kerja mencapai rata-rata 2,5 juta per tahun.

7 Juta Orang

Jumlah pengangguran terbuka di Provinsi Sumatra Utara pada Februari 2017 mencapai 421 ribu orang, meningkat 30 ribu orang dibanding Agustus tahun 2016 yaitu sebanyak 391 ribu. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut menyimpulkan bahwa meningkatnya jumlah pengangguran terbuka itu dipengaruhi peningkatan jumlah angkatan kerja di Sumatera Utara yang bertambah sekitar 320 ribu orang. Sementara lapangan pekerjaan di Sumut hanya mampu menyerap 290 ribu angkatan kerja baru.

Sekaitan dengan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2017. Dalam periode tersebut, tercatat sebanyak 131,55 juta orang angkatan kerja atau naik 3,88 juta orang dibandingkan Februari 2016. Dari jumlah itu, penduduk Indonesia yang bekerja pada Februari 2017 tercatat sebanyak 124,54 juta orang, naik 3,89 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,01 juta orang, hanya berkurang 10 ribu orang dibandingkan Februari 2016.

Bagaimana Islam memandang pengangguran? Islam melarang dan mencegah umatnya menganggur dan meminta-minta. Rasulullah Saw juga mengajak umatnya agar berdikari dan menjauhi sikap meminta-minta, bahkan Baginda sendiri turut bekerja dan berusaha sebagai penggembala kambing dan peniaga.

Ada sebuah kisah Rasulullah Saw yang mengajarkan fakir miskin untuk bekerja. Suatu hari seorang fakir datang menemui Rasulullah dan meminta-minta kepada Baginda makanan maupun uang, lalu Baginda bertanya, “Wahai saudaraku, adakah engkau memiliki sesuatu?”

“Tidak. Aku tidak punya apa-apa,” jawabnya. Baginda bertanya lagi dengan bersungguh-sungguh, lalu lelaki itu menjawab, “Sebenarnya aku hanya mempunyai sehelai hamparan yang separuhnya aku dan keluargaku jadikan alas duduk dan separuh lagi kami buat selimut dan ada sebuah mangkuk yang kami gunakan untuk minum”.

Menjual

“Bawakanlah kedua benda itu kepadaku,” Jawab Baginda Rasul. Lalu lelaki fakir itu segera membawa kedua barang miliknya kepada Rasulullah. Kemudian Baginda menunjukkan barang itu sambil bertanya kepada para sahabat yang sekiranya mau membeli barangan itu.

Akhirnya Baginda dapat menjual barangan itu dengan harga dua dirham, lalu diberikan uang tersebut kepada lelaki itu sambil Baginda berkata, “Ambillah satu dirham ini untuk membeli makanan buat keluargamu, satu dirham lagi belilah sebilah kapak dan bawakan kapak itu kepadaku”.

Tidak lama kemudian lelaki itu pun datang dengan membawa sebilah kapak yang dibelinya. Baginda pun memasukkan hulu pada kapak itu dan menyuruh lelaki itu pergi mencari kayu api. Baginda juga berpesan kepada lelaki itu supaya tidak menemui Baginda selama 15 hari.

Selepas 15 hari, lelaki fakir itu datang menemui Rasulullah. Sambil menunjuk­kan 10 dirham dia berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah memberkatiku dengan kerja yang Tuan suruh aku lakukan itu”.

Balas Rasulullah Saw, “Wahai Saudaraku, sesungguhnya itu adalah lebih baik daripada kau datang pada hari kiamat kelak sedangkan pada mukamu bertanda, karena sikapmu yang meminta-minta”. (Cerita ini disarikan dari khutbah Jumat di sebuah masjid baru-baru ini).

Islam melarang umatnya mengang­gur karena segala pekerjaan yang dilakukan adalah berdasarkan iman, melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Bekerja merupakan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk memakmurkan bumi.

Kelemahan

Bekerja adalah salah cara manusia mencari nafkah bagi hidup diri dan keluarga melalui pelbagai pemberian Allah Swt. Menganggur akan menun­jukkan kelemahan dan kefakiran, jatuhnya marwah sebagai umat Islam yang sentiasa menganjurkan penganut­nya berdikari dan berusaha.

Walaupun Allah menyatakan Dialah pemberi rezeki yang Agung, bahkan setiap umat manusia dalam dunia ini akan ada rezekinya tersendiri, namun menganggur dan meminta-minta bukanlah perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. “Dan tiada satu hewan melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Allah menge­ta­hui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya”. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Luf Mahfuzd, Surah Hud:6.

“Dari Miqdan Ra dari Nabi Muhammad Saw, bersabda: Tidaklah seseorang makan lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud As, makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari).

“Rasulullah saw pernah ditanya, Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab, pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan ta­ngan­nya sendiri dan semua perjual­belian yang dianggap baik,” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Bekerja dalam Islam akan menda­patkan pahala, kenapa? Jawabannya sederhana, karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqh, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa. Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah bersabda, Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya), (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi). Wallahualam bissawab.

Penulis Pemerhati Masalah Sosial, Hukum dan Agama.

()

Baca Juga

Rekomendasi