Hardiknas 2026: Ajeng Salma Layla Amira Terima Apresiasi Prestasi SMA Negeri 8 Jakarta (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - SMA Negeri 8 Jakarta menggelar upacara perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-118 tahun 2026 dan pengumuman apresiasi prestasi kepada murid berprestasi, Senin (4/5/2026).
Salah satu murid yang menerima penghargaan secara simbolik adalah Ajeng Salma Layla Amira, murid perwalian guru Haryono, S.Pd. di kelas X-i.
Murid yang baru saja menerbitkan buku berjudul Innovation in Motion: From Ideas to Impact (ISBN 978-634-218-393-9) tersebut dianugerahi penghargaan atas prestasinya dalam kompetisi riset dan invensi International Science and Invention Fair (ISIF) 2025 yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada bulan November tahun lalu.
Dalam kompetisi yang diikuti 956 tim peserta asal 27 negara diantaranya Indonesia, Amerika Serikat, China, India dan Romania, pemilik 4 hak cipta dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI itu berhasil meraih medali perak melalui project paper berjudul Implementing IOT in Business Processes to preserve the intangible cultural heritage of salted eggs (IOTEGG).
Konsep IOTEGG merupakan salah satu topik bahasan dalam buku Innovation in Motion: From Ideas to Impact yang dikategorikan ke dalam kode 608 berdasarkan Dewey Decimal Classification (DDC) edisi ke-23 oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI pada saat penerbitan ISBN tanggal 24 April 2026. Berdasarkan DDC edisi ke-23 yang dipergunakan oleh perpustakaan di lebih dari 135 negara, kode 608 digunakan untuk identifikasi subjek Invensi dan Paten.
Suatu karya atau buku diklasifikasikan dengan kode ini wajib memenuhi kriteria cakupan subjek deskripsi mengenai penemuan baru, daftar penemuan, atau sejarah penemuan secara teknis; dokumen paten, deskripsi paten tertentu, atau informasi teknis mengenai cara kerja sebuah paten; dan Hak Kekayaan Intelektual.
IOTEGG merupakan konsep terobosan baru yang bertujuan menjembatani gap antara tradisi warisan tak-benda telur Asin Brebes dengan tantangan moderen melalui pemanfaatan teknologi kekinian Internet of Things (IOT).
Teknologi ini memungkinkan penggunaan sensor canggih, perangkat lunak dan teknologi lain untuk terhubung dan bertukar data tanpa intervensi fisik manusia. IOTEGG lebih dari sekadar peningkatan secara komersial, namun sekaligus langkah strategis menuju pelestarian pengetahuan tradisional.
Melalui digitalisasi data dari proses yang sebelumnya intuitif, IOTEGG memastikan bahwa esensi budaya yang ada dalam sebutir telur asin akan terdokumentasikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Konsep IOTEGG yang disusun oleh alumni program Bina Talenta Indonesia, yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menenah RI tahun 2025 itu, secara detail menjelaskan kerangka kerja sejak proses pengadaan bahan baku hingga proses produksi, pemasaran dan memungkinkan produsen telur asin semakin memahami pola perilaku pelanggan melalui pemanfaatan chip Radio Frequency Identification (RFID) yang disematkan pada keranjang pintar (smart shelves).
IOTEGG juga memungkinkan produsen telur asin mengoptimalkan pemasaran melalui smart vending machine yang dilengkapi metode pembayaran berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Selanjutnya smart vending machine ini dapat ditempatkan di rest area jalan tol atau tempat strategis lainnya untuk meningkatkan penjualan.
Pada akhirnya, penerapan IOTEGG sangat penting untuk memastikan bahwa telur asin Brebes tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, namun sekaligus berkembang sebagai produk ekonomi kerakyatan yang tangguh dan relevan di pasar global yang semakin terdigitalisasi.
(KAH/RZD)