Oleh: Dra. Yusna Hilma Sinaga
Banyak keluhan terhadap cuaca yang berubah secara tiba-tiba. Sungguh, akhir-akhir ini cuaca sangat ekstrem. Tanpa diduga-duga, hujan bisa terjadi secara mendadak ketika udara sangat cerah. Saat panas terik dengan suhu yang sangat menggerahkan tubuh, tiba-tiba langit kelam, angin berhembus dengan kecepatan tinggi, kilat dan halilintar bersahutan di angkasa, dan hujan pun membasahi bumi.
Bulan “Ember” (September-Desember) bukan lagi waktu yang akurat atau jadwal berlangsungnya musim hujan. Sebaliknya Maret-Juli bukan jaminan bahwa kemarau akan menyengat. Apa penyebab tidak menentunya musim yang membuat petani pun sulit menentukan musim tanam?
Banyak penyebabnya, tapi kita harus berusaha menekan agar pada musim kemarau suhu udara tidak terlalu panas. Sebaliknya pada musim hujan tidak terlalu dingin. Caranya tidak merusak alam dan menanam pohon.
Kita memang sering merasakan suhu udara terlalu panas, baik siang maupun malam, tapi kalau dikatakan panasnya mencapai 360 derajat celcius dan kalau hujan paling rendah turun menjadi 280 derajat celcius, tentu tidak masuk akal.
Kalaulah suhu udara mencapai 360 derajat celcius, tentu tidak ada kehidupan lagi, karena air mendidih saja hanya lebih kurang 100 derajat celcius. Sungguh tak masuk akal kalau kita dapat bertahan hidup dalam suhu yang kalau dikatakan paling rendah 280 derajat celcius.
Kalau kita amati, akhir-akhir ini hutan rimba sudah banyak terbakar dan dibakar. Sementara “hutan beton” tumbuh subur dan menjulang tinggi mengalahkan pohon di hutan rimba.
Cuaca yang silih berganti dari panas mendadak hujan dan sebaliknya, menyulitkan untuk membuat suatu perencanaan. Banyak warga masyarakat yang menyalahkan alam dalam fenomena cuaca ekstrem ini karena mereka kurang paham penyebabnya.
Lingkungan hidup memang sudah rusak akibat perlakuan segelintir manusia yang ingin menguasai alam. Inilah penyebabnya, di samping emisi Gas Rumah Kaca (GRK), pemakaian plastik berlebihan, asap kendaraan bermotor, dan asap pabrik. Semua ini terakumulasi hingga membentuk sebuah karakter dari alam ini yang pada dasarnya ramah menjadi ekstrem.
Apa sebenarnya cuaca ekstrem itu? Menurut keterangan, cuaca ekstrim merupakan fenomena cuaca yang mempunyai potensi menimbulkan bencana, menghancurkan tatanan kehidupan sosial, atau yang menimbulkan korban jiwa manusia.
Ada pula pendapat bahwa cuaca ekstrem terpengaruh dari adanya pusat tekanan rendah. Bahkan terpengaruh karena Siklon tropis Cebile di Samudera Hindia dan Siklon Tropis Fehi di Samudera Pasifik.
Kini, yang terpenting bagaimana solusi cuaca ekstrem tidak merugikan masyarakat. Bila dikaji lebih jauh sesungguhnya apa yang dikatakan Allah telah mengingatkan kita bahwa kerusakan di bumi dan di langit akibat ulah manusia, dan manusia itu pula yang akan merasakan akibatnya.
Manusia yang menganggap dirinya sebagai makhluk paling perkasa harus bertanggungjawab terhadap terjadinya cuaca ekstrem. Sebab manusialah yang paling dominan merusak alam dengan melakukan penebangan tanpa aturan, serta pembakaran hutan dan lahan. Jadi cuaca ekstrem tidak terjadi begitu saja atau tiba-tiba tanpa proses sebelumnya.
Sekarang mari kita tata lingkungan hidup agar kita dapat meraih manfaat dari alam ini. Bila tempat tinggal tidak memiliki lahan pekarangan, usahakan tetap menanam pohon dengan mempergunakan pot. Tanaman bisa disusun pada dinding rumah yang terkena sinar matahari. Hal itu bermanfaat bagi tanaman dan dinding rumah karena bisa menyerap suhu panas sehingga penghuni rumah tidak kegerahan.
Hanya ini yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk menghadapi cuaca ekstrem. Solusi untuk jangka pendek menjadi penting dalam mengurangi dampak negatif cuaca ektrem
(Penulis adalah tenaga pendidik, pemerhati sosial dan alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara)











