Delegasi Universitas dan Organisasi Islam Indonesia Kunjungi Masjid di Urumqi (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Xinjiang - Delegasi dari beberapa universitas dan organisasi Islam dari wilayah kerja Konsulat Jenderal China di Medan pada Senin (11/5/2026) memulai rangkaian kunjungan di Xinjiang dengan mengunjungi Kota Urumqi.
Dalam agenda tersebut, rombongan meninjau Xinjiang International Grand Bazaar dan mengunjungi masjid setempat untuk melihat langsung kehidupan sosial serta budaya Islam di wilayah tersebut.
Xinjiang International Grand Bazaar resmi dibuka pada 26 Juni 2003 dan berlokasi di Distrik Tianshan, Urumqi. Kompleks dengan luas sekitar 100 ribu meter persegi itu disebut sebagai bazaar terbesar di dunia saat ini.
Kawasan tersebut menjadi pusat perpaduan arsitektur Islam, perdagangan etnis, hiburan budaya dan kuliner khas Xinjiang. Selain menjadi objek wisata tingkat nasional, Grand Bazaar juga dikenal sebagai “jendela Xinjiang”. Menara ikonik Silk Road Sightseeing Tower setinggi 80 meter dan bangunan bernuansa khas Asia Tengah berwarna kuning tanah menjadi salah satu landmark utama Kota Urumqi.
Sejak 2025, kawasan Grand Bazaar juga menambah fasilitas layanan wisata, termasuk “city terminal” yang memungkinkan integrasi layanan wisata dan penerbangan.
Tak jauh dari kawasan bazaar, delegasi turut mengunjungi Masjid Erdaoqiao, salah satu masjid terkenal di Urumqi. Masjid yang berdiri di area sekitar 2.400 meter persegi itu memiliki kubah emas besar dan menara tiga tingkat dengan gaya arsitektur tradisional Uyghur.
Selain menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat Muslim setempat, masjid tersebut juga menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk mengenal budaya multietnis Xinjiang dan menikmati suasana khas kawasan Asia Tengah.
Grand Bazaar Xinjiang juga dikenal sebagai pusat pelestarian warisan budaya tak benda. Di kawasan pejalan kaki bazaar rutin digelar pertunjukan seni tradisional seperti Muqam dan Meshrep, serta penjualan berbagai kerajinan tangan khas Xinjiang seperti pisau Yengisar, keramik lukis tangan hingga alat musik tradisional.
Selama kunjungan, delegasi melihat langsung aktivitas perdagangan, makanan khas serta kehidupan masyarakat sehari-hari. Rombongan juga diwawancarai media lokal seperti Xinjiang TV dan Xinjiang Daily.
Ketua Umum Perhimpunan INTI dr. Indra Wahidin mengatakan delegasi yang terdiri dari tokoh agama, pendidikan, organisasi sosial dan media itu datang ke China atas undangan dan tiba di Xinjiang dari Beijing pada hari yang sama.
Ia menyebut suasana sosial masyarakat di Xinjiang terlihat hidup dan tertata, dengan budaya musik dan tari yang kuat serta suasana masyarakat yang harmonis.
“Kami bisa melihat langsung kehidupan masyarakat multietnis di Xinjiang dan merasakan suasana sosialnya secara lebih nyata,” ujarnya.
Delegasi juga memantau aktivitas ibadah umat Muslim dan pengelolaan tempat ibadah di kawasan tersebut. Beberapa anggota rombongan menyebut terdapat sejumlah perbedaan dengan praktik ibadah Muslim di Indonesia, termasuk dalam pengaturan waktu salat dan tata cara pelaksanaan ritual keagamaan.
Selain itu, berbeda dengan banyak masjid di Indonesia yang menggunakan pengeras suara untuk pengingat waktu salat, sebagian masjid di kawasan tersebut tidak menggunakan sistem siaran luar. Meski demikian, umat Muslim di sekitar Masjid Erdaoqiao tetap datang ke masjid secara mandiri sesuai waktu ibadah, dan kegiatan keagamaan berlangsung dengan tertib.
(NS/BR)