Ilustrasi (Analisadaily/freepik)
DIGITAL parenting adalah topik yang sangat menarik dan penting untuk dipahami semua orang terkhusus para orang tua. Pola mengasuh anak saat ini sangat berbeda dengan pola era sebelumnya dimana banyak tantangan dan peluang di Era Digitalisasi ini.
Digital parenting ini mengacu pada praktik orang tua dalam mengasuh dan membimbing anak-anak yang bertumbuh di Era Teknologi Digital. Untuk tetap mengoptimalkam peran dan tanggung jawab orangtua, sangat diperlukan pengetahuan orang tua tentang digital, baik dan buruknya penggunaan digital, pengawasan yang tepat dan sikap bijaksana mendampingi anak sehingga anak-anak terlindungi.
Anak adalah generasi penerus bangsa yang memiliki potensi dan peran strategis di dalam meneruskan cita-cita bangsa. Karena itu, digital parenting mengarah ke pemberian perlindungan terhadap anak di era digital. Anak-anak semakin terpapar dengan gadget dan berbagai platform online. Penggunaan gadget tak hanya oleh orang dewasa atau remaja, akan tetapi anak-anak di tingkat sekolah dasar hingga balita pun sudah menggunakan smartphone.
Di Indonesia, pada tahun 2022 Sebanyak 33,4% anak usia dini berusia 0-6 tahun sudah bisa menggunakan ponsel dan sebanyak 24,9% sudah mampu mengakses internet seperti instagram, youtube, dan tiktok. Anak dan remaja menempati posisi ketiga pengguna internet terbanyak.
Kehadiran pandemi Covid-19 di akhir tahun 2019 telah mempercepat penyebaran penggunaan gadget. Pembatasan sosial yang membuat setiap orang melakukan aktivitas di rumah membuat penggunaan gadget meningkat. Pemberlakukan pembelajaran dari rumah membuat penggunaan gadget dan berbagai platform digital semakin massif.
Revolusi Industry 4.0 juga memicu semakin maraknya penggunaan digital. Kondisi inilah membuat terjadinya pergeseran paradigma (
shift paradigm) mulai dari pertemanan, kontak sosial, pembelajaran, mencari penghasilan dan ilmupengetahuandidapatkandarigadget.
Penggunaan gadget berdampak positif terhadap pertumbuhan anak-anak. Banyak gadget menawarkan aplikasi, permainan, dan konten interaktif yang dapat meningkatkan pengalaman belajar anak-anak. Beberapa gadget mendorong kreativitas dan imajinasi. Fitur-fitur interaktif di gadget melibatkan anak-anak secara aktif dalam proses belajar, pendidikan menjadi lebih menyenangkan dan efektif. Gadget dapat memperkenalkan anak-anak pada budaya yang beragam melalui konten interaktif, membantu mereka mengembangkan perspektif yang lebih luas, membantu anak menjadi lebih memahami literasi dalam teknologi. Gadget dengan akses internet memungkinkan anak-anak menjelajahi banyak informasi, yang dapat mendukung rasa ingin tahu mereka dan memperluas pengetahuan mereka tentang berbaga isu bjek.
Namun gadget juga memiliki efek samping kepada anak-anak. Penggunaan gadget secara berlebihan, terutama smartphone dan tablet, dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik seperti ketegangan mata, sakit kepala, dan nyeri leher akibat postur yang buruk saat menggunakannya.
Penggunaan gadget yang berlebihan, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu pola tidur. Menghabiskan terlalu banyak waktu di gadget dapat mengurangi interaksi tatap muka dengan keluarga dan teman, menyebabkan isolasi sosial dan kesulitan dalam membangun hubungan yang bermakna. Anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di gadget mungkin kurang aktif secara fisik, menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas dan gaya hidup kurang aktif.
Menurut laporan dari Digital Quotient Institute (2020), anak-anak menghadapi berbagai risiko yang ada di dunia digital ketika mengakses dunia digital, yang disebut
cyber-pandemic. Resiko-resikonya antara lain perundungan siber (45%), rusaknya nama baik (39%), terpapar muatan seksual dan kekerasan (29%), ancaman siber (28%), menjalin interaksi yang tidak aman dengan orang lain (17%), gangguan gaming (13%), dan gangguan media sosial (7%).
Paparan konten yang tidak pantas dan membuat kecanduan seperti kekerasan, pornografi, horor dan bully, sangat berdampak negatif bagi cara berfikir, mental, gaya hidup, perilaku, dan tingkat emosional anak.
Tindakan yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk mengatasi kecanduan gadget adalah orang tua harus sebagai teladan (
role model) dalam penggunaan gadget. Orang tua sebaiknya meluangkan waktu untuk berkomunikasi kepada anak-anak. Orang tua harus tegas dan konsisten menerapkan jam penggunaan gadget. Batasi waktu bermain gadget, sebaiknya beraktivitas di luar rumah seperti olahraga (berenang, berjalan kaki, main bola, tennis, dsb), mengunjungi tempat wisata, kebun binatang, dsb.
Orang tua perlu
updrage ilmu pengetahuan dalam memanfaatkan fitur aman untuk anak seperti menginstal
youtube kids dan mendownload google family link untuk mengontrol konten yang dilihat anak dan membatasi waktu penggunaan gadget (dapat di lihat di youtube tutorial),
(7) Cara Menggunakan Google Family Link - Tutorial Terbaru - YouTube. Orang tua juga dapat mengontrol aktivitas handphone anak dari jauh dengan aplikasi Parental Control.Temukan dan instal Aplikasi Parental dariplaystore,dimanatutorialnyaada di youtube (
(7) Cara MengontrolAktivitas Handphone Anak Dari Jauh II Remotely Control Children's Mobile Activities - YouTube).
Orang tua sangat perlu memperkenalkan anak-anak sejak di usia dini dalam penggunaan teknologi secara bertanggung jawab dan aman sejak dini. Orang tua perlu mengaktifkan mode anak di HP dan menegaskan waktu penggunaan gadget. Semakin muda usia anak, maka penggunaan hp diminimalisir. Orang tua juga harus rajin memonitor konten yang dilihat anak dan menginformasikan konten yang perlu dilihat dan tidak perlu dilihat. Akan tetapi jauh lebih baik jika orang tua memperkenalkan anak dunia nyata dengan segudang pengalaman dalam aktivitas keseharian sehingga mampu secara signifikan menstimulasi kognitif anak daripada terpaku ke layar gadget karena di dunia maya itu bisa jadi dimanipulasi.
Pemerintah diharapkan mengeluarkan kebijakan yang tegas kepada anak-anak dalam penggunaan digital agar generasi bangsa ini mampu bertumbuh optimal. Disarankan kepada pemerintah untuk memberikan aturan yang jelas penggunaan gadget maksimal di setiap usia anak, mengaktifkan Lembaga sensor nasional agar memblokir setiap konten yang tidak etis dan memberikan sanksi tegas kepada setiap orang yang mengupload konten yang tidak mendidik.
Informasi lebih lengkap tentang Digital Parenting dapat dilihat dari media sosial PIKI SUMUT.
Penulis: Prof. Dr. Elisabet Siahaan, Rika Eliana, M.Psi, Psikolog, Lenny Fytrya Sihombing, S.S, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia.(BR)