Oleh: dr. Jordy Kristanto. Coba perhatikan mata anda, apakah ada selaput berwarna putih keabu-abuan? Bisa saja itu pterygium. Mungkin anda merasa familiar dengan kata pterodactyl, yah karena pterygium sendiri berasal dari kata Yunani pterygion yang berarti sayap. Pterygium merupakan suatu kondisi di mana terdapat selaput berbentuk segitiga ataupun sayap yang berasal dari konjungtiva hingga kornea.
Pterygium terjadi karena suatu proses peradangan dan proliferasi kronis yang terjadi terus menerus pada mata yang diakibatkan oleh polusi debu dan sinar ultraviolet (matahari), terutama UV-B dan sinar biru.
Indonesia yang merupakan negara tropis dan terletak dekat dengan garis ekuator merupakan faktor utama kenapa kejadian pterygium cukup tinggi di Indonesia. Berdasarkan RISKESAS 2010, angka kejadian pterygium kedua bola mata terbanyak terletak di Sumatra Barat, dan kejadian pterygium pada salah satu bola mata terbanyak ada di Nusa Tenggara Barat.
Pterygium sendiri tidak banyak mengganggu jika masih dalam derajat awal, seiring bertumbuhnya pterygium maka akan timbul keluhan berupa mata kering, perih, merah hingga gangguan penglihatan.
Banyak orang yang menganggap jika tidak menimbulkan keluhan maka tidak perlu diobati, hal ini dapat diterapkan pada pterygium tetapi perlu diketahui jika kita tidak melakukan pencegahan yang benar, maka pteygium akan bertumbuh semakin besar.
Pertumbuhan pterygium dibagi kedalam 4 derajat, yakni:
Derajat 1: Puncak pterygium hanya terdapat pada tepi kornea
Derajat 2: Puncak pterygium sudah melewati tepi kornea, tapi tidak melebihi 2mm
Derajat 3: Puncak pterygium sudah melewati derajat 2 tetapi tidak melewati pinggiran pupil
Derajat 4: Puncak pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan
Terapi definitif pterygium adalah operasi. Adapun indikasi operasi dari pterygium berupa: Astigmatisma (rabun mata silinder), kecenderungan untuk terjadi gangguan pada aksis penglihatan, gangguan iritasi yang berat, kosmetik. Walaupun sudah dioperasi, angka rekurensi pterygium tetap tinggi. Maka dari itu, tindak pencegahan tetap perlu dilakukan walaupun pterygium sudah dilakukan eksisi.
Adapun upaya pencegahan yang dapat dilakukan berupa menggunakan kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari dan paparan debu ketika beraktivitas diluar rumah.
Penggunaan helm pada pengendara sepeda motor juga disarankan untuk menggunakan yang memiliki kaca pelindung, tetapi seperti yang kita lihat, masih banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm secara benar.
Bagi para nelayan yang sering melaut merupakan tipe pekerjaan yang menjadi faktor pencetus pterygium, karena pantulan sinar matahari dari laut. Adapun saran pada rekomendasi lensa adalah lensa photochromic di mana bisa melindungi dari sinar UV hingga 100%
Selain pterygium, paparan debu dan sinar ultraviolet juga dapat mengakibatkan yang namanya pinguecula. Pinguecula adalah benjolan berwarna kuning di mata, yang merupakan deposit protein, lemak, atau kalsium. Sebenarnya pterygium awalnya dapat berupa pinguecula, tetapi jika paparan sinar ultraviolet dapat dikurangi maka, pinguecula tidak akan berkembang menjadi pterygium.
Gejala pinguecula hampir sama dengan pterygium, tetapi pada pinguecula dapat terjadi pingueculitis, yaitu peradangan pada pinguecula. Jika terjadi pingueculitis, maka dapat diberikan obat steroid berupa tetes mata. Jika terjadi iritasi dan mata kering, maka dapat diberikan obat tetes air mata buatan. Walau terapi dan proses terjadinya pinguecula dan pterygium sama, perlu dingat bahwa pinguecula sebenarnya berbeda dengan pterygium dari sisi morfologi dan histologi.











