Oleh: Gigih Suroso. Banyak dari kita yang rela menggadaikan apa pun untuk meraih ketenaran didunia, baik itu dengan cara menyakiti orang lain, atau dengan jalan yang dibenci oleh Allah. Ada banyak pula alat yang kita gunakan untuk mengundang ketenaran, yakni harta atau kekuasaan. Mendapatkan ketenaran di dunia, ditandai dengan membanjirnya pujian dari manusia, diagung-agungkan, dihormati dan dipandang. Namun, semua itu hanya tipu daya dunia, belum tentu, diantara penduduk langit dia terkenal, tidak pasti pula, bahwa pujian yang didapatnya dari manusia, diperolehnya pula dari Allah.
Hari ini, internet dan media sosial memberikan pengaruh yang luas terhadap berbagai aspek, termasuk keagamaan. Bukan hanya pengalaman berwisata saja yang didokumentasikan lalu disebar lewat media sosial, ternyata pengalaman spritual yang didapatkan manusia lewat ibadah pun mulai ramai bermunculan, entah itu dalam bentuk foto atau video. Jika tujuannya baik memotivasi orang lain untuk ikut beribadah itu tidak masalah, namun hati- hati kalau jatuhnya sampai ria.
Amalan yang sebelumnya kita maksudkan lillahi ta’ala, namun karena rayuan syetan untuk ria, buah pahala pun bisa nyaris habis tak tersisa. Media sosial agaknya telah menjadi dunia baru bagi manusia untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain, bertukar informasi dan pengalaman tanpa takut terhalang jarak dan waktu. Ria bukan saja mendatangkan murka Allah, tapi juga melahirkan dosa lain. Sebab orang yang ria, cenderung akan sombong.
Kesombongan kita terhadap pemberian Allah tidak akan pernah mendapatkan berkah, entah kita sedang menyombongkan harta, ibadah atau tahta. Dan kita, mungkin akan dikenal oleh penduduk bumi sebagai orang terpandang, namun belum tentu Allah dan makhluk yang di langit akan melihat kita. Pernahkah kita mendengar kisah Fir’aun dan Hilal Bin Ra’bah. Keduanya memiliki kehidupan yang sangat berbeda, Fir’aun adalah orang kaya raya, hartanya berlimpah, banyak orang yang memujinya, hingga terbesit di dalam hatinya menjadi Tuhan. Berbeda dengan Hilal, sahabat nabi yang berjuang mempertahankan aqidahnya dibawah terik sinar matahari, jauh dari kata kaya, tak banyak orang yang memandangnya semasa hidup di dunia, karena kemiskinanya pula tak berniat orang-orang mengagungkan dan memujinya.
Fir’aun begitu terkenal karena harta dan tahta yang disombongkanya, hingga pada Akhirnya Allah murka dan membinasakannya. Sepatu emas Fir’aun yang dulu terkenal di kalangan penduduk langit berada di neraka, sedangkan terompa/sendal Hilal yang jauh dari kata mewah terdengar oleh Rasulullah telah berada di syurga.
Harta buka satu-satunya objek yang bisa disombongkan, di era perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, ada banyak orang-orang yang menyombongkan amal dan ibadahnya. Berbeda saat zaman internet belum ada, kesempatan untuk berbuat ria sangat kecil, sebab manusia dibatasi jarak saat berinteraksi. Sekarang, sekali posting foto di depan Ka'bah Dengan caption " lagi umrah", berhati hatilah, syetan selalu mencari celah agar manusia bisa menjadi ria. jangan karena tuntutan zaman, kita melewatkan tuntunan Islam
Mungkin sering kita dengar kata bijak yang berbunyi " Sembunyikan ibadahmu, Sebagai mana kau sembunyikan aibmu". Hikmah yang bisa kita ambil, bahwa ibadah yang kita lakukan biarlah hanya kita dan Allah saja yang tahu, hubungan kita dengan Allah biarlah terjain tulus dan khusyuk, tak perlu diumbar ke publik karena itu hanya akan menyisakan perbuatan ria
Kalau tujuan kita memposting ritual ibadah kita ke media sosial karena ingin memotivasi, apakah ada jaminan niat kita lurus dan tulus. kita sebagai manusia biasa sangat rentan dari godaan, kecuali ada jaminan bahwa kita adalah orang dengan iman yang kuat, sehingga bisa bebas dari rayuan syetan yang penuh muslihat lihai dalam menyimpangkan niat lillahi menjadi ria.
