Oleh: Ifwamul Hakim.
Di bawah lambaian pohon selasih
Di lingkung alam samar redup
Di sana kiranya wahai kasih
Tempat (is)tirahat di akhir hidup
Puitis dan penuh makna menjadi ciri khas dalam setiap lirik lagunya. Seperti sebait lirik di atas, berjudul Pusara Kasih. Mengingatkan pada kematian yang hakiki. Dibalut dalam kata-kata kiasan dengan rima menawan. Begitulah cara beliau bercerita dalam lagu-lagunya.
Namanya memang tak sepopuler Beethoven sang komponis dunia. Ide dan produktivitasnya dalam berkarya memberi peranan yang besar dalam perkembangan musik di Sumatera Utara, hingga Indonesia.
Dialah Profesor Ahmad Baqi, komposer musik yang lahir di Kampung Baru, Medan, 17 Juni 1921. Semasa hidupnya telah menciptakan sebanyak lebih dari 1.000 karya, instrumental maupun vokal. Di era itu dia banyak menghabiskan waktu menyusun musik bergaya Arabian. Orang-orang menyebutnya Irama Melayu Padang Pasir.
Membaca gelar profesor di depan namanya, sebagian dari anda mungkin mengira Ahmad Baqi adalah seorang lulusan akademik. Menghabiskan waktu bertahun-tahun di universitas, hingga menyandang gelar ‘bergengsi’ ini.
Sebenarnya, beliau tak sempat mengecap hidangan ilmu di kursi kampus. Gelar ini merupakan honoris causa. Dia dapatkan berkat kerja kreatif dan buah pemikirannya yang setara dengan kerja para profesor.
Dididik agar menjadi seorang ulama sejak kecil oleh ayahnya. Sempat ingin melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo, tapi perang Asia Timur Raya tahun 1941 menghambat cita-citanya. Bukan berarti ini akhir dari semua cerita, tapi justru menjadi awal.
Kegagalan belajar di Al-Azhar membuatnya harus ikhlas membantu ayahnya mengajar mengaji. Hikmahnya, dia menguasai segala teknik melagukan Alquran seperti hijaz, bayyati, soba’, dan rast. Kemampuan ini coba dia terapkan pada alat musik biola dan menekuninya secara otodidak.
Dia gemar pula membaca karya roman Buya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Laila Majnun atau Di bawah Lindungan Ka’bah. Sedikit banyak, hal ini mempengaruhi rima bahasa lirik lagunya yang puitis sekaligus bergenang petuah jua nasehat.
Tantangan pertama dalam perjalanan musiknya datang dari sang ayah. Ayahanda merupakan seorang guru Alquran menganggap musik sebagai hal yang haram. Ahmad Baqi punya pandangan berbeda. Baginya, selama musik itu membawa maslahat maka tak jadi persoalan. Maka teruslah ia mengarang lagu.
El-Surayya
Tahun 1964, Ahmad Baqi membentuk El-Surayya. Sebuah grup sebagai wadah kreatif dan menuangkan gagasan musiknya. El-Surayya juga menjadi tempat beliau membina murid-murid seperti Atikah Rahman dan Asmidar Darwis.
Konferensi Asia Afrika tahun 1965 di Panghegar, Bandung, menjadi ajang unjuk gigi pertama bagi El-Surayya. Kemudian, tahun 1970 Ahmad Baqi bersama El-Surayya berangkat ke Khota Bahru, Kelantan. Pada tahun inilah penganugerahan gelar profesor honoris causa diberikan oleh Perdana Menteri Besar Kelantan, Malaysia. Sejak saat itu gelar profesor senantiasa melekat pada namanya.
Penghargaan berikutnya diberikan oleh H. Bahrum Jamil (pendiri Universitas Islam Sumatera Utara) beberapa saat setelah kepulangan beliau dari Kelantan. Dia diakui sebagai komponis lagu-lagu nasyid terbaik pada masa itu.
Sambut-menyambut, sebuah penghargaan tertinggi disemaikan kepada Profesor. H. Ahmad Baqi. Dinobatkan sebagai seniman dan sastrawan terbaik antarbangsa pada tahun 1994 dalam acara Temu Mesra oleh pejabat tinggi Kota Kinabalu. Menyusul pula Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar, memberikan penghargaan sebagai seniman & komponis Islam terbaik Sumatera Utara.
Kini, 17 tahun (sejak 22 januari 1999) beliau meninggalkan dunia ini, berdiam di ‘pusara kasih’. Perjuangan menyenandungkan lagu-lagu qasidah, suara-suara kebaikan, dilanjutkan oleh anak-cucunya. Sebagian tetap memakai atribut nama besar El-Surayya. Sebagian lain memberi label nama grup baru namun dengan gaya dan semangat musik yang sama.
Karya-karyanya telah menjadi repertoar untuk festival Nasyid di Indonesia, dulu, hingga sekarang. Lagu-lagu Selimut Putih, Mawar atau Madah Terakhir masih disenandungkan penggiat musik qasidah di sudut-sudut kampung Sumatera Utara. Sering pula kita dengar di hajatan-hajatan perkawinan.
Beliau seorang yang komponis dengan prinsip yang kuat. Sebab keteguhan dan kesetiaannya pada pilihan gaya bermusik. Tak hirau meski gelanggang arus pop, jazz, atau rock mengusik eksistensinya semasa berkarir. Sebab beliau hanya hendak mengekspresikan ruang jiwa seninya. Sesuai dengan cara dan bentuk yang dia yakini kebenarannya.
Jikapun ada sebagian orang menganggap beliau sebagai peniru musik ranah Mesir, maka beliau adalah peniru yang baik. Karena ketekunannya dalam belajar dan memainkan jenis musik ini secara kaffah. Ini jarang terpikir oleh para penggiat musik hari ini yang terlalu riuh menjadikan popularitas sebagai fokus, hingga lupa pada hakikat berkesenian.
Dengan segala kontribusinya pada dunia musik, dia patut diapresiasi tinggi oleh masyarakat, lebih dari apa yang telah diperoleh selama ini. Dialah Professor Ahmad Baqi. Namanya tak sepopuler Beethoven. Ide dan semangatnya dalam berkarya menjadi tonggak dan inspirasi para musisi hingga hari ini.
Penulis; Mahasiswa Magister Seni Pertunjukan
University Malaya, Malaysia











