DPRD SU : Segera Tindak Bawang Merah Import Ilegal di Sumut (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - DPRD Sumut melalui Komisi B meminta lintas Instansi bergerak cepat menghempang maraknya bawang merah impor ilegal di Sumut khususnya di sejumlah pasar di Kota Medan dan Deliserdang.
Instansi terkait antara lain Dinas Perindustrian Perdagangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provsu, Kanwil Bea Cukai Sumut, Balai Karantina Tumbuhan dan Poldasu.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut Frans Dante Ginting melalui telepon, Minggu (19/04/2026) siang kepada sejumlah wartawan di Medan.
Disebutkannya informasi dan sejumlah foto-foto dari Sutra Sembiring selaku pimpinan Aliansi Petani Bawang Sumatera Utara dan Paulus Sitepu selaku petani bawang merah yang juga agen bawang merah lokal, belum terlihat tanda tanda bawang merah impor ilegal tersebut berkurang peredarannya.
Padahal, masalah ini sudah menjadi pembicaraan dan perhatian berbagai pihak atas maraknya peredaran bawang ilegal tersebut.
"Sutra dan Paulus mengaku bawang merah impor ilegal semakin banyak beredar di sejumlah pasar di Medan dan Deliserdang," ungkapnya.
Menyikapi hal tersebut, Dante berharap lintas instansi bergerak cepat guna memotong mata rantai peredaran bawang merah impor ilegal tersebut untuk mencegah kerugian bagi petani bawang merah Sumatera Utara.
Seperti disampaikan para petani dalam RDP di DPRD Sumut pada, Kamis (16/04) lalu, prediksi mereka dan seperti biasanya pada tahun-tahun sebelumnya pada medio sekarang harga bawang merah lokal (Sumut) berkisar Rp32 ribu hingga Rp45 ribu/Kg.
Namun sejak beredarnya bawang merah impor ilegal itu, harga bawang merah lokal hanya Rp25 ribu/kg, itu pun penjualannya macet (tidak lancar). Sementara harga bawang merah impor ilegal di pasaran dijual hanya Rp18 ribu/kg bahkan pasar pasar lain dijual Rp13 ribu/kg.
Dengan harga demikian sangat memukul pendapatan petani bawang merah lokal (Sumut). Mereka menyebut kerugian akan dialami petani lokal karena perawatan bawang merah ini menelan banyak modal produksinya.
(NAI/NAI)











