Arsitektur Simbolisme Pelabuhan Teluk Nibung

arsitektur-simbolisme-pelabuhan-teluk-nibung

Oleh: Syafitri Tambunan

MENUNGGU di pelabuhan tidak lagi terasa jenuh bahkan akan berubah menjadi antusias jika mendapati sebuah tempat yang unik. Keunikan pelabuhan terletak pada konsep arsitekturnya yang tidak biasa. Begitulah dengan Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai.

Dengan desain baru, bangunan unik pelabuhan ini sudah dikerjakan sejak 5 tahun terakhir oleh sebuah BUMN, Pelindo 1. BUMN ini mengelola kepelabuhanan, di antaranya peti kemas, pemanduan kapal, terminal kargo, pergudangan, dan terminal penumpang. Sisi terminal penumpang inilah yang kemudian lebih serius digarap.

Pelindo 1 beroperasi di 4 provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau (Kepri). Di Sumut, ada 3 lokasi, yakni Belawan, Tanjungbalai, dan Sibolga. Di dua lokasi terakhir yang sedang dibenahi secara serius. Sebelumnya, setelah direnovasi pada 2015, Pelabuhan Bandar Deli Belawan juga menjadi pelabuhan terbaik se-Indonesia pada 2016. Ke depan, giliran Gunungsitoli yang dikelola.

"Kami berusaha memperbaiki layanan tersebut, salah satunya pembenahan fisik, tempat, dan perangkatnya. Artinya, fisik, sistem, juga regulasi, dan layanannya,” jelas Corporate Secretary, M Eriansyah terkait desain ikonik Pelabuhan Teluk Nibung.

Semua layanan terminal penumpang dibenahi selevel bandara. "Karpet, lampu yang terang, dan energi yang efisien karena mengan­dalkan pencahayaan matahari. Lalu, ditambah­kan konsep arsitektural yang milenial, modern, aman, nyaman, indah, dan ikonik diterap­kan di semua terminal Pelindo 1 di ke-4 provinsi itu," paparnya.

Desain baru pelabuhan ini memiliki ikon lokal, berbentuk kerang. Bentuknya yang unik dan pertama di Indonesia ini merupakan analogi kearifan lokal. Menyebut Tanjungbalai, orang langsung berpikir 'Kota Kerang'. Analogi ini diasosiasikan sebagai pertimbangan utama bahwa persepsi tentang Tanjungbalai itu ya kerang.

Dari sisi pelabuhan, konsepnya pun VIP dan luxuries. Ada foodcourt yang tidak terpisah dari terminal. Nantinya disiapkan kuliner khas lokal. Diharapkan bisa dinikmati semua masyarakat. Tidak hanya untuk turun-naik penumpang, tapi juga entry point semua lini.

Terminal penumpang seluas seluas 2.500 meter persegi ini, menjadi jalur pelayaran keluar-masuk kapal-kapal feri rute Teluk Nibung - Port Klang, Malaysia dan ke Hutan Melintang di Perak.  Terdiri dari dua lantai. Lantai 1 untuk area check in, kantor instansi vertikal seperti bea cukai, imigrasi kedatangan, ruang VIP, ruang karantina, serta kantor pela­yaran. Lantai 2 untuk ruang imigrasi kebe­rangkatan, ruang tunggu penumpang yang luas dan nyaman dilengkapi TV, AC, area coffee shop, dan musala.

Pelabuhan tersebut sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda, difungsikan sebagai pelabuhan umum atau perdagangan ekspor-impor. Cut Kusuma Pahlevi dan tim arsitek­turalnya tidak setengah-setengah mendesain. Terminal penumpang berlanggam arsitektur simbolisme ini bertema konteks local Tanjung­balai, yakni kerang. Ciri fisiknya, melengkung dan membentuk tiga perempat geo-spherical, terinspirasi bentuk cangkang kerang. Ciri-ciri lengkung inilah yang sengaja dipilih agar dapat menjadi ikon atau landmark Tanjungbalai sebagai Kota Kerang.

Keharusan bangunan publik, lanjutnya, hanya indah dan efisien, tapi juga aman dan terlihat kokoh. Hal itu disikapi dengan peng­gunaan hampir 90% material rangka pipa baja. Bentuk pipa baja melengkung sempurna juga sengaja diekspos agar menambah nilai estetik kesan kokoh dan efek psikologis pada interior pelabuhan.

Desainnya ramah penggunaan energi listrik. Konsep inilah yang mendasari pemilihan beberapa material agar menimalisir penggu­naan pencahayaan buatan dengan meman­faatkan pencahayaan alami untuk menunjang kegiatan operasional pelabuhan yang sebagian besar dilakukan siang hari. Yakni dengan pemilihan material kaca stopsol.

Penggunaan material itu pada fasad, dila­kukan agar radiasi panas yang masuk ke terminal dapat direduksi. Keterbukaan pencahayaan alami juga didapatkan dari kisi-kisi atap transparan yang didesain dengan bahan solid polycarbonate, yang juga dapat mereduksi ultra violet dari matahari. Namun pencahayaan alami tetap masuk ke dalam bangunan terminal.

Zona ruang yang nyaman dan teratur, erat kaitannya dengan keberhasilan sebuah bangunan publik. Arus flow yang baik antara penumpang masuk dan keluar, ruang tunggu yang nyaman sampai alur bagasi menjadi perhatian yang sangat detail.  Sedangkan untuk flow penumpang, dibagi atau di-split vertikal, lantai dasar difungsikan untuk kedatangan dan lantai 2 untuk fungsi Keberangkatan.

Desain seperti kerang bersusun dengan kaca-kaca besar bak kerang raksasa ini, akan me­nyam­but siapa saja yang datang. Desain bangunan publik yang bagus aman dan nyaman diharapkan membuat semua orang, terutama penumpang bahagia ketika berada di dalamnya. Juga dapat menjadi pelopor bangkitnya sarana publik yang berkualitas, meningkatkan pelayanan bangunan publik dan memerkaya arsitektur Indonesia.

Desain terbaru Pelabuhan Teluk Nibung yang sudah beroperasi sejak Oktober 2018 ini, renovasi terminal penumpangnya dimulai awal 2017 dan selesai pertengahan September 2018. Januari diharapkan pelabuhan berarsitektur simbolisme analogi kerang ini dapat dires­mikan.

()

Baca Juga

Rekomendasi