Horja Bius di Pusuk Buhit : Bukan Penyembahan, Melainkan Pelestarian Warisan Leluhur (Analisadaily/Tetty Naibaho)
Analisadaily.com, Samosir - Pelaksanaan ritual budaya Horja Bius “Pasahat Horbo Lae-Lae Tu Dolok Pusuk Buhit” di Kecamatan Sianjur Mula-Mula kembali menegaskan komitmen masyarakat adat dan Pemerintah Kabupaten Samosir dalam menjaga warisan budaya Batak yang telah diwariskan turun-temurun. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Horas Samosir Fiesta (HSF) 2026 dan digelar sebagai bentuk syukur atas berkat serta hasil alam yang diterima masyarakat.
“Acara ini kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala penyertaan dan berkat yang diberikan kepada manusia. Hari ini kita menggali kembali budaya yang hampir tidak lagi dilaksanakan,” ujar Pantas dalam keterangannya saat kegiatan berlangsung, Jumat (29/5/2026)
Menurutnya, pelestarian budaya tersebut juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendorong daerah untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya lokal.
Pantas menjelaskan, Kabupaten Samosir memiliki sekitar 25 Raja Bius yang masih aktif. Melalui komunikasi dan musyawarah bersama para Raja Bius, Lembaga Adat berupaya menghidupkan kembali berbagai tradisi leluhur tanpa mengubah keyakinan maupun agama masyarakat.
“Kami dari lembaga adat bukan berarti mengembalikan keyakinan nenek moyang. Yang kami lakukan adalah melestarikan budaya yang diwariskan leluhur sebagai identitas dan kekayaan masyarakat Batak,” katanya.
Ia menyebut, ritual Horja Bius yang digelar di Pusuk Buhit merupakan keputusan Raja Bius Sipitu Tali Limbong dan Raja Bius Siopat Ampang Sagala Raja, bukan keputusan pemerintah daerah maupun Lembaga Adat semata. Sebelum pelaksanaan, telah dilakukan empat kali rapat bersama para Raja Bius untuk menyepakati rangkaian kegiatan tersebut.
Dalam penjelasannya, Pantas juga menguraikan filosofi kerbau yang menjadi bagian penting dalam ritual “Pasahat Horbo”. Menurutnya, kerbau merupakan simbol persembahan yang sangat berharga sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Kerbau adalah lambang persembahan yang bernilai tinggi. Melalui ritual ini, masyarakat menyampaikan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta atas segala berkat yang diterima,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai pelestarian budaya dapat menjadi kekuatan besar bagi sektor pariwisata Samosir. Menurutnya, wisatawan, termasuk mancanegara, memiliki ketertarikan tinggi terhadap budaya yang unik dan berbeda.
“Kegiatan seperti ini adalah wisata yang tidak terlihat secara fisik, tetapi memiliki nilai besar. Bali bisa berkembang karena mampu menjaga budayanya. Samosir juga memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan harus terus digali,” katanya.
Pantas menambahkan, setiap event nasional maupun internasional yang digelar di Samosir sebaiknya diawali dengan menampilkan kearifan lokal sebagai identitas daerah. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga situs budaya, ritus adat, serta kekayaan alam sebagai warisan yang tak ternilai.
“Warisan Batak bukan hanya hasil tambang, tetapi ritus, situs budaya dan alam yang harus kita jaga bersama. Dari sini kita menunjukkan bahwa Samosir kaya akan budaya,” ungkapnya. Ia berharap generasi muda ikut mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya Batak di masa mendatang. “Ke depan generasi muda bersama lembaga adat harus menjadi penerus yang menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman,” tuturnya.
Pelaksanaan Horja Bius “Pasahat Horbo Lae-Lae Tu Dolok Pusuk Buhit” sendiri merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya Batak yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Samosir melalui berbagai event budaya dan pariwisata. Selain menjadi sarana menjaga tradisi leluhur, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya serta meningkatkan daya tarik wisata di kawasan Sianjur Mula-Mula dan Pusuk Buhit. (TN)(WITA)











