Kearifan Terhadap Lingkungan

Oleh: MH Heikal

PADA dasarnya, alam te­lah tertata secara har­monis. Namun keharmonisan ini bi­sa terganggu disebabkan makh­luk hidup yang berna­ma manusia tak per­nah me­ra­sa cukup. Untuk meme­nuhi berbagai kebutuhan dan ke­inginannya yang relatif tidak ter­batas, alam dieksploitasi de­ngan ganas dan bahkan tan­pa nurani. Padahal alam telah me­nye­diakan berbagai ke­per­lu­an untuk alur kehidupan manusia.

Alam yang indah dan raya telah dihamparkan Tuhan me­rupakan jaminan bagi ke­langsungan hidup manusia beserta generasi mendatang dan segala lapisan kehidupan yang ada di dalamnya. Su­ngai, hutan, laut telah terse­dia untuk dimanfaatkan. Na­mun betapa sayangnya, da­lam pemanfaatan inilah se­ring terjadi salah kaprah, Karena segala hasil alam mes­ti dikuras sebanyak-ba­nyak­nya. Ironisnya tanpa memer­ha­tikan keberlangsungan mau­pun kondisi kedepan se­lanjutnya. Maka, alam juga­lah yang menjadi korban. Manusia sama sekali tidak mau dijadikan tersangka atas tindakannya ini.

Disadari, ada banyak hal dilakukan untuk men­jamin kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Salah sa­tu­nya dengan mengubah si­kap dalam memandang dan memperlakukan alam. Me­mandang alam bukan sebagai sumber kekayaan yang siap diekspoloitasi kapan dan di mana saja. Di sinilah konteks kearifan terhadap alam mau­pun lingkungan dimuncul­kan.

Kearifan terhadap ling­kung­an merupakan penge­ta­huan yang diperoleh dari ber­bagai pem­bauran pengalam­an adaptasi aktif terhadap lingkungannya. Pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk ide, aktivitas dan per­alatan. Dengan itu kearifan lingkungan dapat disimpul­kan ke dalam struktur dipa­hami, dikembangkan, dipe­do­mani dan diwariskan seca­ra turun-temurun oleh kum­pulan atau kelompok orang.

Kearifan lingkungan di­mak­sudkan sebagai aktivi­tas dan proses berpikir, bertindak dan bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengamati, memanfaatkan dan meng­olah alam sebagai suatu ling­kungan hidup dan kehidupan umat manusia secara timbal-balik.

Pengetahuan sekelompok orang yang memiliki kearif­an ekologis itu dikembang­kan, dipahami dan secara tu­run-temurun diterapkan se­ba­gai pedoman dalam me­nge­lola lingkungan terutama dalam mengolah sumberdaya alam. Pengelolaan lingkung­an secara arif dan berke­si­nam­bungan itu dikembang­kan mengingat pentingnya fungsi sosial lingkungan un­tuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat. Manfaat yang diperoleh manusia dari lingkungan mereka. Apalagi bila suatu kelompok itu sa­ngat bergantung penuh pada hasil dari alam, maka meng­akibatkan orang merasa me­nyatu atau banyak tergantung kepada lingkungan mereka.

Di kalangan masyarakat Pulau Timor dikenal konsep segitiga kehidupan "Mansian-Muit-Nasi, Na Bua" yang ber­arti manusia, ternak, dan hutan. Ketiganya ini merupa­kan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling memi­liki ketergantungan. Prinsip ekosistem dan jejaring kehi­dupan yang saling hidup dan menghidupi sangat dihargai. Manusia mengartikan man­faat dari ternak dan hutan, ter­nak mencari makan di hu­tan dan manusia memelihara hutan. Jika salah satu dari ketiga unsur ini dipisahkan akan membawa dampak bagi unsur yang lain. Secara tek­nis, beberapa bentuk keane­ka­ragaman hayati di NTT sam­pai saat ini masih mem­punyai kontribusi yang sig­ni­fikan dalam rehabilitasi la­han, pengelolaan lingkungan dan sumberdaya hutan.

Dapat kita mengeti bahwa alam dan manusia saling me­miliki ketergatungan. Meski keterikatan hubungan ini di­dominasi oleh manusia se­ba­gai pihak yang aktif diban­ding alam yang pasif. Alam hanya meminta agar ia dira­wat sebagaimana mestinya. Dengan manusia memerha­ti­kan kaidah dan struktur eko­sistem yang telah ada. Pada ta­hun 1967 seorang ahli se­ja­rah, Lynn White Jr, me­nulis artikel The Historical Roots of Our Ecological Crisis, memuat pandangannya mengenai faktor utama yang menyebabkan krisis alam sekitar. Menurutnya, faktor utama yang menyebabkan krisis alam dan lingkungan adalah faktor ideologi.

Ideologi atau doktrin itu melahirkan suatu pandangan umum dalam kehidupan ma­nusia yaitu mereka diizinkan oleh Tuhan untuk mengks­ploitasi alam sekitar demi kelangsungan hidup mereka. Mereka telah dititipkan oleh Tuhan, jadi tidak ada yang bi­sa membatasi mereka da­lam melakukan eksploitasi. Lynn White Jr. menjelaskan dengan berpegangan pada pandangan umum tersebut dalam kehidupan masyarakat barat yang secara dinamik dan terstruktur dengan meng­gunakan sains dan teknolo­gi­nya untuk mengeksploitasi alam sekitar tanpa batasan. Fenomena inilah yang me­nye­babkan pengikisan dan kemerosotan kualitas alam sekitar, baik secara lokal mau­pun global.

Seperti yang dapat kita li­hat relevansi global yang ter­jadi saat ini ialah adu ke­som­bongan nuklir. Nuklir tentu­nya mempunyai daya meru­sak alam yang dahsyat. De­ngan pongahnya Korea Utara berulang-kali melakukan uji coba nuklir. Dampaknya hing­ga menimbulkan gempa di Jepang. Tentu ini merusak keseimbangan alam yang te­lah tertata. Maka, semesti­nya­lah kita harus memper­tahankan kearifan terhadap lingkungan, yang pada inti­nya merupakan upaya untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dan sistem alam.

Manusia bergantung sede­mikian rupa sehingga semua komponen mendapat perla­ku­an yang sesuai untuk ke­lestariannya. Lingkungan men­jadi sesuatu yang berhar­ga dalam kehidupan di dunia, menjadi faktor keberlanjutan kehidupan manusia di bumi.

(Penulis adalah penikmat panorama alam, mahasiswa FEB-USU)

()

Baca Juga

Rekomendasi