Tidak perlu orang lain kita sedang beribadah, sebab eksistensi dari ibadah adalah untuk menghambakan diri kepada Allah, bukan untuk dikenal manusia di bumi ini. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi/18 : 110]
Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi]
Ria merupakan perangkap yang akan mengikis nilai-nilai ibadah yang pernah kita lakukan. Cukuplah Allah sebagai penilai ibadah kita, pemberi balasan untuk semua amal kita. Berharap pujian dari Allah atas semua peribadahan kita kepada-Nya. Risaulah jika ibadah kita ternyata tidak diterima oleh Allah, sebab dalam melakukanya, demi mengejar popularitas di media sosial, kita terperangkap dalam perbuatan ria
Mungkin orang lain tak pernah tahu kalau kita sholat di setiap sepertiga malam,. beriman atau tidaknya kita, bukan dinilai dari berapa banyak orang yang tahu kita taat beribadah. “Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” (Ali-Imran/3 : 29) Tidak perlu orang tahu, fokus sajalah pada syarat dan sahnya ibadah, ikhtiarlah dengan memenuhi segala kelengkapan rukunya, semoga Allah menerima ibadah kita. Cukuplah media sosial jadi lahan dakwah,bukan wadah untuk ria.
Belajarlah kita dari Quwais alQarni yang karena baktinya pada orang, bersebab rendah hati dan ketaatannya, dia terkenal di kalangan penduduk langit. Para sahabat pun tak mengenal Quwais alQarni, sampai Rasulullah mengenalkan kearifan akhlaknya. Uwais alQarni, sosok yang mencintai Rasulullah, walaupun hidup miskin tapi hatinya begitu kaya, tidak pernah lepas darinya bacaan Alquran. Dia sangat terkenal di penduduk langit dan menjadi pembicaraan para malaikat.
Uwais hidup, tidak ada media yang bisa dijadikannya untuk memposting fotonya yang sedang menjaga sang Ibu. Tidak ada kesempatan membuat status bahwa dia hidup miskin, sedang membaca Alquran dan amal lainnya. Tapi, penduduk langit semua mengenal Quwais alQarni. Terkenalnya Uwais di langit bukan karena ia sering mengumbar ritual ibadahnya. Keikhlasan Uwais telah menembus batas bumi, sampai menuju langit. Kita yang sedang sedekah, lalu kita posting fotonya ke media sosial, saat itu mungkin saja orang lain akan memuji amal yang sedang kita lakukan, bisa saja ribuan orang melihatnya dan ribuan pujian manusia juga yang datang, tetapi belum Allah memuji kita
Bukankah yang kita kerjar adalah ridho Allah, bukan ridhonya manusia. Maka jagalah ibadah kita agar tidak jatuh ria, waspadalah terhadap perangkat syetan, jangan sampai mereka menggangu niat kita yang lillah menjadi karena manusia. "...Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya" (Imam al Hasan al Bashri)
Sulit sekali mencari sosok seperti Uwais alQarni, dia begitu terkenal di kalangan penduduk langit. Bahkan Rasulullah memerintahkan Umar dan Ali untuk menjumpai Uwais, dan menyampaikan salam dari Rasul. Uwais berhasil membuat dirinya di kenal oleh para malaikat karena amal-amal kebaikannya. Namun hari ini, kita lebih berambisi untuk mengumbar ibadah kita ke publik, di media sosial kita posting setiap Ibadah, saat sholat duham sedekah atau mungkin saat sholat malam, Naudzhubillah
Fir’aun memang sudah tidak ada lagi di dunia, tetapi mungkin sifat-sifat bisa saja kita warisi. Menganggap diri sendiri paling benar dan selalu menyalahkan orang lain juga bisa mendekati kesombongan, sebab kita tidak tahu, siapa diantara kita yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah. Banyak pun amal ibadah, tidak pantas kita sombongkan, karena belum tentu Allah menerimanya. Melimpah pun harta kita, tidak pantas kita umbar-umbar, karena Allah tidak mencintai hambanya hanya sebatas dia kaya
Ada orang-orang soleh, yang beribadah, berdakwah dan bekerja lillah di tengah malam, di terik panas matahari dan di pelosok daerah. Mungkin kita tidak megenal dan mendengar namanya. Tapi diantara penduduk langit, mereka sangat terkenal, Karena Allah selalu menyebut nama mereka. Akhirnya, mari kita berbenah diri, meluruskan niat dan memperkecil syetan untuk menjerumuskan kita pada perbuatan ria. Gunakan media sosial seperlunya, mendakwakan kebaikan sesuai syariat Islam. Sembunyikan amal ibadah kita, seperti kita menyembunyikan Aib. Allah tidak buta, Dia maha malaikat, dan selalu ada malaikat yang siap mencatat. Tak usah takut tidak terkenal di dunia, karena penduduk langit akan mengenal kita. Maka beribadahlah lillah.
Penulis Mahasiswa FEBI dan Kru LPM Dinamika UIN SU











