Oleh: Djoko Subinarto
MENYUSUL wafatnya salah seorang tokoh besar negeri ini beberapa waktu silam, sementara kalangan langsung mengusulkan kepada pemerintah agar sang tokoh yang telah wafat tersebut diberi gelar pahlawan nasional karena dinilai yang bersangkutan telah memiliki jasa yang besar kepada bangsa dan negara.
Memang, secara umum, nalar orang awam kebanyakan menilai bahwa pahlawan itu adalah orang yang berjasa besar. Dalam skala luas, seorang pahlawan adalah seorang yang berjasa kepada bangsa dan negaranya. Dalam skala yang kecil, seseorang yang berjasa besar kepada keluarganya juga bisa disebut pahlawan.
Kendatipun demikian, sampai batas-batas tertentu, pahlawan hanyalah sebuah gelar, sebuah titel, yang disematkan oleh pihak lain kepada seseorang. Pemberi gelar biasanya memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam memberikan gelar pahlawan. Itu artinya, gelar pahlawan bisa saja sangat subjektif. Seseorang yang Anda anggap sebagai pahlawan bagi diri Anda, mungkin di mata orang lain hanyalah orang biasa yang tidak berarti apa-apa. Seorang pahlawan bagi suatu bangsa, belum tentu ia dinilai sebagai pahlawan oleh bangsa lainnya. Bisa jadi ia malah dianggap sebagai musuh. Pun sebaliknya.
Orang Inggris menyebut pahlawan sebagai ‘hero’. Coba luangkan waktu sejenak untuk membolak-balik kamus The Advanced Learner’s Dictionary Of Current English, niscaya Anda temui kata itu. ‘Hero’, sebagai kata benda, menurut kamus tersebut paling tidak mempunyai dua definisi, yakni (1) boy or man respected for bravery or noble qualities; (2) chief man in a poem, story, play etc.
Mengacu pada definisi tersebut, maka pahlawan dalam kacamata orang Inggris memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi dunia nyata dan kedua, dimensi dunia khayali. Dalam dimensi dunia nyata, seorang pahlawan adalah seseorang yang dihormati karena ia memiliki keberanian dan akhlak yang mulia. Sedangkan dalam dimensi khayali, yang dimaksud pahlawan itu adalah tokoh utama dalam sebuah cerita, puisi atau drama. Yang saya ketahui, biasanya tokoh utama dalam cerita, puisi atau drama itu adalah tokoh-tokoh yang memperjuangkan kebaikan dan membasmi kejahatan.
Kalau ditilik asal-usulnya, kata ‘hero’ sangat boleh jadi berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuna yaitu ‘hera’. Secara harfiah, maknanya adalah pelindung atau penjaga. Dalam mitologi Yunani kuna sendiri, ada dewa bernama Hera, yaitu dewa yang menjaga pernikahan. Berdasar makna ini, seorang hero alias pahlawan agaknya haruslah memiliki sifat melindungi atau sifat mengayomi.
Pahlawan lingkungan
Sesungguhnya, setiap orang bisa saja menjadi pahlawan: pahlawan bagi dirinya maupun pahlawan bagi orang lain. Dalam konteks lingkungan, setiap orang bisa pula menjadi pahlawan. Ya, pahlawan untuk lingkungan. Seperti kita ketahui, Bumi yang kita tinggali ini semakin lama semakin sakit sehingga semakin tidak sehat untuk ditinggali.
Tak perlu jauh-jauh kita pergi untuk membuktikan betapa Bumi kita ini kian sakit. Lihat saja ke sekitar kita, di kawasan perkotaan tempat kita tinggal, misalnya, kita bisa saksikan kemacetan lalu-lintas semakin parah saja. Di samping membuat lingkungan kian tidak sehat, kemacetan juga menimbulkan gangguan terhadap aktivitas bisnis dan ekonomi. Dalam karyanya bertajuk Measuring the Economic Costs of Urban Traffic Congestion to Business, Weisbrod et al (2003) menyebutkan bahwa kemacetan menaikkan biaya perjalanan, menaikkan biaya logistik serta menurunkan produktivitas.
Khusus terkait dengan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara akibat kemacetan lalu-lintas, sejumlah studi menyimpulkan bahwa polusi udara berkontribusi bagi meningkatnya antara lain penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit paru-paru dan penurunan kecerdasan. Indonesia sendiri, seperti pernah dilaporkan Bloomberg, saat ini menduduki peringkat ke-8 sebagai negara dengan tingkat pencemaran udara paling parah di seluruh dunia.
Penyebab kemacetan lalu-lintas sendiri salah satunya adalah akibat dari kencederungan kita yang lebih suka menggunakan kendaran pribadi ketimbang menggunakan kendaraan umum atau mengayuh sepeda maupun berjalan kaki. Sebagian dari kita mungkin saja begitu getol mengeluhkan soal kemacetan lalu-lintas. Ironinya, tidak sedikit dari mereka yang mengeluhkan soal kemacetan itu nyaris saban hari kemana-mana menggunakan kendaraan pribadi. Dengan demikian, mereka mengeluh, tetapi sesungguhnya mereka sendiri adalah bagian dari masalah yang mereka keluhkan.
Maka, untuk ikut mengatasi kemacetan yang membuat lingkungan kita semakin tidak sehat ini, kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Kita bisa menjadi pahlawan bagi lingkungan kita. Caranya cukup dengan mulai membiasakan untuk lebih sering menggunakan transportasi publik daripada menggunakan kendaraan pribadi. Untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, kita cukup berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Simpel, bukan?
Berjalan kaki maupun mengayuh sepeda selain membuat lingkungan semakin bersih, juga membuat tubuh kita semakin sehat dan bugar. Karenanya, ada baiknya kita biasakan di keluarga kita untuk lebih banyak berjalan kaki dan mengayuh sepeda, misalnya, untuk menuju kantor, sekolah, pasar maupun tempat-tempat lainnya.
Percayalah, Indonesia bakal semakin bersih dan semakin sehat serta semakin nyaman ditinggali apabila memiliki semakin banyak individu yang menjadi pahlawan lingkungan. Karena itu, mari kita mulai berupaya menjadi pahlawan lingkungan dengan cara melakukan hal-hal kecil, hal-hal sederhana, namun sejatinya akan sangat berarti bagi kelestarian dan kesehatan lingkungan di sekitar kita.***
-Penulis adalah kolumnis lepas, gemar bersepeda











